Gegara Masyarakat Beralih dari Pertamax, Stok BBM Pertalite Menipis

Jum'at, 16 Oktober 2026 | 14:37 WIB
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia. [Suara.com/Yaumal Adi Asri Hutasuhut].
BACA 10 DETIK
  • Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan stok BBM Pertalite menyusut menjadi 16 hingga 18 hari di Jakarta.
  • Penyusutan stok tersebut disebabkan oleh migrasi konsumsi masyarakat akibat lonjakan harga BBM non-subsidi sejak Juni 2026.
  • Pemerintah memperkirakan cadangan Pertalite akan kembali normal mencapai level 20 hari dalam waktu satu pekan ke depan.

Suara.com - Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, mengakui stok BBM jenis bensin RON 90 atau Pertalite terus menyusut akibat lonjakan konsumsi.

Ia mengungkapkan, tingkat ketahanan BBM Pertalite saat ini berada di kisaran 16 hingga 18 hari.

"Yang kurang dari 20 hari itu hanya RON 90. Tapi kalau Solar, RON 92, RON 95, RON 98 (BBM non subsidi) itu no issue. Nggak ada masalah. Yang terjadi pergeseran dari 16 ke 18 hari itu adalah RON 90," kata Bahlil saat menggelar konferensi pers di Kementerian ESDM, Jakarta pada Jumat (16/8/2026).  

Bahlil menjelaskan, penurunan stok Pertalite dipicu oleh migrasi konsumsi masyarakat setelah harga BBM nonsubsidi melonjak. 

Pengendara mengisi bensin untuk kendaraannya di SPBU Pertamina, kawasan Palmerah, Jakarta. [Suara.com/Alfian Winanto]

"Kenapa itu terjadi? Karena terjadinya shifting yang tadinya orang pake RON 92 dan 95  itu di shifting ke RON 90. Karena harganya kan cukup berbedanya cukup ekonomis itu. Itu sebenarnya masalahnya," jelasnya. 

Kendati demikian, Bahlil memperkirakan stok Pertalite akan kembali pulih ke level 20 hari dalam sepekan ke depan.

"Untuk mencapai di angka 20 itu ya kita butuh waktu seminggu. Seminggu selesai. Tapi di 16 sampai 18 hari itu kan bukan berarti kita kekurangan standar minimal, enggak," katanya. 

Sebagaimana diketahui perubahan pola konsumsi BBM subsidi masyarakat terjadi sejak 11 Juni, ketika harga BBM non susidi mengalami kenaikan harga.

Saat itu Pertamax (RON 92) naik dari  Rp12.300 menjadi Rp 16.250 per liter, serta Pertamax Green 95 dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.

Pergerakan harga kembali terjadi pada awal September. Pertamina mengerek harga Pertamax Turbo (RON 98) dari Rp18.300 menjadi Rp19.600 per liter per 1 September, disusul penyesuaian harga Pertamax Green 95 sebesar Rp2.550 menjadi Rp19.150 per liter pada 2 September 2026.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com