Entertainment / Film
Rabu, 25 Februari 2026 | 21:00 WIB
Petikan trailer Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa [YouTube/Soraya Intercine Films]
Baca 10 detik
  • Film Suzzanna: Santet Dosa di Atas Doa merupakan prekuel yang berfokus pada sisi manusiawi dan perjalanan batin Suzzanna sebelum menjadi makhluk halus.
  • Tim produksi melakukan riset serius di Jawa Timur untuk menampilkan berbagai jenis santet autentik berdasarkan filosofi dan budaya lokal.
  • Film ini mengusung genre horor kolosal dengan meminimalkan CGI, menggunakan prostetik dari Belgia, hingga aksi berbahaya yang nyaris menenggelamkan Luna Maya.

Suara.com - Film ketiga dari semesta Suzzana yang bertajuk Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa siap meramaikan layar bioskop Tanah Air jelang Lebaran nanti.

Film yang dijadwalkan tayang serentak pada 18 Maret 2026 ini, menjanjikan pendekatan berbeda dengan mengusung genre horor kolosal yang lebih menonjolkan sisi humanis sang legenda.

Dalam sesi press junket yang digelar di Gondangdia, Jakarta Pusat, Rabu, 25 Februari 2026, tim produksi dan pemeran utama membedah kedalaman cerita hingga teknis pembuatan yang diklaim lebih masif.

Film ini melibatkan kolaborasi perdana antara Luna Maya dan Reza Rahadian dalam satu layar horor, di bawah arahan sutradara Azhar Kinoi Lubis.

Memanusiakan Suzzanna: Bukan Sekadar Hantu

Berbeda dengan film-film sebelumnya yang langsung menampilkan transformasi Suzzanna sebagai makhluk halus, Santet Dosa di Atas Doa berperan sebagai prekuel yang memotret sisi manusiawi karakter tersebut.

Fokus utamanya adalah perjalanan batin Suzzanna sebelum dia terjerumus dalam kegelapan.

Aktor Reza Rahadian, yang memerankan tokoh Pramuja, menyebut aspek ini sebagai daya tarik utama yang membuatnya bersedia bergabung.

"Kali ini berbicara memotret Suzzanna sebagai manusia. Bagaimana melihat Suzzanna tidak bertransformasi menjadi sosok makhluk tertentu, tapi menjadi manusia yang sedang mempelajari sesuatu untuk tujuan tertentu. Angle itu aja sudah menarik sekali," kata Reza Rahadian kepada awak media.

Baca Juga: Ramadan Perdana Jadi Istri Maxime, Luna Maya Justru Sahur Lesehan Bareng Warga Aceh

Sutradara Azhar Kinoi Lubis menambahkan bahwa Suzzanna dalam film ini diposisikan sebagai representasi perlawanan perempuan. dia membandingkan karakter ikonik ini dengan tokoh pahlawan super.

"Suzzanna ini seperti Wonder Woman. Setiap kita tonton filmnya dulu, dia adalah tokoh wanita yang dikasih pesan, ada pelecehan seksual, ada penindasan terhadap wanita, bagaimana dia menjadi korban. Aura itu yang ingin saya bangkitkan lagi. Dia perwakilan wanita Indonesia yang mau bicara, dia bangkit," beber Azhar Kinoi Lubis.

Judul "Dosa di Atas Dosa" sendiri merujuk pada konflik moral yang dialami para karakter. Produser dan penulis skenario mencoba menggambarkan bahwa dalam situasi tertindas, manusia bisa terjebak melakukan kesalahan fatal demi bertahan hidup.

Riset Budaya dan Berbagai Jenis Santet

Sesuai judulnya, elemen santet menjadi motor penggerak plot. Namun, tim produksi enggan menyajikan santet hanya sebagai bumbu teror visual.

Penulis skenario, Jujur Prananto, disebutkan melakukan riset mendalam selama berbulan-bulan di wilayah Jawa Timur untuk membedah anatomi ilmu hitam tersebut.

Kinoi Lubis mengungkapkan bahwa film ini akan memperkenalkan berbagai jenis santet yang memiliki kekhasan berdasarkan daerah asalnya.

"Santet di sini enggak hanya satu. Mas Jujur riset ke Jawa Timur karena santet itu dikenal di sana. Santet Ponorogo itu beda dengan santet Banyuwangi. Cara kerjanya beda, mantranya beda," tutur sang sutradara.

