- Manufaktur tumbuh 5,32%, melampaui ekonomi nasional 5,29%.
- 67% pengusaha belum berencana investasi dalam 12 bulan ke depan.
- Utilisasi industri baru 64,81%, sepertiga kapasitas masih menganggur.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan ketidakpastian global masih menjadi ancaman terhadap investasi. Geopolitik dinilai berpotensi mengganggu investasi, energi hingga logistik.
Indonesia mencatat pertumbuhan ekonomi 5,45% pada semester I 2026, dengan realisasi investasi mencapai Rp1.010 triliun. Namun, biaya logistik nasional masih berada di sekitar 14% dari PDB.
"Kalau kita targetkan 10 persen saja, itu perbaikan terhadap perekonomian nasional yang signifikan. Ini salah satu low hanging fruit yang harus kita kejar," kata Airlangga.
Di tengah peluang investasi di sektor teknologi, pusat data dan kecerdasan buatan, dunia usaha masih meminta kepastian kebijakan. Ketua Umum APINDO Shinta Kamdani mengatakan persoalan utama bukan semata-mata kurangnya kebijakan, tetapi konsistensi pemerintah dalam menjalankannya.
"Kalau kita buka tutup, sampai pintunya tutup, itu yang paling menyulitkan. Masalah ini bisa terselesaikan kalau ada konsistensi," ujar Shinta.
Ia juga menyoroti pergeseran investasi dari sektor padat karya menuju padat modal yang berpotensi membatasi penyerapan tenaga kerja. APINDO pun mendorong percepatan pengesahan Rancangan Undang-Undang Ketenagakerjaan.
Reporter: Fika Nur Rizki