Isu PHK Massal Netflix, 800 Karyawan Mungkin Terdampak

Minggu, 11 Oktober 2026 | 12:36 WIB
Ilustrasi Netflix (RobertoNickson/Pexels).
BACA 10 DETIK
  • Netflix berencana melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap lima persen karyawannya di seluruh dunia dalam waktu dekat.
  • Kebijakan perampingan organisasi tersebut diperkirakan akan berdampak langsung kepada sekitar delapan ratus tenaga kerja lintas divisi.
  • Manajemen pusat Netflix belum memberikan konfirmasi resmi meskipun keuangan perusahaan mencatatkan pertumbuhan pendapatan yang positif.

Suara.com - Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di industri teknologi dan hiburan global tampaknya belum sepenuhnya mereda. Raksasa layanan streaming asal Amerika Serikat, Netflix, saat ini dikabarkan tengah mempersiapkan kebijakan perampingan organisasi berskala besar.

Berdasarkan informasi terbaru yang beredar di pasar, perusahaan berlogo 'N' merah tersebut berencana melakukan PHK terhadap sekitar 5 persen dari total karyawannya di seluruh dunia.

Kebijakan restrukturisasi operasional ini diperkirakan akan memberikan dampak langsung kepada sekitar 800 tenaga kerja lintas divisi. Mengutip laporan dari kantor berita Reuters yang bersumber dari keterangan pihak-pihak anonim di internal industri, pengumuman resmi terkait gelombang pemangkasan jumlah karyawan ini berpotensi dirilis ke publik paling cepat pada pekan depan.

Kendati demikian, hingga saat ini belum ada kepastian mutlak mengenai rincian waktu pengumuman maupun divisi mana saja yang akan menanggung beban pemangkasan paling besar.

Menanggapi bergulirnya isu rasionalisasi tenaga kerja tersebut, pihak manajemen pusat Netflix masih memilih untuk bungkam. Saat dihubungi untuk dimintai konfirmasi, juru bicara Netflix secara tegas menolak memberikan komentar apa pun terkait beredarnya laporan rencana pemangkasan karyawan tersebut.

Berdasarkan data operasional perusahaan yang tercatat hingga akhir tahun 2025, Netflix memiliki basis tenaga kerja yang cukup masif dengan jumlah sekitar 16.000 karyawan penuh waktu secara global.

Jika rencana pengurangan tenaga kerja sebesar 5 persen tersebut benar-benar dieksekusi oleh pihak manajemen, maka jumlah karyawan yang harus angkat koper diperkirakan menyentuh angka 800 orang.

Data statistik internal perusahaan pada periode Desember 2025 juga mencatat bahwa sekitar 68 persen dari total pekerja Netflix, atau sebanyak 10.900 orang, berbasis operasional di wilayah Amerika Serikat dan Kanada.

Rencana efisiensi tenaga kerja berskala besar ini mengulang memori kelam yang pernah dialami perusahaan beberapa tahun silam. Kebijakan ini muncul setelah Netflix pernah melakukan gelombang PHK besar-besaran pada tahun 2022. Pada masa krisis tersebut, perusahaan terpaksa memangkas sekitar 450 posisi pekerjaan setelah jumlah pelanggannya secara neto menyusut tajam hingga 200.000 pelanggan pada kuartal pertama 2022.

Penurunan jumlah pelanggan kala itu menjadi pukulan telak karena merupakan penyusutan basis pelanggan pertama yang dialami perusahaan dalam kurun waktu lebih dari satu dekade terakhir.

Sejak badai di tahun 2022 tersebut, Netflix sebenarnya terus melakukan sejumlah penyesuaian operasional dan pengurangan tenaga kerja, meski dalam skala yang jauh lebih kecil. Salah satu langkah efisiensi teranyar terjadi pada awal tahun 2026, di mana perusahaan dilaporkan telah melepas puluhan anggota dari tim produk globalnya demi merampingkan struktur organisasi.

Di sisi lain, narasi PHK ini terbilang cukup ironis mengingat kondisi finansial perusahaan yang sejatinya tidak sedang dalam fase krisis. Pihak manajemen Netflix secara terbuka menyatakan bahwa perusahaan masih terus mencatatkan tren pertumbuhan pendapatan yang positif di pasar global.

Co-CEO Netflix, Ted Sarandos, saat tampil berbicara dalam ajang konferensi Bloomberg Screentime di Los Angeles bulan lalu, memaparkan bahwa pendapatan perusahaan pada periode kuartal kedua 2026 berhasil tumbuh hingga dua digit, dan hal itu terjadi secara merata di setiap wilayah geografis operasional mereka.

Meski neraca keuangan menunjukkan angka yang menggembirakan, Sarandos tidak menampik fakta bahwa jajaran kepemimpinan perusahaan masih merasa belum puas. Manajemen puncak memiliki ambisi kuat untuk memacu dan mempercepat eskalasi pertumbuhan bisnis ke level yang lebih agresif di tengah ketatnya persaingan industri streaming hiburan.

"Ya, secara keseluruhan, kami belum tumbuh secepat yang saya inginkan, dan kami sedang berupaya mempercepat pertumbuhan tersebut,"

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com