Suara.com - Studi terkini menunjukkan bahwa minum teh tiga cangkir sehari bisa menurunkan risiko patah tulang hingga 30 persen.
Menurut peneliti, zat kimia yang terkandung dalam teh yang disebut flavonoid bisa membantu para lanjut usia (lansia) melawan penyakit yang berhubungan dengan kerapuhan tulang.
Untuk mendapatkan temuan ini peneliti dari Rumah Sakit Sir Charles Gairdner di Perth, Rumah Sakit Royal Perth, dan Flinders University of South Australia di Adelaide, mempelajari 1200 perempuan berusia 70 tahun selama 10 tahun penelitian.
Masing-masing responden ditanyai mengenai kebiasaan minum teh mereka lalu dilakukan pemeriksaan untuk menguji kekuatan tulang mereka saat lansia. Selama periode penelitian berlangsung, 288 perempuan jatuh dan mengalami patah tulang. Bahkan hampir separuhnya mengalami patah tulang di bagian pinggul.
Namun responden yang mengonsumsi tiga cangkir teh setiap hari ternyata memiliki kemungkinan 30 persen lebih kecil mengalami patah tulang dibanding mereka yang hanya mengonsumsi satu cangkir tiap minggunya. Oleh karena itu peneliti berpendapat bahwa mengonsumsi setidaknya secangkir teh dapat menurunkan risiko patah tulang sebanyak 9 persen.
"Temuan kami menegaskan bahwa makanan dan minuman yang kaya flavonoid seperti buah, sayur dan teh bisa menurunkan risiko seseorang terkena patah tulang dan keropos saat berusia lanjut," ujar peneliti Dr Jonathan Hodgson. (Daily Mail)
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara
- 7 HP Midrange RAM Besar Baterai 7000 mAh Paling Murah yang Layak Dilirik
- Motor Eropa Siap Sikat CBR150R dan R15, Harganya Cuma Segini
- Promo Alfamart Hari Ini 6 Mei 2026, Serba Gratis hingga Tukar A-Poin dengan Produk Pilihan
- 5 Sepatu Lokal Versatile Mulai Rp100 Ribuan, Empuk Buat Kerja dan Jalan Jauh
Pilihan
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
Terkini
-
Bukan Sekadar Liburan: Mengapa Medical Vacation Kini Jadi Tren Baru Masyarakat Urban?
-
Heboh Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar, Bagaimana Perubahan Iklim Bisa Perparah Risiko?
-
Ratusan Ribu Kasus Stroke Terjadi Tiap Tahun, Penanganan Cepat Dinilai Sangat Krusial
-
Perempuan Jadi Kelompok Paling Rentan di Tengah Krisis Iklim dan Bencana, Bagaimana Solusinya?
-
Jangan Anggap Sepele Ruam dan Gangguan Cerna, Ini Pentingnya Deteksi Dini Alergi pada Anak
-
Pekan Imunisasi Dunia Jadi Pengingat, DBD Kini Mengancam Anak hingga Dewasa
-
Riset Harvard Ungkap Bermain Bersama Orang Tua Bantu Bangun Koneksi Otak Anak
-
Krisis Iklim Berdampak ke Kesehatan, Seberapa Siap Layanan Primer Indonesia?
-
Geger Hantavirus Menyebar di Kapal Pesiar, Tiga Orang Dilaporkan Meninggal Dunia
-
Hasil Investigasi KKI: 92% Konsumen Keluhkan Galon Tua, Ternyata Ini Dampak Buruknya bagi Tubuh