"Ada yang menyerang jiwa, ada yang menghancurkan tubuh. Kita ingin memberikan edukasi bahwa ilmu sihir ini juga memiliki kaitan erat dengan culture atau budaya setempat," tambahnya.

Luna Maya menambahkan bahwa santet dalam film ini bukan sekadar alat untuk menakut-nakuti penonton, melainkan sebuah media yang menggerakkan karakter.

"Santet ini yang menggerakkan cerita dan karakter. Ada filosofi di balik kenapa orang sampai menyantet dan belajar santet. Ini membuat perjalanannya jadi bukan sekadar film horor biasa, tapi melihat perjalanan seseorang yang berada di situasi tertentu sehingga dia harus menempuh jalan dosa itu," ungkap aktris kelahiran Denpasar tersebut.

Totalitas Produksi: Dari Prostetik Belgia hingga Efek Praktikal

Dari sisi teknis, film produksi Soraya Intercine Films ini mengedepankan skala produksi "grande" atau besar.

Selain menggunakan ribuan pemeran pendukung untuk memperkuat kesan kolosal, tim produksi tetap setia pada penggunaan efek praktikal dibandingkan CGI untuk adegan-adegan ekstrem.

Luna Maya kembali harus merelakan wajahnya ditempeli prostetik selama berjam-jam. Pihak rumah produksi bahkan mendatangkan ahli prostetik dari Belgia, Alexander, untuk memastikan detail wajah Suzzanna tampak nyata.

"Rata-rata pemasangan memakan waktu empat sampai lima jam, tergantung tingkat kesulitan. Kalau jadi manusia itu justru lebih ribet karena detail pori-porinya harus dibuat satu-satu pakai alkohol," papar Luna.

"Kadang kena mata pedih, bau lemnya juga tajam. Pas dicopot sakit banget karena kulit jadi merah-merah, tapi hasilnya memang luar biasa detail," lanjut dia.

Reza Rahadian juga memuji komitmen Kinoi Lubis yang meminimalkan penggunaan layar hijau (green screen).

"Hampir kalian enggak menemukan green screen. Semuanya praktikal. Ada adegan binatang keluar dari telinga atau betis, itu pakai makeup palsu yang dibuat di lokasi. Bahkan adegan bola api melayang itu praktikal, sampai Luna sempat teriak karena panas beneran," kenang Reza.

Insiden Nyaris Tenggelam di Sungai

Syuting yang dilakukan di seluruh penjuru Pangandaran, Jawa Barat, menyisakan cerita menegangkan bagi Luna Maya. Dalam salah satu adegan kunci di sungai, Luna memutuskan untuk tidak menggunakan pemeran pengganti (stunt double), yang nyaris berujung fatal.

"Itu pengalaman aku antara hidup dan mati. Aku terjun ke sungai, tapi tidak memperhitungkan arus bawah terjun kecil itu ternyata gulungan air. Dengan beban baju yang berat, wig, dan prostetik yang menutup hidung, aku kegulung di dalam air selama 30 detik," cerita Luna.

Istri Maxime Bouttier ini mengaku sempat pasrah saat tubuhnya terus berputar di bawah permukaan air tanpa bisa bernapas karena lubang hidung prostetik yang sempit.

"Di dalam itu gelap, aku cuma bisa lemesin badan ngikutin arus sambil jaga-jaga jangan sampai nyangkut di batu. Pas sudah merasa ada dorongan sedikit, baru aku paksa naik ke atas. Itu benar-benar menyesakkan karena napas lewat prostetik itu susah banget," tambahnya.

Langkah Berani Menghidupkan Genre Kolosal

Kehadiran aktor legendaris Clift Sangra sebagai tokoh Bisman menjadi pelengkap narasi dalam semesta Suzzanna ini. Clift, yang biasanya berperan sebagai protagonis dalam film-film Suzzanna klasik, kini memerankan lurah rakus yang menjadi pemicu konflik utama.

Reza Rahadian melihat langkah Soraya Intercine Films menghidupkan kembali genre horor kolosal sebagai risiko yang patut diapresiasi.

Film Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa diproduseri oleh Sunil Soraya dengan jajaran pemain lintas generasi seperti Djenar Maesa Ayu, Andi /rif, Adi Bing Slamet, El Manik, Yatti Surachman, Iwa K, hingga komedian Nunung dan Aziz Gagap.

Dengan durasi yang dipersiapkan secara matang, film ini diharapkan tidak hanya menjadi ajang nostalgia bagi penggemar film klasik 80-an, tetapi juga menjadi standar baru bagi film horor modern Indonesia.

Load More