- Harga minyak Brent dan WTI melonjak tajam pada Jumat, 30 Oktober 2026, mencapai level tertinggi sejak April.
- Kenaikan dipicu oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah, termasuk serangan kapal tanker di Selat Hormuz dan fasilitas Arab Saudi.
- Lonjakan harga minyak mentah global tersebut berpotensi menekan biaya pengadaan bahan bakar minyak domestik di Indonesia.
Rembesan ketegangan global ini turut tecermin pada pergerakan harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP). Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sebelumnya telah menetapkan rata-rata harga ICP untuk bulan September 2026 di angka US$112,81 per barel.
Angka ini mencatatkan lompatan tajam sebesar US$23,38 dibandingkan posisi bulan Agustus 2026 yang hanya berada di level US$89,43 per barel.
Tingginya indikator ICP ini terus dipantau secara saksama oleh pemerintah karena menjadi komponen penentu dalam menghitung penerimaan negara dari sektor hulu migas sekaligus fondasi asumsi makroekonomi nasional.
Nasib Harga BBM Domestik dan Proyeksi ke Depan
Meroketnya harga minyak mentah global berpotensi kuat memberikan tekanan ganda pada biaya pengadaan bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri. Kendati demikian, lonjakan harga minyak Brent maupun WTI di pasar komoditas berjangka tidak serta-merta berimbas instan pada kenaikan harga Pertalite, Solar, maupun deretan BBM nonsubsidi.
Penyesuaian harga ritel di tingkat domestik masih harus mempertimbangkan berbagai variabel turunan, mulai dari nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, biaya distribusi operasional, hingga intervensi kebijakan fiskal demi melindungi daya beli masyarakat luas. Jika harga internasional terus bertahan tinggi, beban sektor transportasi dan ongkos produksi nasional dipastikan akan kian membengkak.
Memasuki bulan November 2026, arah pergerakan harga komoditas ini diproyeksikan masih akan disetir penuh oleh dinamika perang Timur Tengah dan kelancaran jalur logistik energi. Berdasarkan survei Reuters terhadap 32 analis independen pada bulan Oktober, rata-rata harga Brent sepanjang tahun 2026 diperkirakan berada di kisaran US$92,88 per barel, sementara rata-rata tahunan WTI diproyeksikan bertengger di US$86,60 per barel.
Arah kebijakan pasar energi global ini diprediksi akan semakin mengerucut usai negara-negara anggota utama OPEC+ merampungkan agenda pertemuan penting mereka pada Minggu, 1 November 2026.