- Rupiah kembali mendekati Rp18.000 per dolar AS.
- Penjual dolar di money changer kini lebih banyak dari pembeli.
- Transaksi meningkat, tetapi belum menunjukkan kepanikan.
Suara.com - Rupiah kembali tertekan mendekati level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Selasa (29/9/2026). Pelemahan mata uang Garuda mulai tercermin dari perubahan aktivitas transaksi di gerai penukaran valuta asing.
Pedagang valas mengungkapkan jumlah pelanggan yang menjual dolar AS kini lebih banyak dibandingkan mereka yang membeli. Kondisi tersebut menunjukkan masyarakat mulai memanfaatkan tingginya kurs dolar untuk melepas simpanan valuta asing.
"Sekarang yang jual dolar lebih banyak daripada yang beli," kata pedagang valas yang enggan disebutkan namanya di Aseva Money Changer, Plaza Pondok Gede saat ditemui Suara.com Selasa (29/9/2026).
Berdasarkan papan kurs beli, rupiah berada di sekitar Rp17.850 per dolar AS pada Jumat (25/9/2026). Level tersebut kembali mendekati kondisi pada awal Juni, ketika rupiah pertama kali menembus Rp18.000 dan mencatat rekor terlemah sepanjang sejarah pada 4 Juni 2026.
Menurut pedagang tersebut, perubahan pola transaksi mulai terasa sejak rupiah menembus Rp18.000 pada awal Juni. Aktivitas sempat mereda ketika rupiah kembali menguat, tetapi transaksi jual dolar kembali meningkat dalam beberapa hari terakhir.
Dibandingkan sebulan sebelumnya, aktivitas di gerai penukaran valas tersebut kini terlihat lebih ramai. Namun, intensitasnya masih belum seperti ketika rupiah mencetak rekor pelemahan pada awal Juni.
"Dulu orang datang serempak. Sekarang lebih bertahap," ujarnya.
Tak hanya pelanggan yang langsung menjual dolar, sebagian masyarakat juga datang sekadar mencari informasi mengenai perkembangan kurs. Setelah mengetahui harga, mereka memilih pergi untuk mempertimbangkan kembali keputusan transaksi.
"Ada yang tanya dulu, lalu pergi untuk menimbang-nimbang," katanya.
Sementara itu, pelanggan yang membeli dolar AS disebut lebih banyak datang karena kebutuhan tertentu. Salah satunya untuk keperluan perjalanan ke luar negeri, bukan untuk sekadar menyimpan dolar sebagai aset.
Meski transaksi mulai meningkat, pedagang tersebut belum melihat adanya kepanikan di kalangan pelanggan. Aktivitas jual beli masih berlangsung secara bertahap dan belum menunjukkan lonjakan serentak seperti yang terjadi ketika rupiah mencetak rekor pelemahan pada Juni lalu.
Reporter: Esther Nadya