Suara.com - Krisis iklim tidak hanya hadir dalam bentuk kebakaran hutan, banjir, kekeringan, atau cuaca ekstrem. Dampaknya juga dapat masuk ke meja makan dan memengaruhi makanan yang dikonsumsi anak-anak.
Perubahan iklim dapat mengganggu produksi dan distribusi pangan. Ketika kekeringan menurunkan hasil pertanian atau banjir mengganggu jalur distribusi, pasokan makanan ikut terdampak. Kondisi tersebut kemudian dapat mendorong kenaikan harga pangan, termasuk buah, sayuran, dan makanan segar.
Ketika makanan bergizi semakin sulit dijangkau, keluarga berpenghasilan rendah dapat terdorong memilih makanan yang lebih murah dan tahan lama, tetapi memiliki nilai gizi lebih rendah. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat meningkatkan risiko kekurangan gizi sekaligus obesitas pada anak.
Hubungan antara perubahan iklim, malnutrisi, dan obesitas dikenal melalui konsep global syndemic. Pada 2019, sebuah komisi internasional yang diterbitkan dalam jurnal The Lancet mengaitkan ketiga persoalan tersebut.
Sindemik menggambarkan kondisi ketika dua atau lebih masalah kesehatan terjadi secara bersamaan, saling berinteraksi, dan diperburuk oleh faktor sosial yang sama.
Dalam konteks ini, obesitas, malnutrisi, dan perubahan iklim tidak berdiri sendiri. Ketiganya dapat berkaitan dengan ketimpangan sosial, keterbatasan akses terhadap makanan sehat, serta sistem pangan yang tidak berkelanjutan.
Sistem pangan mencakup rangkaian aktivitas mulai dari produksi, pengolahan, distribusi, pemasaran hingga konsumsi makanan. Sistem tersebut juga dipengaruhi faktor lingkungan, ekonomi, politik, teknologi, dan budaya.
Balita Jadi Kelompok Rentan
Dampak persoalan ini menjadi semakin penting ketika dikaitkan dengan anak di bawah usia lima tahun. Pada fase tersebut, anak berada dalam periode penting bagi pertumbuhan dan perkembangan.
Pola makan serta kondisi lingkungan pada masa awal kehidupan dapat memengaruhi pertumbuhan, perkembangan, sistem kekebalan tubuh, hingga kesehatan anak pada masa berikutnya.
Kelompok anak dan keluarga berpenghasilan rendah juga cenderung menghadapi dampak yang lebih berat. Mereka memiliki sumber daya yang lebih terbatas untuk beradaptasi ketika harga pangan meningkat atau akses terhadap makanan sehat terganggu.
Untuk melihat hubungan tersebut, kelompok peneliti Sustentarea dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas São Paulo mengembangkan Panel Interaktif tentang Sindemik Global pada Anak di Bawah 5 Tahun.
Panel tersebut menggunakan data tingkat kota di Brasil untuk memetakan persoalan gizi anak sekaligus emisi gas rumah kaca.
Data stunting dan obesitas berasal dari Sistem Pengawasan Pangan dan Gizi (Sisvan) Kementerian Kesehatan Brasil. Sementara itu, data emisi gas rumah kaca tingkat kota berasal dari Sistema de Estimativas de Emissões e Remoções de Gases de Efeito Estufa (SEEG) Brasil.
Penelitian menggunakan data periode 2008-2019. Data 2020-2022 tidak digunakan karena pandemi COVID-19 memengaruhi penggunaan layanan kesehatan dan membuat tren pada periode tersebut belum cukup kuat.
Persoalan Gizi Tak Bisa Diselesaikan Sektor Kesehatan Saja
Pemetaan tersebut menemukan sejumlah wilayah yang menghadapi beban ganda kekurangan gizi, yakni ketika kekurangan gizi dan kelebihan berat badan muncul secara bersamaan. Ada pula wilayah yang menghadapi persoalan gizi bersamaan dengan tingkat emisi yang tinggi.
Namun, peneliti tidak menyimpulkan bahwa tingginya emisi di sebuah kota secara langsung menyebabkan masalah gizi di wilayah tersebut.
Pemetaan digunakan untuk melihat pola geografis dan memahami bagaimana karakteristik sistem pangan berhubungan dengan persoalan gizi serta emisi.
Para peneliti mengidentifikasi empat profil sistem pangan di Brasil, yaitu sabuk pertanian, pusat ekonomi, poros pembangunan laten, dan wilayah kerentanan.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa persoalan pangan dapat memiliki akar masalah yang berbeda. Di satu wilayah, persoalan dapat berkaitan dengan pendapatan rendah dan terbatasnya akses terhadap pangan. Di wilayah lain, masalah bisa berkaitan dengan lingkungan pangan yang didominasi produk ultra-olahan atau dampak lingkungan dari sistem produksi pangan.
Karena itu, penanganan masalah gizi anak tidak cukup hanya mengandalkan sektor kesehatan.
Kebijakan terkait pendapatan, ketahanan pangan, produksi pangan berkelanjutan, pasokan makanan, perlindungan lingkungan, serta adaptasi terhadap perubahan iklim juga diperlukan.
Pada akhirnya, krisis iklim bukan hanya persoalan kenaikan suhu dan cuaca ekstrem. Gangguan terhadap sistem pangan juga dapat menentukan makanan apa yang tersedia dan terjangkau bagi keluarga, yang pada akhirnya turut memengaruhi kesehatan dan gizi anak sejak usia dini.
Penulis: Chairunisa