Bola / Bola Dunia
Senin, 15 Juni 2026 | 08:50 WIB
Kemenangan 7-1 Timnas Jerman atas Curacao di Piala Dunia 2026 diwarnai kontroversi. FIFA menyelidiki dugaan gestur rasis yang dilakukan petugas VAR Shaun Evans. [Dok. IG DFB-Team]
Baca 10 detik
  • FIFA menyelidiki petugas VAR Shaun Evans karena diduga menunjukkan simbol supremasi kulit putih saat laga Piala Dunia 2026.
  • Gestur kontroversial tersebut terekam kamera siaran langsung sesaat sebelum pertandingan antara Timnas Jerman melawan Curacao dimulai.
  • Terlepas dari skandal wasit tersebut, Timnas Jerman mencatatkan kemenangan telak 7-1 atas Curacao dalam pertandingan itu.

Suara.com - Pesta gol luar biasa Timnas Jerman saat membantai Curacao dengan skor 7-1 pada ajang Piala Dunia 2026 justru tercoreng oleh sebuah skandal di luar lapangan.

Perhatian publik dunia kini tertuju pada investigasi serius FIFA terhadap dugaan penggunaan simbol supremasi kulit putih oleh seorang petugas Video Assistant Referee (VAR).

Insiden kontroversial ini memicu perdebatan panas terkait netralitas dan profesionalisme perangkat pertandingan di panggung sepak bola paling bergengsi sejagat tersebut.

Melansir laporan eksklusif dari media Inggris Daily Mail, federasi sepak bola dunia itu telah menyadari adanya potensi pelanggaran serius yang melibatkan salah satu ofisial mereka.

Petugas VAR yang tengah menjadi sasaran kecaman publik tersebut diketahui bernama Shaun Evans, wasit profesional asal kompetisi A-League Australia.

Detik-detik Gestur Kontroversial Terekam Kamera

Kemenangan 7-1 Timnas Jerman atas Curacao di Piala Dunia 2026 diwarnai kontroversi. FIFA menyelidiki dugaan gestur rasis yang dilakukan petugas VAR Shaun Evans. [Dok. Daily Mail]

Skandal memalukan ini bermula sesaat sebelum kick-off pertandingan dimulai ketika kamera siaran langsung menyorot wajah para perangkat pertandingan yang sedang bertugas.

Shaun Evans yang bertindak sebagai petugas pendukung VAR untuk laga tersebut tertangkap kamera menatap langsung ke arah lensa.

Pria asal Australia itu memperlihatkan gestur tangan berupa simbol "OK" yang posisinya diputar ke arah bawah.

Baca Juga: Rumor Panas FIFA ASEAN Cup 2026: Pakistan Bantah Kabar Ikut Serta di Indonesia

Meskipun simbol tersebut secara umum bermakna persetujuan atau sering digunakan sebagai emoji digital, penggunaannya dalam posisi tertentu memicu kecurigaan.

Makna terselubung dari gerakan tangan tersebut telah dikaitkan oleh sejumlah pihak sebagai simbol dukungan terselubung terhadap kelompok supremasi kulit putih.

Tafsir Ganda dan Ancaman Sanksi FIFA

Liga Anti-Pencemaran Nama Baik atau Anti-Defamation League (ADL) sebelumnya telah mengeluarkan peringatan terkait penyalahgunaan simbol tangan tersebut di ruang publik.

"Simbol OK telah menjadi taktik trolling yang populer dari individu-individu berhaluan kanan, yang sering memposting foto ke media sosial saat mereka berpose sambil melakukan gerakan tersebut," sebut perwakilan Anti-Defamation League berdasarkan rilis resmi mereka pada tahun 2019 silam.

Selain dikaitkan dengan gerakan ekstremis sayap kanan, gestur ini sebenarnya juga memiliki akar sejarah sebagai permainan anak-anak.

Load More