Nonton Lagi Film Pengkhianatan G30S/PKI Karya Arifin C Noer Malam Ini di Trans TV

Rabu, 30 September 2026 | 15:23 WIB
Fil Pengkhiatan G30S/PKI akan tayang Rabu (30/9/2026) malam ini pukul 20.00 WIB di Trans TV. [Instagram]
BACA 10 DETIK
  • Trans TV menayangkan kembali film Pengkhianatan G30S/PKI karya Arifin C. Noer pada Rabu malam, 30 September 2027 pukul 20.00 WIB.
  • Film berdurasi empat jam tersebut tetap ikonik karena teknik penyutradaraan bergaya thriller psikologis dan akting kuat para pemerannya.
  • Masyarakat kini menonton film tersebut sebagai catatan sejarah masa lalu sekaligus objek studi media yang membangun narasi besar.

Suara.com - Meski kalender telah menunjukkan tahun 2026, film Pengkhianatan G30S/PKI (1984) tetap menjadi magnet diskusi publik setiap penghujung bulan September.

Rabu (30/9/2027) malam ini pukul 20.00 WIB, Trans TV kembali menyuguhkan mahakarya Arifin C. Noer ini ke ruang tamu pemirsa.

Di tengah gempuran konten digital dan film sejarah versi baru, karya berdurasi lebih dari empat jam ini tetap berdiri kokoh sebagai sebuah monumen sinematik yang provokatif sekaligus ikonik.

Estetika Horor dan Ketegangan yang Tak Lekang Waktu

Salah satu alasan mengapa film ini tetap "mengerikan" untuk ditonton meski kita sudah mengetahui akhir ceritanya adalah kepiawaian Arifin C. Noer dalam membangun atmosfer.

Alih-alih tampil sebagai dokumenter yang kering, film ini lebih terasa seperti psychological thriller.

Penggunaan bayangan (chiaroscuro), kepulan asap rokok yang dramatis di ruang-ruang rapat gelap, hingga musik latar garapan Embie C. Noer yang minimalis namun menyayat, berhasil menciptakan rasa mencekam yang konstan.

Adegan penculikan para jenderal di dini hari yang sunyi tetap menjadi sekuens horor paling efektif dalam sejarah sinema Indonesia.

Akting yang Melekat Kuat

Sulit untuk memisahkan sosok Suharto dari akting tenang nan berwibawa mendiang Amoroso Katamsi.

Begitu pula dengan Bram Adrianto yang memerankan DN Aidit; penggambaran sosok yang gelisah dengan kepulan asap rokok yang tak henti-hentinya telah menjadi pola dasar (archetype) antagonis dalam memori kolektif penonton Indonesia.

Akting para pemeran di film ini bukan sekadar berakting, melainkan seolah-olah "menjadi" sejarah itu sendiri bagi generasi yang lahir setelah tahun 1965.

Menonton dengan Kacamata 2026

Menonton film ini di tahun 2026 tentu berbeda dengan menontonnya di era Orde Baru.

Penonton hari ini jauh lebih kritis dan memiliki akses luas terhadap riset-riset sejarah tandingan. Namun, di situlah letak urgensinya.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com