- IHSG ditutup melemah 0,25 persen akibat aksi jual bersih asing senilai Rp590 miliar pada perdagangan kemarin.
- Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran memicu lonjakan harga minyak mentah di pasar global.
- Analis merekomendasikan sejumlah saham seperti IMPC, TINS, dan SSIA sebagai strategi trading jangka pendek di pasar modal.
Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kemarinditutup mengalami pelemahan sebesar 0,25 persen. Koreksi indeks domestik ini diiringi dengan tekanan aksi jual bersih oleh investor asing (net sell) yang menyentuh angka sekitar Rp590 miliar.
Deretan saham berkapitalisasi besar yang paling banyak dilepas oleh pemodal asing mencakup TPIA, CUAN, ISAT, KLBF, dan BMRI. Di tengah dinamika pasar yang didominasi oleh kewaspadaan investor tersebut, kabar positif dari dalam negeri sejatinya hadir melalui laporan kenaikan cadangan devisa Indonesia yang mencapai US$ 146,5 miliar pada bulan Agustus.
Secara teknikal, pergerakan IHSG pada hari ini masih berpotensi bergerak sideways dengan rentang level support berada di area 6.570 hingga 6.603, sementara level resistance diproyeksikan berada pada rentang 6.632 hingga 6.700.
Pelemahan yang melanda bursa saham kebanggaan Indonesia tersebut sejalan dengan pergerakan mayoritas bursa global dan regional Asia yang turut mengalami koreksi.
Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menyoroti bahwa pelaku pasar saat ini tengah fokus mencermati ekspektasi terhadap arah kebijakan moneter Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) menyusul rilis data ketenagakerjaan non-farm payroll (NFP) terbaru.
"Perkiraan rilis data NFP menguat dan membuat perkiraan sikap The Fed cenderung hawkish ke depannya," kata Herditya. Meski dibayangi sentimen pengetatan moneter, Herditya menilai potensi koreksi IHSG relatif terbatas dan masih memiliki peluang untuk berbalik menguat. Di luar isu global, investor juga tengah mengantisipasi sentimen regional dan domestik. "Rilis data neraca dagang China dan dampak beberapa bencana di Indonesia bakal memengaruhi arah IHSG," ujarnya. Dampak erupsi Gunung Anak Krakatau serta sejumlah bencana di tanah air diyakini memengaruhi pergerakan harga saham sektoral.
Bergeser ke pasar kawasan Asia, indeks saham justru menampilkan performa yang cukup variatif dengan kecenderungan menguat pada perdagangan Senin (7/9/2026).
Optimisme pemulihan ekonomi global setelah laporan ketenagakerjaan AS menopang laju indeks Nikkei 225 Jepang yang berhasil rebound 2,1 persen usai tertekan hebat pada pekan sebelumnya.
Penguatan agresif juga dicatatkan oleh bursa Korea Selatan yang melesat 4,6 persen, disusul Taiex Taiwan yang naik 1,7 persen, dan ASX 200 Australia yang menguat tipis 0,06 persen. Namun, indeks Hang Seng Hong Kong justru tergelincir 0,9 persen. Sentimen positif di bursa Asia ini tertahan oleh eskalasi konflik di Timur Tengah yang berdampak langsung pada pergerakan harga komoditas energi global.
Di belahan Eropa, bursa saham London (Indeks FTSE 100) ditutup melemah tipis 0,1 persen, sementara bursa Wall Street AS tidak beroperasi karena libur Hari Buruh (Labor Day).
Dinamika pasar keuangan dunia saat ini sangat terpengaruh oleh lonjakan harga minyak mentah yang bergerak menyentuh level tertinggi dalam enam pekan terakhir.
Kenaikan tajam harga emas hitam ini merupakan imbas langsung dari ketegangan geopolitik yang kembali memanas antara Amerika Serikat dan Iran. Aksi saling serang terhadap kapal-kapal di perairan Teluk, khususnya di sekitar Selat Hormuz, membuat arus pasokan minyak global terancam mengalami hambatan.
Ketegangan memuncak setelah militer AS menyerang tiga kapal tanker Iran, yang kemudian direspons oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dengan peluncuran rudal balistik ke arah armada Angkatan Laut AS. Iran bahkan berencana mengumumkan zona terbatas di luar Selat Hormuz.
Situasi genting ini memicu spekulasi kuat di kalangan pelaku pasar bahwa bank sentral di berbagai belahan dunia akan tetap menahan atau bahkan menaikkan suku bunga demi meredam lonjakan inflasi yang dipicu oleh tingginya harga energi, menjelang rilis data Consumer Price Index (CPI) AS pada pertengahan bulan ini.
Merespon ketidakpastian global dan pergerakan harga komoditas, Analis Teknikal BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda mencatat bahwa sektor kesehatan dan energi masih menunjukkan ketahanannya dalam menopang pergerakan IHSG, berdampingan dengan sektor keuangan.