- Ragamuda 2026 menunjukkan keberagaman Indonesia sebagai kekuatan persatuan generasi muda.
- Ratusan pelajar lintas daerah berkolaborasi lewat budaya, seni, dan kreativitas.
- Kegiatan ini menegaskan pentingnya pendidikan dalam membentuk generasi muda yang toleran dan inklusif.
Suara.com - Jalanan protokol dari Menteng hingga kawasan Sarinah mendadak meriah dengan warna-warni wastra nusantara dan dentuman kreativitas pada Minggu (23/8).
Ratusan pelajar dari berbagai penjuru Jabodetabek hingga daerah luar Jawa berkumpul, mengubah jalanan ibu kota menjadi panggung budaya raksasa. Ini adalah puncak acara Ragamuda 2026, sebuah gelaran kolaboratif yang menonjolkan parade budaya dan unjuk bakat sebagai corong persatuan generasi muda.
Mengusung tema "Gelora Persatuan Generasi Muda", Ragamuda 2026 menjadi ajang unjuk gigi bagi lebih dari 500 peserta yang berasal dari 53 sekolah menengah.
Fokus utama kegiatan hari kedua ini adalah Parade Budaya dan pertunjukan bakat bertajuk Laras Pemuda. Dalam kegiatan ini, para siswa mengenakan kostum tradisional yang dimodifikasi secara apik, merepresentasikan kekayaan identitas Indonesia yang plural.
Rute parade yang dimulai dari kompleks Kolese Kanisius menuju ikon sejarah Sarinah dipilih bukan tanpa alasan. Perjalanan ini diyakini jadi simbol gerak maju pemuda dari institusi pendidikan menuju ruang publik untuk menyuarakan pesan perdamaian.
Para peserta bukan cuma berjalan, tetapi juga menampilkan koreografi dan musik yang menggabungkan elemen tradisional dengan napas modernitas.
Antusiasme penonton di sepanjang jalur parade menunjukkan bahwa daya tarik budaya nusantara masih sangat kuat di mata audiens urban.
"Melalui Ragamuda 2026, kami ingin menunjukkan bahwa keberagaman bukan sekadar wacana, tapi kekuatan nyata. Saat anak muda mengenakan baju adatnya dan berkolaborasi dalam satu panggung bakat, itulah nasionalisme sejati," kata perwakilan panitia penyelenggara dalam siaran pers yang diterima Suara.com, Senin (24/8).
Penyelenggara Ragamuda pada tahun ini terdiri dari kolaborasi apik OSIS SMA Al-Izhar Pondok Labu, Kolese Kanisius, dan SMAK Pangudi Luhur Brawijaya.
Salah satu hal yang membuat Ragamuda 2026 terasa begitu istimewa adalah jangkauan pesertanya yang meluas. Bukan cuma didominasi sekolah-sekolah di Jabodetabek, acara ini juga dihadiri oleh delegasi sekolah dari luar daerah seperti SMA De Britto Yogyakarta, SMA Michael Surakarta, PIKA Semarang, Al-Mizan Majalengka, hingga SMAK Borong dari Nusa Tenggara Timur (NTT).
Kehadiran siswa-siswi dari NTT dan Jawa Tengah ini memberikan warna tersendiri dalam parade. Pesannya adalah Ragamuda milik seluruh pemuda Indonesia, dari Sabang sampai Merauke.
Talkshow inspiratif
Sebelum puncak parade budaya pada Minggu, rangkaian Ragamuda 2026 telah dimulai sejak Sabtu, (22/8). Fokus hari pertama adalah pembekalan intelektual melalui talkshow inspiratif yang menghadirkan tokoh-tokoh berpengaruh seperti Inayah Wulandari Wahid, Js. Kristan, dan Maman Suherman.
Ketiga narasumber membagikan perspektif mendalam mengenai bagaimana mengelola keberagaman di era digital. Tujuan diskusi ini memberikan fondasi pemikiran bagi peserta sebelum mereka terjun ke lapangan untuk berparade.
Sesi dinamika kelompok juga digelar untuk memecahkan sekat-sekat antar-sekolah, sehingga tercipta hubungan emosional yang erat di antara para calon pemimpin masa depan tersebut.