- Literasi asuransi turun jadi 42,84%, sementara inklusi baru 29,55%.
- 64,9% pengguna pinjol berusia 19-34 tahun; 58% untuk gaya hidup.
- Askrindo soroti “Gen Z Paradox”: melek digital, belum tentu melek finansial.
Suara.com - Pemahaman masyarakat Indonesia terhadap keuangan secara umum terus membaik. Namun, kondisi berbeda terjadi pada literasi asuransi yang justru mengalami penurunan, terutama di tengah tingginya aktivitas finansial generasi muda secara digital.
Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 yang dirilis OJK, LPS, dan BPS pada Agustus 2026, indeks literasi asuransi turun menjadi 42,84% dari 45,45% pada tahun sebelumnya.
Sementara itu, tingkat inklusi asuransi baru mencapai 29,55%. Artinya, masih terdapat kesenjangan lebih dari 13 poin persentase antara pemahaman masyarakat mengenai asuransi dengan akses atau pemanfaatan produk asuransi.
Penurunan tersebut terjadi ketika indeks literasi keuangan nasional justru meningkat menjadi 69,57% dan telah melampaui target RPJMN 2025-2029.
Kondisi ini menjadi perhatian PT Asuransi Kredit Indonesia (Persero) atau Askrindo. Perusahaan yang merupakan bagian dari holding Asuransi dan Penjaminan Indonesia Financial Group (IFG) dan Danantara itu menyoroti rendahnya pemahaman proteksi finansial di kalangan generasi muda.
Direktur Utama Askrindo R. Mahelan Prabantarikso menyebut kondisi tersebut sebagai "Gen Z Paradox". Menurutnya, generasi yang paling terkoneksi secara digital justru menghadapi risiko finansial yang semakin kompleks.
"Pemahaman masyarakat terhadap keuangan secara umum meningkat, tetapi terhadap asuransi justru mundur. Ini bukan angka yang bisa kita biarkan, apalagi bagi generasi muda yang akan menjadi tulang punggung ekonomi dalam 5 sampai 10 tahun ke depan," ujar Mahelan dalam kegiatan edukasi literasi keuangan dan asuransi bertajuk Financial Survival Kit: Pentingnya Proteksi Bagi Gen Z di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara (FEB USU), Medan.
Menurut Mahelan, tingginya penggunaan layanan keuangan digital belum otomatis menunjukkan kemampuan mengelola keuangan dengan baik.
Data yang disampaikannya menunjukkan 64,9% pengguna pinjaman online berada pada rentang usia 19-34 tahun. Dari kelompok tersebut, sekitar 58% menggunakan pinjaman untuk kebutuhan gaya hidup, bukan aktivitas produktif.
"Mereka sangat digital literate, tapi belum financially literate. Akses digital membuka peluang besar, tapi juga membawa risiko baru, mulai dari konsumsi impulsif, penipuan digital, sampai keputusan finansial tanpa pendampingan yang memadai," katanya.
Mahelan menilai salah satu aspek yang kerap dilupakan anak muda adalah perlindungan terhadap risiko setelah memperoleh dan mengelola penghasilan.
Ia memperkenalkan empat tahapan pengelolaan keuangan, yakni earn atau menghasilkan, manage atau mengelola, protect atau melindungi, serta grow atau mengembangkan.
Menurutnya, tahap perlindungan (protect) melalui asuransi sering kali dilewati karena generasi muda lebih berfokus pada memperoleh penghasilan dan mengembangkan aset.
"Penghasilan besar bukan jaminan aman secara finansial. Sepertiga orang berpenghasilan tinggi tetap mengalami stres finansial. Yang membedakan mereka yang bertahan adalah kesiapan, bukan sekadar kemampuan," ujar Mahelan.
Pemilihan FEB USU menjadi bagian dari upaya Askrindo memperluas edukasi keuangan ke luar Pulau Jawa. Mahasiswa dinilai menjadi kelompok strategis karena akan memasuki dunia kerja dan menjadi bagian dari aktivitas ekonomi dalam beberapa tahun mendatang.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi kelanjutan program edukasi Askrindo sepanjang 2026. Perusahaan ingin memperluas perannya, tidak hanya menjalankan fungsi bisnis di bidang penjaminan dan asuransi, tetapi juga mendorong pemahaman masyarakat mengenai pentingnya perlindungan finansial.
"Proteksi bukan karena kita takut pada masa depan, tapi karena kita ingin tetap bisa melangkah saat hal tak terduga terjadi. Bermimpilah besar, mulailah dari hal kecil, dan persiapkan sedini mungkin," tutup Mahelan.