/
Sabtu, 08 Juli 2023 | 15:40 WIB
Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie (Instagram)

Kelulusan Mikhayla, anak sulung Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie, dari SD baru-baru ini menjadi sorotan publik. Momen acara kelulusan tersebut langsung menjadi perbincangan hangat di kalangan netizen. Hal yang menjadi perdebatan adalah cara Mikhayla menerima rapor dari gurunya, karena tidak adanya tradisi cium tangan yang umum dilakukan antara murid dan guru.

Dalam video yang tersebar luas, Mikhayla terlihat sangat percaya diri ketika namanya dipanggil, dan dia langsung bersalaman dengan gurunya sambil menerima rapor. Kemudian, Mikhayla dengan penuh gaya membentuk tanda peace ketika berfoto bersama gurunya. Video tersebut diunggah kembali oleh akun TikTok @riani_update.

"Aksi Mikhayla dalam menerima rapor sekolah sungguh keren! Saat berfoto, dia pun tampil dengan gaya sesuai keinginannya. Selamat untuk Mikhayla!" kata akun tersebut dalam keterangan video yang diunggah pada Rabu (5/7/2023).

Namun, video tersebut memicu pro dan kontra di antara netizen. Menurut beberapa orang, Mikhayla dianggap kurang sopan dalam berhadapan dengan guru. Beberapa netizen bahkan beranggapan bahwa cucu dari politisi Aburizal Bakrie tersebut tidak bersalaman dengan guru yang memberikan rapor kepadanya. Padahal, Mikhayla sebenarnya langsung mengulurkan tangan untuk bersalaman sambil mengambil rapor. Hanya saja, tidak ada momen cium tangan.

Diketahui bahwa Mikhayla menempuh pendidikan di British School Jakarta, sebuah sekolah internasional. Sekolah internasional umumnya memiliki perbedaan dalam kurikulum dan budaya yang lebih global, karena siswanya berasal dari berbagai negara, termasuk Indonesia dan negara-negara lain.

Di Indonesia, cium tangan memang telah menjadi bagian dari budaya salam dan penghormatan masyarakat. Biasanya, cium tangan dilakukan oleh umat Muslim sebagai tanda salam dan penghormatan kepada orang yang lebih tua atau dihormati.

Namun, dalam penelitian di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, diketahui bahwa cium tangan sebenarnya merupakan akulturasi budaya Jawa dan agama Islam. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika tindakan cium tangan juga dilakukan oleh masyarakat non-Muslim.

Dalam ajaran Islam, adab antara murid dan guru sebenarnya tidak hanya terbatas pada cium tangan. Menurut NU Online, ulama Imam al-Ghazali mengajarkan sepuluh adab antara murid dan guru yang meliputi hal-hal berikut:

1. Mendahului memberikan salam kepada guru.
2. Tidak banyak berbicara di depan guru untuk menghindari kesan sombong.
3. Berdiri ketika guru berdiri dan duduk ketika guru duduk.
4. Jika ada perbedaan pendapat, meminta izin untuk menyampaikan pendapat yang berbeda.
5. Tidak bertanya kepada teman sebelah saat guru sedang menjelaskan.
6. Tidak tertawa atau tersenyum berlebihan saat berbicara dengan guru.
7. Tidak menunjukkan perbedaan pendapat secara terang-terangan.
8. Tidak menarik pakaian guru saat guru berdiri.
9. Tidak mengajukan pertanyaan saat guru dalam perjalanan pulang.
10. Tidak banyak bertanya saat guru lelah.

Baca Juga: Perempuan 18 Tahun Melahirkan Sendiri di Kos-kosan Jakpus, Polisi: Ada Bercak Darah...

Dengan demikian, wajar jika Mikhayla tidak melakukan cium tangan karena di sekolah internasional di mana dia bersekolah, budaya dan adat-istiadat yang berlaku mungkin berbeda. Namun, tetap penting untuk diingat bahwa menghormati guru adalah nilai yang harus dijunjung tinggi dalam budaya Indonesia. Apakah tindakan Mikhayla pantas dikritik ataukah hal ini bergantung pada konteks dan budaya sekolah yang diterapkannya? Bagaimana pendapat Anda?

Load More