- PT Jasa Marga mengubah paradigma bisnis menjadi pembangun budaya perjalanan untuk meningkatkan kualitas layanan jalan tol pada Selasa, 1 September 2026.
- Perusahaan menerapkan tiga aspek utama melalui preservasi jalan, pengembangan rest area modern, serta penguatan ekosistem informasi dan layanan digital.
- Hingga akhir Juni 2026, Jasa Marga mengoperasikan 1.294 kilometer jalan tol guna memperluas konektivitas dan mendorong aktivitas ekonomi.
Suara.com - PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR) mulai menggeser paradigma bisnisnya. Perusahaan tak lagi hanya berfokus sebagai penyedia infrastruktur jalan tol, tetapi mulai membangun pengalaman perjalanan bagi pengguna.
Transformasi tersebut dilakukan seiring dengan semakin luasnya jaringan jalan tol yang dikelola Jasa Marga. Perusahaan melihat konektivitas fisik perlu diimbangi dengan peningkatan kualitas layanan agar perjalanan pengguna menjadi lebih aman, nyaman, dan berkesan.
Direktur Utama Jasa Marga Rivan A. Purwantono mengatakan perubahan paradigma tersebut menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam menghadirkan standar layanan baru bagi pengguna jalan tol.
"Kami menggeser paradigma dari sekadar penyedia infrastruktur (infra as structure) menjadi pembangun budaya perjalanan yang berkesan (infra as culture) dengan menghadirkan pengalaman perjalanan yang lebih baik, yaitu melalui penguatan layanan preservasi untuk menjaga kualitas dan keselamatan jalan (protect the journey), peningkatan layanan rest area sebagai titik destinasi yang mendukung kenyamanan pengguna selama perjalanan (support the journey), serta penguatan layanan informasi yang memastikan informasi perjalanan tersedia secara tepat dan mudah diakses (inform the journey)," ujar Rivan di Jakarta, Selasa (1/9/2026).
Transformasi tersebut diterapkan melalui tiga aspek utama, yakni preservasi jalan, pengembangan rest area, serta penguatan ekosistem informasi dan layanan digital.
Pada sisi preservasi, Jasa Marga memperkuat sistem pemeliharaan jalan dengan memanfaatkan teknologi presisi tinggi. Salah satunya melalui armada inspeksi Hawkeye dan sistem pemantauan serta pelaporan digital TROOPS (Tollroad Real Time Operation Oversight Performance System).
Teknologi tersebut memungkinkan perusahaan mengidentifikasi kondisi perkerasan jalan secara lebih dini. Dengan begitu, penanganan dan perbaikan dapat dilakukan lebih cepat dan terstandar, sekaligus meminimalkan gangguan terhadap kenyamanan pengguna jalan.
Transformasi juga menyasar rest area. Jasa Marga mulai mengembangkan sejumlah showcase rest area dengan melakukan penataan kawasan, rejuvenasi fasilitas, penguatan UMKM, hingga penambahan SPKLU untuk mendukung perkembangan kendaraan listrik atau electric vehicle (EV).
Selain itu, perusahaan menerapkan pengelolaan sampah terpadu dan green corridor. Langkah tersebut diarahkan untuk mengubah fungsi rest area dari sekadar transit area menjadi destination area yang modern, humanis, dan nyaman.
Dengan konsep tersebut, rest area tidak hanya menjadi tempat pengguna beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan, tetapi juga diharapkan memberikan nilai tambah sosial dan ekonomi melalui aktivitas UMKM serta berbagai fasilitas pendukung.
Di sisi lain, Jasa Marga memperkuat pengalaman perjalanan melalui integrasi layanan informasi secara digital.
Perusahaan mengoptimalkan Jasamarga Tollroad Command Center sebagai pusat integrasi data lalu lintas dan kondisi jalan secara real-time.
Informasi tersebut kemudian terhubung dengan pengguna melalui aplikasi Travoy, siaran Travoy FM, serta papan Dynamic Message Sign (DMS) yang berada di sepanjang jalan tol.
Melalui ekosistem tersebut, pengguna dapat memperoleh informasi mengenai estimasi waktu tempuh, rute alternatif, hingga akses terhadap bantuan darurat di jalan tol secara lebih cepat dan tepat.
Transformasi layanan tersebut menjadi semakin penting di tengah ekspansi jaringan jalan tol Jasa Marga. Hingga akhir Juni 2026, perusahaan memiliki total konsesi sepanjang 1.736 kilometer dan telah mengoperasikan 1.294 kilometer jalan tol.