- PT Bank Tabungan Negara Tbk mencatat laba bersih Rp1,3 triliun pada kuartal II 2026, meningkat signifikan dibandingkan periode sebelumnya.
- Peningkatan laba tersebut dipicu oleh penurunan biaya pencadangan akibat perbaikan kualitas aset dan rasio kredit bermasalah perseroan.
- BRI Danareksa Sekuritas menetapkan target harga saham BBTN sebesar Rp1.500 dengan mempertahankan rekomendasi beli bagi para investor.
Suara.com - Emiten Perbankan, PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) memiliki masa depan yang cerah. Bahkan harga sahamnya diproyeksi bisa melonjak hingga 19 persen.
BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi Buy untuk saham BBTN dengan target harga Rp1.500 per saham.
Pada hari ini, Saham BBTN diperdagangkan, masih berada di level Rp1.265 per saham, atau masih sama dibandingkan perdagangan kemarin. Namun, dalam sepekan Saham Himbara itu telah naik 6,30 persen atau 75 poin.
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Victor Stefano, mengatakan laba bersih BBTN pada kuartal II 2026 melampaui ekspektasi karena ditopang oleh penurunan biaya pencadangan yang lebih besar dari perkiraan.
"Kinerja laba bersih BBTN pada kuartal II 2026 melampaui ekspektasi kami terutama karena biaya pencadangan yang lebih rendah, didukung oleh perbaikan kualitas aset. Meski profit operasional sebelum pencadangan (PPOP) sesuai ekspektasi, penurunan CoC berhasil mendorong laba melampaui perkiraan," ujar Analis BRI Danareksa Sekuritas, Victor Stefano dalam risetnya yang dikutip, Selasa (21/7/2026).
Pada kuartal II 2026, BBTN membukukan laba bersih sebesar Rp1,3 triliun, naik 17 persen secara kuartalan (qoq) dan 61 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu (yoy).
Dengan demikian, laba bersih semester I 2026 mencapai Rp2,4 triliun, meningkat 41 persen secara tahunan. Realisasi tersebut telah mencapai 68 persen dari proyeksi laba BRI Danareksa Sekuritas untuk sepanjang 2026 dan 64 persen dari konsensus pasar.
Menurut Victor, pencapaian tersebut terutama didorong oleh penurunan signifikan biaya pencadangan. Beban provisi turun 33 persen secara kuartalan dan 79 persen secara tahunan, sehingga CoC menyusut menjadi 1,1 persen.
"Perbaikan kualitas aset terus menopang profitabilitas. Penurunan biaya pencadangan terjadi seiring membaiknya rasio kredit bermasalah (NPL) menjadi 3,0 persen dan Loan at Risk (LaR) turun menjadi 18,6 persen, sementara rasio pencadangan terhadap NPL tetap terjaga di level 122 persen," katanya.
Baca Juga: Saham Konglomerat Kompak Naik, IHSG Betah di Level 6.300
Meski demikian, BRI Danareksa Sekuritas mencatat profit operasional sebelum pencadangan (PPOP) masih tertekan akibat penurunan margin bunga bersih (Net Interest Margin/NIM). PPOP pada kuartal II 2026 turun menjadi Rp2,1 triliun, dipengaruhi oleh NIM yang melemah serta kenaikan beban operasional.
Di sisi lain, kualitas aset diperkirakan masih akan membaik hingga akhir tahun. Manajemen BBTN menargetkan rasio NPL turun ke kisaran 2,8–2,9 persen, sedangkan CoC diproyeksikan berada di batas bawah panduan 1,0–1,2 persen. Perbaikan tersebut didukung oleh peningkatan efektivitas penagihan, potensi penjualan kredit bermasalah (NPL sales), serta peningkatan proses pemulihan melalui digitalisasi.
Meski laba melampaui ekspektasi, BRI Danareksa Sekuritas memilih tidak mengubah proyeksi kinerja BBTN sepanjang 2026. Hal ini karena terdapat potensi kenaikan CoC pada semester II 2026 yang dapat membatasi pertumbuhan laba.
"Kami mempertahankan proyeksi kinerja karena masih terdapat potensi kenaikan biaya pencadangan pada semester II 2026. Oleh karena itu, kami tetap mempertahankan rekomendasi Buy dengan target harga Rp1.500. Dalam jangka pendek, kami menilai tren kualitas aset masih tetap solid," ujar Victor Stefano, BRI Danareksa Sekuritas Analysts.
Dalam valuasinya, BRI Danareksa Sekuritas menggunakan metode Gordon Growth Model (GGM) dengan biaya modal (cost of equity) sebesar 14,9 persen dan proyeksi ROE 9,4 persen untuk 2026.
Pendekatan tersebut menghasilkan valuasi Price to Book Value (PBV) sebesar 0,5 kali dan target harga Rp1.500 per saham. Sementara itu, risiko utama yang perlu diperhatikan investor adalah potensi kenaikan biaya dana (cost of fund/CoF).
Disclaimer: Artikel ini merupakan informasi pasar dan bukan merupakan ajakan atau rekomendasi untuk membeli maupun menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing investor.
Berita Terkait
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- Perbedaan Eau De Parfum dan Eau De Toilette, Mana yang Sesuai Kebutuhanmu?
- 3 HP Murah dengan Kamera Underwater Rp2 Jutaan, Cocok Buat Foto dan Video dalam Air
Pilihan
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
-
Menteri PU Dody Hanggodo Bakal Dicopot Agustus? 'Prabowo Tak Suka Menteri yang Bikin Gaduh'
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
Terkini
-
Jangan Ragu Sama BBTN, Cuannya Tebel Saham Bisa Melenggang ke Rp1.500
-
5 Kota di Jepang yang Cocok untuk Perjalanan Pertama
-
Family Treasure Hunt 2026: Berburu Harta Karun Bersama Keluarga
-
Disuruh Cari Negara Lain, WNI Malah 'Dipajaki' Saat Hendak Pergi
-
Bursa Saham London Bakal Diperdagangkan 24 Jam Pada 2027
-
Atap Kelas Ambruk, Siswa SD di Grobogan Terpaksa Belajar Bergantian
-
Kasus Bom MAN 3 Padang, KemenPPPA Sebut Ada Indikasi Paparan Paham Radikal
-
Tarif Lepas WNI Naik, Negara Cuma Kejar PNBP tapi Lupa Jaga Anak Bangsa?
-
Operasi Nasr 2 ke-24 Iran, IRGC Berhasil Bom Tentara AS di Yordania
-
Bukan Cuma Biaya Politik, Saan Mustopa Sebut 17 OTT Kepala Daerah Akibat Haus Harta