- Jurnalis Belanda Leon ten Voorde mengkritik kepindahan bek Timnas Indonesia Mees Hilgers ke SC Heerenveen.
- Hilgers meninggalkan FC Twente setelah 15 tahun dan meneken kontrak dua tahun dengan SC Heerenveen.
- FC Twente melepas Mees Hilgers dengan nilai transfer 500 ribu euro dan klausul penjualan berikutnya.
Suara.com - Jurnalis Belanda Leon ten Voorde melontarkan kritik tajam kepada bek Timnas Indonesia, Mees Hilgers setelah meninggalkan FC Twente dan bergabung dengan SC Heerenveen.
Ten Voorde menyindir perjalanan transfer Hilgers yang dinilainya jauh dari ambisi bermain di kompetisi elite Eropa.
Hilgers resmi meninggalkan FC Twente setelah 15 tahun bersama klub tersebut.
Bek tengah itu menandatangani kontrak berdurasi dua tahun dengan Heerenveen, disertai opsi perpanjangan sepihak oleh klub selama satu tahun hingga pertengahan 2029.
Kepindahan tersebut mengakhiri saga transfer yang menjadi sorotan di Belanda.
Namun, bagi Ten Voorde, hasil akhir transfer Hilgers justru menjadi bahan sindiran karena Heerenveen dinilai berada di bawah level FC Twente dalam beberapa aspek.
Dalam podcast De Ballen Verstand, Ten Voorde menanggapi kepindahan Hilgers dengan nada sarkastis.
Ia bahkan menyebut Heerenveen seolah-olah merupakan klub impian sang pemain.
"Dia pergi ke Heerenveen. Klub impiannya," ujar Ten Voorde dikutip dari Twenteinsite.nl
Ten Voorde kemudian mempertanyakan hasil akhir dari ambisi Hilgers yang sebelumnya dikaitkan dengan peluang bermain di kompetisi yang lebih besar.
Menurutnya, bek tersebut memiliki ekspektasi tinggi terhadap kariernya, tetapi justru berakhir di Heerenveen.
"Mees Hilgers memiliki tanda dolar di matanya, membayangkan dirinya bermain di kompetisi terbesar dan merasa dirinya sangat bagus. Pada akhirnya, dia berakhir di SC Heerenveen," kata Ten Voorde.
Ten Voorde juga menyinggung peluang Hilgers untuk berkarier di luar Belanda.
Menurutnya, sang pemain sebelumnya berkesempatan pindah ke Ligue 1 Prancis pada musim sebelumnya, tetapi transfer tersebut tidak terwujud.
Ia menilai proses transfer itu terkendala persoalan waktu untuk menjalani pemeriksaan medis.