SuaraCianjur.id - Pada tayangan podcast milik Denny Sumargo yang diupload pada Sabtu (29/10/2022) lalu, Psikolog Verauli menceritakan mengenai alasan perempuan sulit keluar dari sebuah toxic relationship.
Berikut adalah isi obrolan antara Denny Sumargo, Andien, dan Psikolog Verauli, dalam podcast Denny Sumargo berjudul “KALAU GW KDRT ISTRI, APA YG HARUS GW LAKUKAN”.
Denny : Aku pengen ngangkat dari persfektif wanita nih, kenapa wanita itu sulit sekali keluar dari budaya toxic relationship?
Verauli : Budaya kita ini masih tradisional, apapun masalahnya yang salah pasti perempuan.
Denny : Masa?
Andien : Karena patriaki.
Verauli : Sebetulnya dalam skema kita, punya penghayatan bahwa kalo ada apa-apa dalam keluarga, kalo anak kenapa-napa pasti yang ditanya “ini ibunya gimana sih?”.
Denny : Masa sih?
Verauli : Kalo relasi pernikahan gak berhasil, yang ditanya “Ini istrinya gimana sih sampai bikin suaminya poligami?” gitu misalnya. Pasti pihak istrinya yang dipertanyakan.
Baca Juga: Didepan Denny Sumargo Ungkap Perubahan Hidup Jefri Nichol saat Alami Fase Hidup Ini
Denny : Ah iya kebanyakan gitu.
Verauli : Secara general, secara umum, tapi case by case di pola budaya kita itu patriaki, pihak ayah dominan, pihak ayah yang menafkahi, pihak ayah yang berkuasa, jadi ayahnya selalu benar.
Denny : Masa sih sampai begitu?
Verauli : Nah sekarang kan ada banyak perempuan yang tumbuh besar dalam lingkungan, dimana dia liat ayahnya bisa semena-mena kepada ibunya, karena ayahnya dominan.
Denny : Iya.
Verauli : Jadi dia punya pandangan hal (kekerasan) tersebut gak salah. Makanya kadang kala ada anak yang rusak tentang pandangan pernikahan. Dia pikir dalam rumah tangga biasa KDRT, karena waktu kecil dia lihat orangtuanya juga seperti itu.
Denny : Iya.
Verauli : Sehingga standarnya berubah.
Denny : Sampai segitu ya pemikiran perempuan?
Verauli : Iya, tapi kalau cowok yang melakukan kekerasan beda lagi pemikirannya. Lihat sosok ayah yang melakukan kekerasan pasti dia mikirnya “Gua nanti gak mau kaya ayah gua”, tapi gak bisa karena kenyataannya dia tumbuh besar dari model ayah seperti itu, jadi yang dia pahami kalo berantem ya adu pukul.
Denny : Seperti itu ya?
Verauli : Tentu, tapi standarnya dia rubah, misal kalau dulu ayahnya mukul ibunya sampai berdarah, nanti dia tirunya hanya sebatas memukul gak sampai berdarah.Tapi itu tetap masuk KDRT yang gak dibenarkan, baik itu menyerang psikis atau fisik.
Denny : Benar.
Verauli : Selain itu kenapa perempuan susah keluar dari lingkaran kekerasan, karena dia mikir kalau pergi dari pernikahah atau relasi tersebut, akan ada banyak keluarga besar yang terlibat dan kecewa tentang ini, dalam posisi itu dia mikir relasi keluarga lebih penting.
Andien : Dan kadang kita gak cerita, jadi gak ada support.
Denny : Ya kan mau cerita jadi ketakutan.
Verauli : Nah jadi ada beberapa efek buat perempuan itu, yaitu pertama menyalahkan diri sendiri, kedua merasa gagal, dan ketiga itu merasa malu.
Denny : Harusnya berproses ya daripada tidak melakukan apa-apa.
Verauli : Karena dalam toxic relationship ini ada batasannya. Kadang ada yang gak ngerti batasannya apa, mereka gak tau ini salah apa nggak, karena udah rusak. Apalagi dalam hubungan seperti itu pasti salah satu pasangannya kan dominan dan maipulatif.
Denny : Jadi caranya gimana?
Verauli : Ketika kita sadar bahwa dampak secara psikis dan fisik sudah terluka, terus secara sosial sudah terisolir dari orang dekat kita, itu udah tanda sebetulnya untuk segera menyelamatkan diri.
Denny : Gitu ya?
Verauli : Saat sudah gitu, kita perlu menyelamatkan diri. Karena saat kita minta perlindungan ke orang terdekat, pemuka agama, atau psikolog belum tentu mengerti betul. Jadi yang pertama adalah melindungi dan memahami sendiri.
Denny : Benar itu.
Verauli : Yuk makanya perempuan harus sadar diri, bahwa kita berharga, kita berarti.
Denny : Jadi untuk pelaku kekerasan harus bagaimana biar berubah?
Verauli : Kalau pelaku kekerasan dalam toxic relationship kan sudah rusak rasa empatinya, jadi harus belajar rasa empati, belajar mersakan perasaan orang, karena empati itu wujud kematangan emosional. Jadi kalau mau berubah coba tumbuhkan rasa empati, seiring waktu kan pasti bisa.(*)
Berita Terkait
Terpopuler
- Kinerja Tim Komunikasi Buruk, Prabowo Diingatkan Segera Reshuffle Seskab Teddy hingga Kapolri
- Lawan Pernyataan Eki Pitung, Pemuda Kaum Betawi Percaya dengan Warga Pati yang Demo 27 Agustus
- Anggaran Bencana Tak Ditemukan, Istana Malah Beli Merpati Rp305 Juta untuk Perayaan HUT ke-81 RI
- 3 Rice Cooker untuk Nasi Tahan 2 Hari dan Tidak Lengket Sesuai Klaim
- 4 Shio Beruntung Hari ini 21 Agustus 2026 yang Diprediksi Terbebas dari Masalah Keuangan
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
Kabut Asap Karhutla Ganggu Bandara SMB II Palembang, 6 Penerbangan Harus Tertunda
-
Hadapi El Nino, Meki Fritz Nawipa Siapkan Helikopter hingga Satgas Kampung
-
Viral 4 Kementerian Alokasikan Dana Rp4,1 Miliar untuk Pengadaan Mobil Golf
-
Beli Sepatu ANTA Dapat Diskon Ratusan Ribu dari BRI, Cek Caranya di Sini!
-
Indonesia Masuk 6 Negara dengan Obesitas Rendah di Dunia, Apa Rahasianya?
-
Karhutla Makin Ganas, Anggaran Pencegahan Kalah dari Belanja Rutin Daerah
-
5 Alasan Pengurusan Izin Usaha Sebaiknya Diserahkan ke Jasa Profesional
-
KAI Siapkan Stasiun Manggarai Jadi Pusat Mobilitas Jakarta
-
Sinopsis Insidious: Out of the Further, Kisah Baru Elise dengan Teror Seram
-
Menepi Sejenak di Bintan: Menikmati Pantai, Kuliner, dan Wellness dalam Satu Resor