Bisnis / Makro
Jum'at, 31 Juli 2026 | 13:58 WIB
Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arief. [Suara.com/Fakhri Fuadi Muflih]
Baca 10 detik
  • Kemenperin menyatakan industri manufaktur menahan produk jadi di gudang meskipun produksi serta pesanan meningkat pada Juli 2026.
  • Pelaku industri menerapkan strategi wait and see sambil menunggu kepastian kebijakan pemerintah serta perkembangan indikator makroekonomi nasional.
  • Kemenperin menilai kestabilan nilai tukar rupiah saat ini telah membantu industri dalam menyusun perencanaan bisnis dan rantai pasok.

Suara.com - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengungkapkan pelaku industri manufaktur masih memilih menahan produk jadi di gudang meski pesanan baru dan produksi meningkat pada Juli 2026. 

Langkah tersebut dilakukan sebagai bentuk kehati-hatian sambil menunggu kepastian kondisi ekonomi dan sejumlah kebijakan pemerintah.

Juru Bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arif, mengatakan komponen persediaan dalam Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Juli 2026 turun 0,54 poin menjadi 49,18 atau berada pada fase kontraksi.

"Hasil produksi banyak yang ditahan di gudang. Ini tentu akan memicu pertanyaan, bagaimana bisa terjadi produk manufaktur ditahan di gudang sementara industri menilai permintaan meningkat dan produksi meningkat," kata Febri kepada wartawan, Jumat (31/7/2026).

Menurut dia, kondisi tersebut terjadi karena sejumlah pelaku industri masih menerapkan strategi wait and see terhadap perkembangan indikator makroekonomi nasional serta arah kebijakan pemerintah.

Febri mencontohkan, industri petrokimia masih menunggu implementasi kebijakan penurunan bea masuk bahan baku yang diatur melalui Peraturan Menteri Keuangan. Kebijakan tersebut dinilai akan memengaruhi struktur biaya produksi industri.

ilustrasi gudang (pixabay.com/icondigital)

Selain itu, beberapa subsektor juga masih menunggu kepastian pemberian insentif pemerintah dan perkembangan suku bunga acuan Bank Indonesia sebelum meningkatkan penjualan produk yang telah diproduksi.

"Kami sampaikan penjelasannya, industri memang menilai permintaan meningkat, produksi juga terus mereka genjot, tetapi mereka menahan produk di gudang karena masih wait and see terhadap indikator makroekonomi Indonesia dan beberapa kebijakan pemerintah," ujarnya.

Meski demikian, Kemenperin menilai kondisi nilai tukar rupiah yang mulai stabil telah memberikan kepastian lebih baik bagi pelaku industri dalam menyusun rencana bisnis dan mengelola rantai pasok.

Baca Juga: Transformasi Industri Butuh SDM Siap Pakai, Sharp Perluas Program Sharp Class

"Industri menyatakan nilai tukar rupiah saat ini sudah cukup stabil dan itu sudah cukup bagi mereka untuk membuat perencanaan serta berkoordinasi dengan rantai pasok mereka di hulu," kata Febri.

Load More