- Kemenko Perekonomian mencatat akumulasi realisasi investasi Kawasan Ekonomi Khusus telah mencapai Rp368 triliun.
- Juru Bicara Haryo Limanseto menyampaikan bahwa 25 KEK tersebut berhasil menyerap tenaga kerja sebanyak 248 ribu orang.
- Pemerintah menilai perluasan kawasan industri sangat krusial karena luas KEK Indonesia masih tertinggal dari Malaysia dan Vietnam.
Suara.com - Pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mengungkapkan kalau akumulasi realisasi investasi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) saat ini sudah tembus Rp 368 triliun.
Staf Ahli Bidang Pembangunan Daerah sekaligus Juru Bicara Kemenko Perekonomian, Haryo Limanseto, mengungkapkan realisasi investasi ini berasal dari 25 KEK dan 181 Kawasan Industri (KI). Secara keseluruhan, total luas kawasan tersebut mencapai 125.000 hektare.
"Khusus KEK, telah mengakumulasi investasi sebesar Rp368 triliun," ujar Haryo saat konferensi pers di Local Media Summit (LMS) 2026 yang digelar di Manhattan Hotel, Jakarta, Jumat (23/10/2026).
Selain realisasi investasi, Haryo juga mengungkapkan kalau total 25 KEK tersebut juga telah berhasil membuka lapangan kerja bagi 248 ribu orang.
Namun Haryo juga menyoroti kalau luasan KEK di Indonesia masih berada jauh dari negara tetangga di Asia Tenggara seperti Vietnam dan Malaysia. Saat ini, total luas 25 KEK di Indonesia secara presisi baru menyentuh angka 23.799 hektare.
"Total luas 25 KEK di Indonesia ini baru sekitar 24.000 hektare, dibandingkan dengan Malaysia yang mencapai 2,1 juta hektare dan Vietnam di 1,6 juta hektare," paparnya.
Melihat ketertinggalan luasan kawasan investasi dibandingkan Malaysia dan Vietnam tersebut, Haryo menilai bahwa akselerasi perluasan kawasan industri dan KEK menjadi krusial. Hal ini bertalian erat dengan upaya menggenjot perekonomian di tingkat daerah.
"Kenapa ini penting buat daerah? Karena memang lokasi-lokasi kawasan industri dan KEK itu didorong di daerah," jelas Haryo.
Lebih lanjut, optimalisasi KEK dan Kawasan Industri untuk sektor-sektor unggulan daerah merupakan salah satu mesin utama pemerintah dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional. Di tengah ketidakpastian global dan gangguan rantai pasok dunia, ketahanan ekonomi domestik menjadi penyangga utama.
Adapun pertumbuhan ekonomi Indonesia masih cukup kuat dan terjaga di level 5,45 persen di Semester I 2026.