- FIFA menyelidiki petugas VAR Shaun Evans karena diduga menunjukkan simbol supremasi kulit putih saat laga Piala Dunia 2026.
- Gestur kontroversial tersebut terekam kamera siaran langsung sesaat sebelum pertandingan antara Timnas Jerman melawan Curacao dimulai.
- Terlepas dari skandal wasit tersebut, Timnas Jerman mencatatkan kemenangan telak 7-1 atas Curacao dalam pertandingan itu.
Suara.com - Pesta gol luar biasa Timnas Jerman saat membantai Curacao dengan skor 7-1 pada ajang Piala Dunia 2026 justru tercoreng oleh sebuah skandal di luar lapangan.
Perhatian publik dunia kini tertuju pada investigasi serius FIFA terhadap dugaan penggunaan simbol supremasi kulit putih oleh seorang petugas Video Assistant Referee (VAR).
Insiden kontroversial ini memicu perdebatan panas terkait netralitas dan profesionalisme perangkat pertandingan di panggung sepak bola paling bergengsi sejagat tersebut.
Melansir laporan eksklusif dari media Inggris Daily Mail, federasi sepak bola dunia itu telah menyadari adanya potensi pelanggaran serius yang melibatkan salah satu ofisial mereka.
Petugas VAR yang tengah menjadi sasaran kecaman publik tersebut diketahui bernama Shaun Evans, wasit profesional asal kompetisi A-League Australia.
Detik-detik Gestur Kontroversial Terekam Kamera
Skandal memalukan ini bermula sesaat sebelum kick-off pertandingan dimulai ketika kamera siaran langsung menyorot wajah para perangkat pertandingan yang sedang bertugas.
Shaun Evans yang bertindak sebagai petugas pendukung VAR untuk laga tersebut tertangkap kamera menatap langsung ke arah lensa.
Pria asal Australia itu memperlihatkan gestur tangan berupa simbol "OK" yang posisinya diputar ke arah bawah.
Baca Juga: Rumor Panas FIFA ASEAN Cup 2026: Pakistan Bantah Kabar Ikut Serta di Indonesia
Meskipun simbol tersebut secara umum bermakna persetujuan atau sering digunakan sebagai emoji digital, penggunaannya dalam posisi tertentu memicu kecurigaan.
Makna terselubung dari gerakan tangan tersebut telah dikaitkan oleh sejumlah pihak sebagai simbol dukungan terselubung terhadap kelompok supremasi kulit putih.
Tafsir Ganda dan Ancaman Sanksi FIFA
Liga Anti-Pencemaran Nama Baik atau Anti-Defamation League (ADL) sebelumnya telah mengeluarkan peringatan terkait penyalahgunaan simbol tangan tersebut di ruang publik.
"Simbol OK telah menjadi taktik trolling yang populer dari individu-individu berhaluan kanan, yang sering memposting foto ke media sosial saat mereka berpose sambil melakukan gerakan tersebut," sebut perwakilan Anti-Defamation League berdasarkan rilis resmi mereka pada tahun 2019 silam.
Selain dikaitkan dengan gerakan ekstremis sayap kanan, gestur ini sebenarnya juga memiliki akar sejarah sebagai permainan anak-anak.
Berita Terkait
-
Pape Thiaw Semprot Jurnalis yang Persoalkan Skuad Senegal Shalat Jumat di Piala Dunia 2026
-
Piala Dunia 2026: Winger Man United Jadi Pahlawan Kemenangan Pantai Gading Kalahkan Ekuador
-
Resmi Debut di Piala Dunia, Tijjani Reijnders Kenang Momen Didekati Timnas Indonesia
-
Eks Striker Persib Bandung dan Persis Solo Tampil di Piala Dunia 2026
-
Bisa Curi Satu Gol, Curacao Sukses Bikin Pelatih Jerman Terpukau
Terpopuler
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 4 Serum Wardah untuk Mengecilkan Pori, Kulit Halus dan Mulus Bertahap
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
- Daftar Harga Motor Listrik dengan Subsidi Pemerintah, Ada yang Cuma Rp5 Jutaan!
- Siapa Ipda Ambarita? Ini Profil Polisi yang Viral Saat Pengamanan Bentrok Matraman
Pilihan
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
Terkini
-
Fashion Show dari Limbah hingga Bazar UMKM Ramaikan Alun-alun Cilegon
-
Ketika Penyandang Disabilitas Didorong Membangun Bisnis Berkelanjutan
-
KPK Tahan 4 Tersangka Baru Korupsi Asuransi Fiktif PT Pelni Rp263 Miliar
-
Limbah Sianida vs Kemarau Panjang: Saat Sungai Cikaniki Mati Rasa dan Warga Berjuang Demi Air Bersih
-
Askrindo Pertajam Strategi Pertumbuhan, Fokus Diversifikasi Produk hingga Digitalisasi
-
Optimalkan Pelayanan Publik, Mendagri: Pentingnya Penguatan Kapasitas & Dukungan Bagi Kepala Daerah
-
Nyaris Beredar! Polisi Gagalkan Distribusi 784 Ribu Butir Obat Keras Ilegal di Bandung
-
Semakin Praktis, Pembayaran Transportasi Umum Kini Cukup Tempel HP
-
Polisi Sita Parang hingga Golok Jelang Aksi Ribuan PSHT di Surabaya
-
Polda Jatim Bongkar Kasus Peretasan Ratusan Website Sekolah untuk Promosi Judi Online