- Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa produk industri nasional membutuhkan energi bersih untuk meningkatkan daya saing global.
- Pemerintah menargetkan penambahan kapasitas pembangkit EBT sebesar 42,6 gigawatt dalam RUPTL PLN 2025–2034 dengan investasi besar.
- Pengembangan energi bersih dan bioenergi diproyeksikan menghemat devisa negara, menyerap tenaga kerja, serta bernilai tambah tinggi.
Suara.com - Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyebut keberhasilan daya saing produk industri nasional di pasar global kini sangat bergantung pada penggunaan energi bersih (green energy).
Produk hasil olahan yang diproduksi menggunakan energi ramah lingkungan disebutnya memiliki peluang dan nilai jual jauh lebih tinggi dibandingkan produk berbahan bakar fosil.
"Produk global sekarang itu akan lebih cenderung untuk mencari produk yang green energy dan green industry. Itu nilainya pasti jauh lebih tinggi ketimbang produk-produk yang dihasilkan daripada energi fosil," kata Bahlil saat membacakan sambutan mewakili Presiden Prabowo Subianto saat membuka Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 di Tangerang, yang dikutip pada Kamis (15/10/2026).
Komitmen transisi energi ini telah dituangkan dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025–2034.
Pemerintah mematok penambahan kapasitas pembangkit listrik nasional sebesar 69,5 gigawatt (GW), dengan 42,6 GW atau 61 persen di antaranya bersumber dari energi baru dan terbarukan (EBT).
Proyeksi pengembangan energi bersih ini membuka potensi investasi mencapai Rp2.967,4 triliun.
Selain itu, pemerintah juga merancang pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 GW yang terhubung dengan jaringan baterai penyimpan energi, serta menggenjot bioenergi melalui program B50 dan E20.
Langkah ini diproyeksikan hemat devisa negara hingga ratusan triliun rupiah sekaligus menyerap jutaan tenaga kerja baru.
Pengembangan energi bersih yang terintegrasi dengan sektor industri diyakini bakal menggeser posisi Indonesia dari sekadar pengekspor bahan mentah menjadi produsen barang bernilai tambah tinggi yang kompetitif di tingkat dunia.
"Kalau ini mampu kita lakukan, saya yakin Indonesia menjadi salah satu negara yang patut diperhitungkan untuk ekspor yang berkualitas dan juga mampu memberikan daya saing yang baik di mata dunia," ujar Bahlil.