Moko tidak diberi kemewahan waktu untuk berduka. Tanggung jawab datang seperti badai, memaksanya untuk berfungsi, bukan untuk merasakan.
Krisis Identitas: siapakah Moko sekarang? Jiwa arsiteknya sekarat. Identitasnya sebagai kekasih terkikis oleh kelelahan.
Ia terlempar ke dalam peran "ayah" yang tak pernah ia minta. Film ini dengan gamblang menunjukkan fragmentasi identitas ini.
Moko adalah sekumpulan peran yang saling bertentangan, terperangkap dalam satu tubuh yang lelah.
Moko menunjukkan mekanisme pertahanan sublimasi. Ia menyalurkan rasa sakit, amarah, dan keputusasaannya menjadi tindakan merawat.
Namun, ada kalanya pertahanan itu runtuh, dan kita melihat kerapuhan aslinya—seorang pemuda yang kehilangan arah.
Di sinilah film ini mencapai puncaknya. Yandy Laurens tidak sedang membuat film, ia sedang mengajukan tesis filosofis.
Moko adalah mitos Sisifus modern dalam tradisi absurdisme Albert Camus. Setiap hari ia mendorong batu besar tanggung jawab ke puncak bukit, hanya untuk melihatnya menggelinding kembali esok pagi.
Bangun, membuat susu, mengurus sekolah, bekerja, menidurkan anak-anak, tidur sejenak, lalu ulangi.
Baca Juga: Game Legendaris Assassin's Creed Resmi Digarap Jadi Serial Live-Action
Sebuah rutinitas absurd. Namun, Camus berkata, "The struggle itself... is enough to fill a man's heart. One must imagine Sisyphus happy." Apakah Moko bahagia?
Film ini membiarkan kita bergulat dengan pertanyaan itu.
Jean-Paul Sartre pernah berujar, kita "dikutuk untuk bebas" (condemned to be free), seperti itu juga Moko dalam film ini.
Moko, secara teknis, bebas untuk pergi. Ia bisa menyerahkan ponakannya ke panti asuhan dan mengejar mimpinya.
Namun ia memilih untuk tinggal. Dalam pilihan inilah, ia mendefinisikan esensinya.
Beban tanggung jawab yang ia pikul adalah manifestasi dari kebebasannya. Pilihan itu menjadi penjara sekaligus mahkotanya.
Berita Terkait
-
Game Legendaris Assassin's Creed Resmi Digarap Jadi Serial Live-Action
-
Jangan Cari di Netflix! Drakor S Line Episode 4 Tayang Malam Ini, Misteri Benang Merah Makin Kelam
-
Ulasan Serial Too Much: Komedi Romantis yang Berantakan tapi Menyentuh
-
Awas, Ini Bahaya Sekaligus Ancaman Hukum Nonton Film di LK21 dan IndoXXI
-
Sinopsis Film Brick, Trending Nomor 2 di Netflix Indonesia
Terpopuler
- 5 Pelembap Viva Cosmetics untuk Mencerahkan Wajah dan Hilangkan Flek Hitam, Dijamin Ampuh
- Siapa Saja Tokoh Indonesia di Epstein Files? Ini 6 Nama yang Tertera dalam Dokumen
- 24 Nama Tokoh Besar yang Muncul di Epstein Files, Ada Figur dari Indonesia
- 5 Smart TV 43 Inci Full HD Paling Murah, Watt Rendah Nyaman Buat Nonton
- Adu Tajam! Persija Punya Mauro Zijlstra, Persib Ada Sergio Castel, Siapa Bomber Haus Gol?
Pilihan
-
Ketika Hujan Tak Selalu Berkah, Dilema Petani Sukoharjo Menjaga Dapur Tetap Ngebul
-
KPK Cecar Eks Menteri BUMN Rini Soemarno Soal Holding Minyak dan Gas
-
Diduga Nikah Lagi Padahal Masih Bersuami, Kakak Ipar Nakula Sadewa Dipolisikan
-
Lebih dari 150 Ribu Warga Jogja Dinonaktifkan dari PBI JK, Warga Kaget dan Bingung Nasib Pengobatan
-
Gempa Pacitan Guncang Jogja, 15 Warga Terluka dan 14 KA Berhenti Luar Biasa
Terkini
-
Daftar Pemain Moving Season 2 Terungkap, Ada Wajah Baru dengan Nama Besar
-
Polisi Respons Dugaan Temuan Whip Pink di Rumah Reza Arap
-
Profil Amanda Lucson Finalis Puteri Indonesia 2026, Benarkah Usianya Terlalu Muda?
-
Diperiksa sampai Malam, Pandji Pragiwaksono: Saya Tidak Merasa Menista Agama
-
Ngaku Difitnah soal Jadi Petugas Haji, Chiki Fawzi Malah Dikritik Gara-Gara Adab di Acara TV
-
Kekuatan Tersembunyi Mahalini Jelang Konser: Rahasia Dukungan 2 Keluarga yang Tak Terbatas
-
Aksi Pinkan Mambo Nyanyi dan Joget di Pinggir Jalan Tuai Kritik: Bikin Macet!
-
Pandji Pragiwaksono Diperiksa 8 Jam, Diperlihatkan Penyidik Potongan Mens Rea Hasil Bajakan
-
Viral Aksi Heroik Polisi Baru Sembuh Stroke Selamatkan Pria Lansia dari Gigitan Pitbull
-
Bocoran Konser KOMA: Mahalini Siapkan 6 Kostum Megah dan Kejutan Spesial di Hari Valentine