- PT Bank Rakyat Indonesia Tbk mengumumkan strategi membawa UMKM ke pasar global dalam Indonesia Economic Forum 2026.
- Direktur Commercial Banking BRI, Alexander Dippo Paris Y. S., memaparkan tiga tantangan fundamental UMKM dalam menembus pasar internasional.
- Hingga triwulan II 2026, penyaluran kredit UMKM BRI mencapai Rp1.235,4 triliun atau tumbuh 8,6 persen secara tahunan.
Suara.com - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI turun tangan langsung memastikan para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Tanah Air bisa naik kelas secara terukur. Target utamanya sangat ambisius namun realistis: membawa produk-produk lokal berjaya dan merajai pasar global melalui pembekalan komprehensif.
Langkah strategis tersebut menjadi sorotan utama dalam pergelaran bergengsi Indonesia Economic Forum 2026 yang mengusung tema “The Future of Indonesia’s Exports: Transforming Towards Value-Added, Competitive and Sustainable Growth”.
Ajang diskusi tingkat tinggi ini berfokus pada upaya mempertebal daya saing ekspor nasional demi memacu pertumbuhan ekonomi yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Pada kesempatan krusial tersebut, Direktur Commercial Banking BRI, Alexander Dippo Paris Y. S., menguraikan peta jalan yang telah disiapkan oleh perseroan.
Ia membedah tiga tantangan fundamental yang kerap menjadi tembok penghalang bagi pelaku UMKM saat hendak merambah pasar internasional. Ketiga elemen tersebut mencakup keterbatasan kapasitas dan kualitas produksi, minimnya literasi keuangan yang sesuai standar, serta tertutupnya akses jaringan bisnis strategis.
“Berangkat dari tiga hal tersebut, kami memberikan pembiayaan untuk membantu kapasitas, kami memberikan program pendampingan untuk membantu literasi, dan kami membuka sebesar-besarnya akses yang kami miliki untuk membantu akses bisnis dari UMKM,” ujar Dippo.
Pembiayaan tak dimungkiri tetap menjadi urat nadi utama bagi pengusaha kecil agar bisa berlari kencang. Dengan adanya suntikan modal yang mudah diakses, para pengusaha dapat melipatgandakan skala bisnis mereka, meremajakan alat produksi, hingga meningkatkan standar mutu agar sejalan dengan kualifikasi ketat di pasar mancanegara. Komitmen nyata ini tecermin secara gamblang dari rapor kinerja penyaluran kredit perusahaan.
Hingga penutupan triwulan II tahun 2026, akumulasi penyaluran kredit BRI ke segmen UMKM telah menembus angka Rp1.235,4 triliun. Angka ini mencatatkan tren positif dengan pertumbuhan 8,6 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).
Mengacu pada statistik tersebut, tercatat 75,1 persen dari total keseluruhan portofolio pembiayaan BRI Group memang didedikasikan khusus untuk mengangkat derajat pelaku UMKM.
Kendati demikian, Dippo mengingatkan bahwa kucuran dana miliaran rupiah tak akan cukup jika tidak diimbangi dengan tata kelola bisnis yang mumpuni. UMKM wajib menguasai literasi manajerial karena pasar luar negeri memiliki ekosistem yang jauh lebih kompleks.
Calon pembeli atau importir dari luar negeri tidak hanya melihat bentuk fisik barang, tetapi juga sangat menuntut rekam jejak neraca bisnis yang bersih dan transparan.
“Ekspor itu bukan hanya menjual barang. Buyer di luar negeri juga menuntut adanya transparansi keuangan. Kemampuan dari produsen menjelaskan bagaimana cara memproduksi, bagaimana keuangannya, sumbernya dari mana, itu juga penting untuk dilihat dari sisi buyer,”
Sadar akan ekspektasi pasar dunia yang tanpa kompromi, BRI merancang ekosistem pemberdayaan yang digerakkan berdampingan dengan fasilitas kredit. Catatan impresif per Juni 2026 menunjukkan bahwa program pendampingan Desa BRILiaN telah merangkul lebih dari 5.700 desa di berbagai pelosok Nusantara.
Selain itu, inisiatif Klasterku Hidupku telah sukses menjangkau lebih dari 44 ribu klaster usaha komunal. Proses digitalisasi juga terus digenjot lewat platform LinkUMKM yang kini menjadi rumah digital bagi 17,3 juta pelaku usaha, dipadukan dengan Rumah BUMN yang aktif mendampingi sekitar 596 ribu pengusaha mikro.
“Yang paling berat adalah bagaimana secara pelan-pelan kita meningkatkan skala mereka, literasi mereka sampai mereka bisa diakses secara internasional. Ini tidak boleh dibalik. Kalau hari ini kita kasih akses tapi literasinya belum dapat, maka akses itu akan sia-sia juga,”