Seorang Pendeta kontroversial, Paul Mackenzie Nthenge, telah dituduh meyakinkan ratusan pengikutnya untuk mati kelaparan demi bertemu dengan Yesus. Kabar mengerikan ini telah mengguncang Kenya selama beberapa bulan terakhir.
Bukti yang ditemukan menunjukkan bahwa Nthenge berhasil meyakinkan para pengikutnya bahwa membiarkan diri mereka sendiri dan orang yang mereka cintai kelaparan, termasuk anak-anak, adalah jalan yang lebih cepat untuk mencapai surga dan berjumpa dengan penyelamat mereka, Yesus Kristus.
Setelah menutup gerejanya secara resmi, Nthenge pindah ke Malindi, dekat Shakahola, di mana dia menghabiskan sebagian besar waktunya. Dia mengajarkan teori agama yang bengkok kepada penduduk setempat yang dilanda kekeringan.
Pihak berwenang mulai menyelidiki aktivitas Nthenge setelah menerima petunjuk anonim tentang kematian dua anak yang diduga mati kelaparan di bawah bimbingan orang suci yang memproklamirkan diri. Kedua anak itu ditemukan terkubur dalam kuburan dangkal di tanah milik Nthenge di hutan Shakahola. Namun, ini hanyalah permukaan dari masalah yang lebih besar.
Selama penyelidikan, polisi menemukan beberapa kuburan massal di daerah tersebut yang berisi jenazah pengikut naif pendeta tersebut. Totalnya, 241 mayat kurus kering berhasil ditemukan di tanah Nthenge.
Pada awal penyelidikan, Nthenge tidak gentar dan menyatakan bahwa dia memiliki kekuatan kenabian dan telah melihat penampakan Yesus. Dengan klaim yang tidak masuk akal ini, dia berhasil meyakinkan para pengikut mudah tertipu untuk mengorbankan nyawa mereka dengan mati kelaparan, menganggapnya sebagai jalan pintas menuju surga dan bertemu Yesus.
Baru-baru ini, pihak berwenang Kenya mengungkapkan penemuan mengerikan lainnya ketika menggali mayat dari kuburan massal di Shakahola. Selain tubuh-tubuh yang kurus kering, beberapa korban juga menderita trauma massal di kepala atau leher.
Lebih lanjut terungkap bahwa beberapa korban mengalami kehilangan organ, mengindikasikan praktik perdagangan organ manusia yang dilakukan oleh Mackenzie Nthenge dan kroninya.
Menteri Dalam Negeri Kenya, Prof. Kithure Kindiki, mengungkapkan bahwa Nthenge diduga menggunakan geng bersenjata untuk membunuh anggota paroki yang tidak mau mati kelaparan atau mencoba berbuka puasa. Mereka menggunakan senjata tumpul dan kabel pencekik untuk melancarkan pembunuhan yang mengerikan ini.
Baca Juga: Mantap Cerai, Inara Rusli Akui Benci Virgoun Soal Hal Ini
Berita Terkait
Terpopuler
- Penjelasan Polda Sulsel Terkait Kabar Penangkapan Basri Kajang
- 5 HP Murah Kamera Bagus Sesuai Review untuk Foto dan Video, Mulai Rp1 Jutaan
- 3 Parfum Mykonos Paling Wangi dengan Aroma Clean dan Tahan Lama Menurut Review Pembeli
- 6 Sepatu Jalan Terbaik yang Nyaman Dipakai Lari dari Brand Luar dan Lokal
- Di Mana Tempat Beli Sepatu Asics Ori di Indonesia? Ini 5 Rekomendasi Toko Tepercaya
Pilihan
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
-
Banggar DPR Dorong Sinkronisasi Belanja Pusat dan Daerah untuk Percepat Pembangunan Jawa Timur
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
Terkini
-
Viralnya Liga Aspal Bikin Anak-Anak Menteng Kini Punya Lapangan Bola Sungguhan
-
Temui Mendag China di Shanghai, Airlangga Dorong Kemitraan Ekonomi yang Lebih Seimbang
-
Moisturizer Sariayu untuk Kulit Berminyak yang Mana? Ini Pilihan dan Review Pembelinya
-
3 Review Lipstik Ombre Lips yang Bagus dan Tahan Lama, High-Pigmented dan Transferproof 24 Jam
-
Cocoon Siap Tayang Global, Anime Perang Garapan Eks Animator Studio Ghibli
-
6 Parfum Lokal yang Cocok untuk Zodiak Gemini, Aromanya Fresh dan Ceria
-
Wonwoo SEVENTEEN Abadikan Cinta Tulus di Lagu Spring, Summer, Fall, Winter
-
Tensi Geopolitik Timur Tengah Mereda, ICP Juni 2026 Turun ke 83,45 Dolar AS per Barel
-
Karier Panjang Aiptu EW Anggota Polres Blitar Kota Hancur di Tangan Narkoba
-
Inggris vs Prancis: Konsistensi Penyerangan Prancis Berjumpa dengan Permainan Pragmatis Inggris