- Rupiah menguat 16 poin ke Rp17.899 per dolar AS.
- Pelemahan dolar, turunnya harga minyak, dan imbal hasil US Treasury menopang rupiah.
- Investor menanti data inflasi AS pekan depan di tengah risiko global.
Suara.com - Nilai tukar rupiah ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Jumat (10/10/2026). Penguatan mata uang Garuda ditopang pelemahan dolar AS, penurunan harga minyak dunia, hingga turunnya imbal hasil obligasi pemerintah AS.
Mengutip data Bloomberg, rupiah ditutup di level Rp17.899 per dolar AS, menguat 16 poin atau 0,09% dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.915 per dolar AS.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan penurunan harga minyak mentah dunia turut menekan dolar AS. Selain itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS juga turun setelah lelang surat utang tenor 30 tahun mencatat permintaan yang kuat.
“Rupiah ditutup menguat ke level 17.899 per dolar AS, didukung oleh penurunan harga minyak mentah dunia, pelemahan dolar AS sendiri dan penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS setelah lelang obligasi tenor 30 tahun mencatat permintaan yang kuat,” kata Lukman kepada Suara.com.
Dari dalam negeri, pertumbuhan penjualan ritel Indonesia yang mencapai level tertinggi dalam lima bulan terakhir turut menopang rupiah.
Meski demikian, prospek rupiah masih dibayangi ketidakpastian global. Investor akan mencermati pergerakan harga minyak dunia dan imbal hasil obligasi yang belakangan meningkat tinggi.
Pekan depan, perhatian pasar juga akan tertuju pada rilis data inflasi AS, yakni Consumer Price Index (CPI) dan Producer Price Index (PPI). Kedua indikator tersebut dapat memengaruhi ekspektasi kebijakan moneter AS dan pergerakan dolar.
Di kawasan Asia, baht Thailand menjadi mata uang dengan penguatan terbesar terhadap dolar AS, yakni 0,38%. Disusul yuan China yang menguat 0,14%, serta peso Filipina dan ringgit Malaysia yang masing-masing naik 0,11%.
Dolar Singapura menguat 0,1%, sedangkan rupee India dan dolar Taiwan masing-masing naik 0,04%. Dolar Hong Kong juga menguat tipis 0,005%.
Sebaliknya, yen Jepang menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah turun 0,28%, diikuti won Korea Selatan yang melemah 0,13% terhadap dolar AS.