Kredit Tumbuh Agresif, Begini Strategi BRI Jaga Kualitas Aset dan Likuiditas

Selasa, 01 September 2026 | 18:52 WIB
Gedung BRI. (Dok: BRI)
  • Hingga Juni 2026, kredit BRI Group mencapai Rp1.646 triliun dan tumbuh 16,2 persen secara tahunan, melampaui pertumbuhan kredit industri nasional sebesar 12,67 persen.
  • Pada periode yang sama, laba bersih BRI Group mencapai Rp31,2 triliun dengan pertumbuhan 17,5 persen serta mencatatkan ROA sekitar 2,7 persen yang berada di atas rata-rata industri.
  • Dana Pihak Ketiga BRI tumbuh 6,7 persen menjadi Rp1.581 triliun, sedangkan NPL BRI tercatat 2,9 persen yang masih berada di atas rata-rata NPL industri nasional sebesar 2,09 persen.

Suara.com - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI mencatat pertumbuhan kredit yang lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan industri perbankan nasional hingga Juni 2026. Kredit dan pembiayaan BRI Group mencapai Rp1.646 triliun, tumbuh 16,2 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Sebagai pembanding, kredit industri perbankan nasional pada periode yang sama tumbuh 12,67 persen yoy menjadi Rp9.080,9 triliun. Dengan demikian, pertumbuhan kredit BRI berada sekitar 3,53 poin persentase di atas pertumbuhan industri.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa ekspansi kredit BRI pada semester I 2026 berlangsung lebih cepat dibandingkan laju ekspansi kredit perbankan secara keseluruhan.

Namun, tingginya pertumbuhan kredit belum dengan sendirinya menunjukkan seluruh aspek kinerja BRI lebih baik dari industri. Kualitas aset, struktur pendanaan, efisiensi, dan profitabilitas tetap menjadi indikator yang perlu diperhatikan.

Pertumbuhan kredit menjadi salah satu penopang utama kinerja BRI sepanjang semester I 2026. Secara konsolidasian, aset BRI mencapai Rp2.352 triliun atau tumbuh 11,7 persen yoy. Sementara kredit dan pembiayaan tumbuh lebih cepat, yakni 16,2 persen menjadi Rp1.646 triliun.

Pada periode yang sama, Dana Pihak Ketiga (DPK) BRI mencapai Rp1.581 triliun atau tumbuh 6,7 persen yoy. Artinya, laju pertumbuhan kredit BRI jauh lebih tinggi daripada pertumbuhan dana yang dihimpun dari masyarakat.

Kondisi ini penting dicermati karena secara industri, DPK perbankan nasional tumbuh 10,21 persen yoy pada Juni 2026, mencapai Rp10.281,8 triliun. Dengan kata lain, pertumbuhan DPK BRI sebesar 6,7 persen berada di bawah pertumbuhan DPK industri sekitar 3,51 poin persentase.

Perbedaan tersebut memperlihatkan karakter ekspansi BRI yang cukup agresif dari sisi penyaluran kredit, tetapi pada saat yang sama menghadapi tantangan untuk memperkuat pertumbuhan pendanaan.

Direktur Utama BRI Hery Gunardi mengatakan transformasi yang dilakukan perseroan tidak semata-mata diarahkan untuk mengejar pertumbuhan kredit.

“Fokus kami adalah memastikan BRI memiliki mesin pertumbuhan yang semakin terdiversifikasi, sehat, berkualitas, dan berkelanjutan,” ujar Hery, Senin (31/8/2026)

Menurut Hery, agenda transformasi BRI mencakup penguatan bisnis inti sekaligus pengembangan sumber pertumbuhan baru.

BRI tumbuh lebih cepat, tetapi industri juga sedang ekspansif

Pertumbuhan kredit BRI sebesar 16,2 persen perlu dilihat dalam konteks industri perbankan yang juga sedang mengalami akselerasi.

BI mencatat kredit perbankan nasional pada Juni 2026 tumbuh 12,67 persen yoy, meningkat dibandingkan pertumbuhan Mei 2026 sebesar 11,51 persen. Pertumbuhan tersebut terutama didorong kredit investasi yang meningkat 24,90 persen, kredit modal kerja 8,94 persen, dan kredit konsumsi 5,75 persen.

Bahkan, data BI terbaru menunjukkan kredit perbankan nasional kembali tumbuh menjadi 13,58 persen yoy pada Juli 2026. Artinya, tren ekspansi kredit tidak hanya terjadi di BRI, tetapi merupakan bagian dari penguatan intermediasi perbankan nasional.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com