Bisnis / Keuangan
Senin, 03 Agustus 2026 | 11:51 WIB
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono. Foto Fakhri-Suara.com
Baca 10 detik
  • Harga pangan turun, Indonesia deflasi 0,14% pada Juli 2026.
  • Bawang, cabai, telur, dan tomat jadi penyumbang utama deflasi.
  • BBM dan biaya sekolah masih menahan laju penurunan inflasi.

Suara.com - Indonesia kembali mengalami deflasi pada Juli 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indeks Harga Konsumen (IHK) turun 0,14 persen secara bulanan (month to month/mtm), terutama akibat anjloknya harga sejumlah komoditas pangan seperti bawang merah, cabai, hingga telur ayam ras.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan, deflasi Juli terutama dipicu oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami deflasi sebesar 0,89 persen dengan andil terhadap deflasi nasional mencapai 0,26 persen.

"Beberapa komoditas yang menyumbang deflasi pada kelompok makanan, minuman dan tembakau adalah bawang merah, cabai merah, cabai rawit, telur ayam ras, dan tomat dengan andil deflasi masing-masing sebesar 0,11 persen, 0,06 persen, 0,06 persen, 0,03 persen, dan 0,03 persen," ujar Ateng dalam konferensi pers di Kantor BPS, Jakarta, Senin (3/8/2026).

Penurunan harga pangan tersebut membuat Indeks Harga Konsumen (IHK) turun dari 111,89 pada Juni 2026 menjadi 111,73 pada Juli 2026.

Secara komponen pembentuk inflasi, sumber utama deflasi berasal dari kelompok harga bergejolak (volatile food). Komponen ini mengalami deflasi sebesar 1,68 persen dan memberikan andil deflasi sebesar 0,28 persen.

Ateng menjelaskan, selain bawang merah, cabai merah, cabai rawit, telur ayam ras, dan tomat, komoditas lain seperti jeruk, semangka, dan sawi hijau juga ikut menekan inflasi pada Juli.

Di tengah turunnya harga pangan, tekanan inflasi masih muncul dari sejumlah kelompok pengeluaran. Kelompok pendidikan mencatat inflasi sebesar 0,55 persen dengan andil 0,03 persen, dipicu dimulainya tahun ajaran baru.

"Kelompok pendidikan juga mengalami inflasi sebesar 0,55 persen dan memberikan andil inflasi sebesar 0,03 persen. Komoditas yang dominan mendorong inflasi pada kelompok pendidikan terutama biaya sekolah SD, biaya sekolah taman kanak-kanak, dan juga biaya bimbingan belajar," kata Ateng.

Kelompok transportasi juga masih mencatat inflasi dengan andil sebesar 0,06 persen sehingga menahan deflasi agar tidak lebih dalam.

Baca Juga: Daya Beli Masyarakat Rontok, RI Alami Deflasi 0,14 Persen

Sementara itu, komponen inti tetap mengalami inflasi sebesar 0,14 persen dengan andil 0,09 persen. Kenaikan harga dipengaruhi oleh biaya sekolah dasar, sepeda motor, pelumas atau oli mesin, biaya taman kanak-kanak, telepon seluler, serta biaya bimbingan belajar.

Adapun komponen harga yang diatur pemerintah (administered prices) mengalami inflasi sebesar 0,25 persen dengan andil 0,05 persen. Bensin menjadi komoditas yang paling besar mendorong kenaikan harga pada kelompok tersebut.

"Sedangkan komponen harga yang diatur pemerintah mengalami inflasi sebesar 0,25 persen. Komponen ini memberikan andil inflasi sebesar 0,05 persen. Adapun komoditas yang dominan memberikan andil inflasi yaitu bensin," ujar Ateng.

Secara wilayah, BPS mencatat mayoritas provinsi mengalami deflasi. Sebanyak 27 dari 38 provinsi mencatat penurunan harga, sementara 11 provinsi lainnya masih mengalami inflasi.

Inflasi bulanan tertinggi terjadi di Kalimantan Barat sebesar 0,38 persen. Sebaliknya, Papua Pegunungan menjadi provinsi dengan deflasi terdalam, yakni mencapai 1,37 persen.

Load More