Petrokimia Gresik Ubah Limbah Silika Jadi Penyaring, Hemat Rp259,6 Juta

Selasa, 22 September 2026 | 08:21 WIB
Ilustrasu Silika. [Istimewa]
BACA 10 DETIK
  • Petrokimia manfaatkan 990 ton silika per bulan jadi bahan penyaring.
  • Inovasi ini berpotensi menghemat biaya hingga Rp259,6 juta per tahun.
  • Silika produk samping kini mendapat nilai tambah dan telah dipatenkan.

Suara.com - PT Petrokimia Gresik menemukan cara untuk mengubah produk samping produksinya menjadi sumber efisiensi. Silika yang selama ini membutuhkan pengelolaan dan tempat penyimpanan kini dimanfaatkan sebagai bahan penyaring belerang cair dalam proses produksi asam sulfat.

Inovasi perusahaan anggota holding PT Pupuk Indonesia (Persero) itu diproyeksikan menghasilkan penghematan hingga sekitar Rp259,6 juta per tahun. Penghematan berasal dari berkurangnya kebutuhan pembelian bahan penyaring diatomaceous earth dari pihak lain.

Direktur Utama Petrokimia Gresik Daconi Khotob mengatakan inovasi tersebut dikembangkan untuk menjawab persoalan pengelolaan produk samping sekaligus menekan kebutuhan bahan baku dari pihak eksternal.

"Selama ini, penyaringan belerang cair menggunakan diatomaceous earth yang diperoleh dari pihak lain. Melalui inovasi ini, kami tidak hanya menemukan solusi atas produk samping silika yang dihasilkan perusahaan, tetapi juga menghadirkan alternatif bahan penyaring yang dapat mendukung efisiensi proses produksi," ujar Daconi, Senin (21/9/2026).

Silika yang dimanfaatkan berasal dari produk samping proses produksi aluminium fluorida (AlF). Setiap bulan, unit produksi tersebut menghasilkan sekitar 990 ton silika dalam bentuk padatan.

Volume tersebut membuat perusahaan harus menyediakan pengelolaan dan area penyimpanan yang memadai. Petrokimia Gresik kemudian mengembangkan material tersebut agar dapat digunakan kembali dalam proses produksi.

Silika tersebut kini dimanfaatkan sebagai alternatif bahan penyaring dalam proses produksi asam sulfat. Tahapan penyaringan diperlukan untuk membersihkan belerang cair sebelum digunakan lebih lanjut dalam proses produksi.

Asam sulfat sendiri merupakan salah satu bahan yang digunakan dalam proses produksi pupuk. Dengan memanfaatkan silika sebagai bahan penyaring, perusahaan tidak hanya mengurangi kebutuhan pembelian diatomaceous earth, tetapi juga memberikan nilai guna baru terhadap produk samping yang sebelumnya harus dikelola dan disimpan.

Dari sisi biaya, pemanfaatan silika tersebut berpotensi memberikan efisiensi hingga Rp259,6 juta setiap tahun. Nilai tersebut berasal dari pengurangan pembelian bahan penyaring sekaligus optimalisasi produk samping yang dihasilkan perusahaan.

"Melalui inovasi ini, kami ingin membangun cara pandang bahwa produk samping tidak selalu menjadi beban pengelolaan. Dengan riset dan inovasi yang tepat, material tersebut dapat dikembangkan menjadi solusi yang mendukung efisiensi dan keberlanjutan proses industri," kata Daconi.

Inovasi tersebut juga telah memperoleh Sertifikat Paten Sederhana dari Kementerian Hukum Republik Indonesia. Sertifikat diserahkan Menteri Hukum Supratman Andi Agtas kepada Senior Vice President (SVP) Operasi III Petrokimia Gresik Bambang Ariwibowo yang mewakili manajemen perusahaan.

Petrokimia Gresik menyebut paten tersebut membuka peluang pemanfaatan silika secara lebih luas, termasuk untuk kebutuhan industri lain yang memiliki karakteristik proses serupa.

Daconi mengatakan perusahaan akan terus mengembangkan inovasi yang tidak hanya memberikan dampak ekonomi, tetapi juga mendorong optimalisasi sumber daya dan pemanfaatan produk samping secara berkelanjutan.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com