/
Senin, 18 September 2023 | 06:15 WIB
Ajang Sukanda (48) penjual baso cuanki, saat mangkal di halaman Masjid Besar Tarogong Kidul, Garut, Minggu (17/9/2023). ((Dok. Suara Garut/ Encep))

SUARA GARUT- Hampir berbarengan dengan munculnya berita adanya catatan kemiskinan ekstrem di Kabupaten Garut, muncul pula kisah getir memilukan dari seorang pedagang kecil.

Adalah Ajang Sukanda, warga Kampung Ragamukti, Desa Sirnajaya, Kecamatan Samarang, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Dalam beberapa tahun terakhir ini, pria berusia 48 tahun itu memilih berjualan baso cuanki untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Sebelumnya, Ia sempat mengadu nasib di kota Kembang Bandung sebagai pedagang rujak hingga sayuran.

Karena berjualan di Bandung tak berhasil, ditambah istrinya yang kerap sakit-sakitan, akhirnya Ajang kembali ke Garut dan mencoba berjualan baso cuanki.

"Ya, saya dulu sempat berjualan rujak dan sayuran di Bandung. Namun kurang cocok dan selalu merugi, kemudian istri saya di kampung sering sakit sakitan. Jadi saya pulang ke Garut lagi dan berdagang baso cuanki," tutur Ajang, ketika dijumpai garut.suara.com, saat mangkal di halaman Masjid Besar Tarogong Kidul, Garut, Minggu (17/9/2023).

Belakangan ini, Ajang sangat merasakan bagaimana sulitnya perekonomian sekarang. Jualan cuankinya lebih banyak sepinya daripada lakunya.

"Sepi sekarang mah (jualan cuanki). Saya jarang pulang, kini ngontrak di koskosan. Kadang-kadang dari jualan cuanki ini untuk makan pun tak cukup," tuturnya, lirih.

Ditengah kesulitan ekonomi yang menerpanya, sudah lima tahun terakhir ini Ajang harus hidup menduda karena istri tercintanya meninggal dunia.

Baca Juga: 7 Pemain Muda Ini Diprediksi Bakal Bersinar di Piala Dunia U-17, Ada dari Timnas Indonesia

"Ya, mungkin ini sudah takdir saya. Istri meninggal lima tahun lalu karena sakitnya tak kunjung sembuh. Saya merasa sangat berdosa karena kondisi ekonomi yang sulit sehingga tak mampu mengobati istri saya," tutur Ajang, seraya menatap kosong ke arah gerobak cuankinya.

Sementara itu, anak laki-laki Ajang kini sudah tumbuh besar, anak pertamanya itu kini turut membantu perekonomian keluarganya dengan berjualan basreng (baso goreng) keliling.

"Anak saya yang pertama sekarang sudah besar, gak sekolah, gak ada biaya. Ia berjualan basreng keliling. Alhamdulillah bisa bantu biaya adiknya yang masih sekolah di SMP. Anak saya yang kedua tinggal bersama neneknya di kampung," ungkapnya.

Bagi Ajang, sesulit apapun kehidupan ini tak perlu disesali, karena kehidupan ini hanyalah tempat singgah sementara.

"Bukan saya ingin mengeluh. Ini berbagai cerita saja. Sesulit apapun kehidupan ini tak perlu disesali, karena kehidupan di dunia ini hanyalah sementara saja. Jangan sampai kita menggadaikan Iman Islam kita hanya untuk meraih harta benda di dunia ini. Tugas kita di dunia ini beribadah dan berikhtiar mencari nafkah yang halal sekuat tenaga, selebihnya tawakal kepada Allah SWT," ungkapnya.

Karena sepinya pembeli, Ajang kini jarang berkeliling, sehari-hari ia biasa mangkal berjualan baso cuanki di halaman Masjid Besar Tarogong Kidul yang tak jauh dari komplek Pemkab Garut.

Load More