- Nilai tukar rupiah melemah 72 poin ke level Rp17.966 per dolar AS pada Kamis sore, 1 Oktober 2026.
- Pelemahan rupiah dipicu oleh faktor global seperti kenaikan yield di Amerika Serikat dan sentimen negatif perombakan kabinet.
- Mayoritas mata uang Asia juga mengalami pelemahan terhadap dolar AS dengan Yen Jepang mencatat penurunan terdalam.
Suara.com - Di tengah perombakan kabinet oleh Presiden Prabowo Subianto pada Kamis sore (1/10/2026), nilai tukar rupiah terus melemah.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup ke level Rp17.966 per dolar AS, melemah 72 poin atau turun 0,40 persen.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan pelemahan ini lebih disebabkan oleh faktor global, meskipun sentimen pasar terhadap reshuffel kabinet juga memiliki pengaruh.
Dari sisi eksternal, kenaikan yield di Amerika Serikat memberikan sentimen negatif pada mata uang Garuda.
"Rupiah ditutup melemah cukup tajam di tengah penguatan dolar AS dan kenaikan yield treasury AS," katanya saat dihubungi Suara.com di Jakarta.
Selain itu, faktor internal juga mempengaruhi pergerakan rupiah. Salah satunya adalah pergantian beberapa menteri yang membuat rupiah tertekan pada penutupan hari ini.
"Data perdagangan Indonesia yang lebih kuat dari harapan serta inflasi yang juga lebih rendah dari perkiraan tidak banyak mendukung rupiah. Sentimen risk off domestik yang kuat juga ikut membebani rupiah menyusul respon negatif investor akan reshuffle kabinet," jelasnya.
Dia menambahkan rupiah diperkirakan masih akan tertekan dan melemah kecuali BI kembali meningkatkan inteisitas intervensi.
"Investor menantikan rilis data manufaktur Amerika Serikat dan mengantisipasi pidato hawkish dari beberapa pejabat the Fed malam ini," jelasnya.
Pelemahan rupiah terjadi di tengah turunnya nilai tukar mayoritas mata uang Asia terhada dolar AS. Yen Jepang menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah anjlok 0,6 persen. Disusul, dolar Taiwan yang ditutup ambles 0,49 persen.
Rupee India tertekan 0,36 persen, baht Thailand turun 0,35 persen, won Korea Selatan tertekan 0,033 persen, dolar Singapura tergelincir 0,24 persen, peso Filipina ditutup turun 0,23 persen dan ringgit Malaysia yang melemah 0,13 persen.