Performanya sangat mengesankan, tanpa upaya terlihat cantik di situasi genting, dan itu justru membuat karakternya terasa manusiawi.
Ekspresi wajah Kim Da Mi saat menunjukkan ketakutan, kepanikan, dan rasa bersalahnya sebagai seorang ibu sukses menyentuh hati saya.
Dari sisi visual, film ini jelas tidak main-main. Efek digital air bah terlihat rapi dan meyakinkan tanpa harus pamer skala kehancuran berlebihan.
Pilihan untuk membatasi lokasi cerita di satu gedung apartemen terasa cerdas karena membuat ketegangan lebih personal.
Alih-alih melihat kota hancur dari kejauhan, saya diajak terjebak bersama karakter, naik lantai demi lantai sambil berharap atap benar-benar menyelamatkan.
Ketika Film Berbelok Terlalu Tajam
Masalah The Great Flood muncul tepat ketika saya merasa film ini seharusnya mendekati klimaks.
Alih-alih menutup cerita dengan kuat, film ini justru "mengulang" segalanya seperti time loop. Tiba-tiba, kisah survival berubah menjadi narasi pengulangan waktu.
Anna kembali menjalani hari yang sama, bertemu orang-orang yang sama, ditemani sosok misterius bernama Song Hee Jo, yang diperankan secara apik oleh Park Hae Soo.
Baca Juga: Review Film Suka Duka Tawa: Angkat Topi untuk Transformasi Teuku Rifnu Wikana
Secara konsep, ini sebenarnya menarik. Film seakan ingin berbicara tentang ujian moral, tentang pilihan seorang ibu antara kepentingan pribadi, anak, dan masa depan umat manusia.
Ada petunjuk samar bahwa Hee Jo mungkin memiliki hubungan emosional dengan Ja In, bahkan terasa seperti bayangan masa depan sang anak. Sayangnya, semua ini hanya berhenti di level isyarat.
Saya tidak keberatan dengan film yang ambigu. Namun, di sini ambiguitasnya terasa setengah matang.
Aturan main dunia film tidak pernah dijelaskan dengan cukup jelas. Apakah ini time travel biasa? Uji coba AI? Atau semua sekaligus?
Film ini meninggalkan banyak pertanyaan besar, tetapi terlalu nanggung untuk memberikan jawaban yang memuaskan.
Kita hanya diberi penjelasan sekilas melalui adegan-adegan flashback dan dialog Anna yang tidak begitu menjelaskan.
Sampai-sampai saya harus menyelam ke media sosial demi mencari penjelasan apa yang sebenarnya terjadi dalam film ini.
Ambisi Besar, Pesan Ada, Tapi Kurang Fokus
Saya tidak sepenuhnya setuju jika The Great Flood disebut film flop atau tidak bermakna.
Justru sebaliknya, film ini terasa sangat ingin mengatakan banyak hal, tentang keibuan, pengorbanan, cinta tanpa syarat, hingga masa depan manusia yang tidak bisa dilepaskan dari emosi.
Namun, saya juga kurang setuju jika penonton disalahkan karena merasa bingung dan tidak memahami maksud dari cerita yang ingin disampaikan.
Masalahnya, semua pesan itu saling bertabrakan tanpa satu fokus utama yang benar-benar digenggam erat.
Akibatnya, ketika kredit akhir muncul, saya masih terkesan secara visual dan emosional di beberapa adegan, tetapi bingung merangkum makna keseluruhan film.
Pada akhirnya, The Great Flood adalah film yang indah sekaligus nanggung. Saya menikmati perjalanannya, terutama di paruh awal yang begitu intens dan manusiawi.
Namun, ambisi besarnya untuk menjadi film bencana sekaligus sci-fi membuatnya kehilangan pijakan.
Jika Anda menyukai film dengan visual kuat dan berani membelokkan genre, The Great Flood tetap layak ditonton.
Tapi jika Anda berharap pada cerita yang rapi dan tuntas, siap-siap saja kecewa dan menyesali dua jam yang terbuang sia-sia.
Seperti judulnya, The Great Flood datang dengan gelombang ide besar yang sayangnya tidak semuanya sampai ke daratan dengan selamat.
Kontributor : Chusnul Chotimah
Berita Terkait
-
Akting Bareng Teuku Rifnu Wikana di Film Suka Duka Tawa, Rachel Amanda Jadi Pelawak
-
Avatar: Fire and Ash Menggila di Bioskop Indonesia, The Conjuring Tinggal Tunggu Waktu Tergeser
-
Promo Buy 1 Get 1 Tiket Nonton Janur Ireng Lewat TIX ID, Simak Ketentuannya
-
Trailer Film The Sheep Detectives: Kisah Domba Mengungkap Kasus Pembunuhan
-
Stray Kids Umumkan Film Konser Pertama, Tayang Global di Bioskop 2026
Terpopuler
- 4 HP dengan Baterai 7000 mAh Terbaik 2026, Anti Lowbat Seharian Cocok untuk Ojol
- Siapa Ginka Febriyanti yang Kini jadi Komisaris Pertamina Retail
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
- 4 Sepatu Lari Ardiles Terbaik Paling Laris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- Sering Mati Listrik? Ini 4 Genset Mini 1000 Watt yang Irit dan Tidak Berisik
Pilihan
-
Lagi! Peserta Latsarmil Kopdes Merah Putih Meninggal, Rifki Renaldi Jadi Korban Ke-4
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
Gedebage Jazz Festival Naik Kelas, Evolusi Menuju Panggung Dunia
-
Lagu Baru Luqman Podolski 'Ayah' Ungkap Sisi Kelam Hubungan Keluarga yang Jarang Dibicarakan
-
Bukan Algoritma, Ini Sosok 'Pemain Baru' di Balik Lagu Viral TikTok yang Perlu Kamu Tahu
-
FORESTRA 2026 Umumkan Line Up Tahap Kedua, Hadirkan Perpaduan Musik dan Keindahan Alam
-
Dituding Acuh saat Thariq Halilintar Buka Kado, Aaliyah Massaid Beri Klarifikasi Menohok
-
Canting Londo Kitchen Gelar Road to Intimate Concert Bersama Sandhy Sandoro di Solo
-
Lina Mukherjee Kena Body Shaming Bekas Luka Caesar, Amanda Manopo Kasih Pembelaan Begini
-
Putry Poyz Buka Lifestyle Hub di Jakarta Selatan, Sediakan Tempat Khusus Buat Para Content Creator
-
Berapa Gaji Sus Rini? Gaya Pengasuh Rayyanza Pakai Tas Mewah Jadi Perbincangan
-
Tas Branded Sus Rini saat Liburan di Kapal Pesiar Jadi Sorotan, Berapa Harganya?