Bola / Bola Dunia
Jum'at, 31 Juli 2026 | 07:34 WIB
Logo UEFA [Instagram @uefa_official]
Baca 10 detik
  • Sebanyak 55 federasi anggota UEFA sepakat memboikot seluruh turnamen FIFA jika rencana penjualan hak komersial dilanjutkan.
  • Kebijakan FIFA menjual saham kepada investor swasta dinilai UEFA mengancam masa depan serta prioritas olahraga sepak bola.
  • Ancaman boikot tersebut berpotensi besar menggagalkan keikutsertaan tim Eropa pada berbagai ajang Piala Dunia mendatang.

Keputusan terkait kalender pertandingan dan format turnamen dikhawatirkan akan lebih berpihak pada kepentingan investor.

Tak hanya itu, UEFA menuding FIFA mengambil keputusan tanpa transparansi.

Mereka menyebut proses tersebut tidak melibatkan konsultasi yang layak dengan pemangku kepentingan sepak bola.

“Ini bukan keputusan demokratis, melainkan bentuk tekanan yang tidak pantas bagi lembaga pengelola sepak bola dunia,” tulis UEFA dengan nada keras.

Jika boikot benar-benar terjadi, dampaknya akan sangat besar.

Sejumlah turnamen FIFA dalam waktu dekat terancam kehilangan peserta dari Eropa.

Di antaranya Piala Dunia Wanita U-20 2026 di Polandia yang dijadwalkan berlangsung September.

Enam negara Eropa telah lolos ke turnamen tersebut.

Selain itu, Piala Dunia Wanita U-17 di Maroko dan Piala Dunia U-17 putra di Qatar juga berpotensi terdampak.

Baca Juga: FIFA vs UEFA: Infantino Dituduh 'Suap' Rp598 M ke 211 Federasi, Termasuk PSSI?

Bahkan Piala Dunia 2027 di Brasil bisa kehilangan banyak tim kuat dari Eropa.

Di sisi lain, Infantino membela rencana tersebut.

Ia menyebut langkah ini sebagai upaya memaksimalkan potensi ekonomi sepak bola global.

“Sepak bola adalah olahraga paling populer di dunia dan mesin luar biasa untuk pembangunan sosial,” kata Infantino.

Ia juga menekankan pentingnya pemerataan pendapatan bagi seluruh anggota FIFA.

Menurutnya, setiap asosiasi berhak mendapatkan bagian yang adil untuk mengembangkan sepak bola di negaranya.

Meski demikian, UEFA tetap pada pendiriannya.

Mereka menegaskan tidak akan pernah melegitimasi model bisnis yang dinilai mengorbankan masa depan sepak bola.

“Sikap Eropa jelas. Tidak ada yang memiliki otoritas moral untuk menjual sesuatu yang hanya mereka jaga untuk generasi berikutnya,” tutup pernyataan tersebut.

Load More