Acuhkan Komentar Eks Mendag Luftfi, Bos OJK: Kita Kerja Aja!

Selasa, 20 Oktober 2026 | 17:57 WIB
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, Friderica Widyasari Dewi [Suara.com/Rina]
BACA 10 DETIK
  • Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menyatakan fokus meningkatkan kinerja pasar saham Indonesia pada Selasa, 20 Oktober 2026.
  • Eks Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi menuding Singapura memanfaatkan MSCI untuk menekan pasar modal Indonesia agar investor asing membeli saham murah.
  • OJK dan Bursa Efek Indonesia terus berkoordinasi dengan MSCI demi meyakinkan investor bahwa Indonesia layak berada di pasar berkembang.

Suara.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) buka suara mengenai eks Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi menyoroti tekanan terhadap pasar modal Indonesia. Hal ini menyusul wacana peninjauan status oleh lembaga indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, mengatakan bahwa pihaknya akan terus fokus dalam meningkatkan kinerja pasar saham Indonesia. Salah satu meyakinkan investor dan MSCI bahwa Indonesia masih layak di emerging market.

"Kita kerja aja, silahkan orang lain mengomentari, silahkan orang berpikir sendiri, tapi kita kerja aja," ujarnya di Jakarta Pusat, Selasa (20/10/2026).

Dia pun menambahkan bahwa OJK dan BEI akan terus melakukan koordinasi dengan MSCI dalam membahas reformasi pasar modal yang menjadi fokus Indonesia. Apalagi, Presiden Prabowo Subianto juga terus mendukung kebijakan reformasi pasar modal.

Mantan Mendag Muhammad Lutfi. [Ist]

"Kemarin saya sampaikan juga, abis kita juga sampaikan laporan kepada bapak Presiden, bapak Presiden menyampaikan teruskan reformasi yang sangat baik, kemudian tegakkan ketentuannya," jelasnya.

Sebagai informasi, eks Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi menuding Singapura memanfaatkan lembaga penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) untuk menekan pasar saham Indonesia.

Dia menduga langkah Singapura tersebut bertujuan membuat harga saham di dalam negeri anjlok, sehingga investor asing bisa kembali memborongnya dengan harga murah.

"Di saat Singapura sibuk menggurui karena asap karhutla, permainan mereka ternyata tidak berhenti disitu. Ingat ya, saya bicara di sini bukan untuk membela pemerintah, tetapi untuk membela negara saya sendiri," bebernya.

Dia pun menjelaskan Standalone Market merupakan kasta khusus yang diperuntukkan bagi negara-negara yang menerapkan kebijakan pembatasan modal atau capital control.Padahal Indonesia sama sekali tidak pernah menerapkan sistem pembatasan modal tersebut.

Untuk itu, Lutfi lantas mempertanyakan alasan institusi raksasa asal Singapura seperti Temasek dan GIC yang mempunyai pengaruh besar di MSCI begitu ngotot menekan Indonesia.

Berdasarkan informasi yang didapat, lanjut Lutfi, terdapat perwakilan GIC yang marah dan mendesak MSCI agar peringkat Indonesia diturunkan.

"Come on Rachel! Don't you know walls in Jakarta do talk and scream?" pungkasnya.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com