Industri Konstruksi Mulai Geser ke Material Rendah Karbon

Jum'at, 11 September 2026 | 18:20 WIB
Ilustrasi infrastruktur kota (freepik.com)
  • PT Solusi Bangun Indonesia berkomitmen menekan jejak karbon melalui efisiensi energi dan pengembangan material ramah lingkungan.
  • Direktur Utama Rizki Kresno menyatakan upaya pengurangan emisi harus diterapkan dari tahap desain hingga operasional bangunan.
  • Chairperson GBCI Ignesjz Kemalawarta menilai inovasi material bangunan sangat penting untuk mempercepat pembangunan rendah karbon di Indonesia.

Suara.com - Industri konstruksi mulai menghadapi tuntutan untuk mengurangi jejak karbon seiring meningkatnya kebutuhan pembangunan gedung dan infrastruktur. Perubahan tersebut mendorong pelaku industri tidak hanya memperhatikan desain bangunan, tetapi juga material yang digunakan.

Perubahan tersebut dinilai penting karena kebutuhan pembangunan perkotaan terus meningkat. Di sisi lain, pembangunan dituntut tidak hanya menghasilkan bangunan yang memiliki fungsi dan performa baik, tetapi juga menekan dampak lingkungan.

Direktur Utama PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SMCB), Rizki Kresno Edhie Hambali mengatakan upaya menekan jejak karbon perlu dilakukan sejak tahap desain hingga bangunan beroperasi.

"Tentunya upaya ini perlu didorong secara menyeluruh, mulai dari desain, pemilihan material, proses konstruksi hingga operasional bangunan, sehingga kebutuhan pembangunan dapat terus terpenuhi dengan jejak karbon yang semakin rendah," ujar Rizki seperti dikutip di Jakarta, Jumat (11/9/2026).

ilustrasi Konstrruksi [ist].

Solusi Bangun Indonesia menyebut telah melakukan sejumlah langkah untuk menekan emisi dari proses produksinya. Upaya tersebut mencakup pemanfaatan bahan baku dan bahan bakar alternatif, peningkatan efisiensi energi, serta penggunaan energi terbarukan.

Di sisi produk, perusahaan juga mengembangkan sejumlah solusi konstruksi yang disesuaikan dengan kebutuhan pembangunan dan kondisi lingkungan.

Salah satunya adalah ThruCrete, beton berpori yang memungkinkan air meresap ke dalam tanah sehingga dapat membantu mengurangi genangan. Ada pula SpeedCrete, beton cepat kering yang ditujukan untuk mendukung percepatan perbaikan jalan.

Selain itu, tersedia semen tipe khusus dan solusi stabilisasi tanah untuk berbagai kebutuhan konstruksi.

Rizki mengatakan pengembangan material tidak hanya diarahkan pada kualitas produk, tetapi juga fungsi dan manfaat dalam jangka panjang.

"Kami terus mendorong inovasi yang tidak hanya berorientasi pada kualitas dan performa sesuai kebutuhan konstruksi, tetapi juga memberikan nilai tambah pada fungsi bagi penggunanya. Bersama SIG, kami berkomitmen menyediakan material berkelanjutan agar lebih banyak konstruksi di Indonesia memperoleh kualitas, durabilitas, dan nilai tambah untuk jangka panjang," beber Rizki.

Perubahan menuju konstruksi rendah karbon membuat material bangunan ikut menjadi perhatian. Industri tidak hanya dituntut menghasilkan material yang memenuhi standar kualitas dan performa, tetapi juga memiliki dampak lingkungan yang lebih rendah.

Chairperson Green Building Council Indonesia (GBCI), Ignesjz Kemalawarta, M.B.A., menilai keterlibatan industri bahan bangunan penting untuk memperluas penerapan prinsip bangunan hijau.

Menurut dia, besarnya skala penggunaan material konstruksi membuat inovasi untuk menekan emisi dari material tersebut berpotensi memberikan dampak yang signifikan.

"Penggunaan material konstruksi seperti beton memiliki skala yang sangat besar dalam pembangunan. Karena itu, inovasi untuk menurunkan emisi karbon dari material bangunan akan memberikan kontribusi yang signifikan dalam mempercepat terwujudnya pembangunan rendah karbon di Indonesia," kata Ignesjz.

Dengan demikian, pergeseran menuju material rendah karbon menjadi bagian dari perubahan yang lebih luas di sektor konstruksi. Pemilihan material perlu dipertimbangkan bersama desain dan performa bangunan agar target pengurangan emisi dapat dicapai.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com