Tak Cukup Bicara soal Haid, Remaja Perempuan Perlu Edukasi Kesehatan Reproduksi

Senin, 12 Oktober 2026 | 15:39 WIB
Ilustrasi kesehatan reproduksi perempuan. (dok. ist)
BACA 10 DETIK
  • Unicharm Indonesia dan Dinas Kesehatan Karawang memberikan edukasi menstruasi inklusif di SLB B Tunas Harapan pada 12 Agustus 2026.
  • Kegiatan bagi siswi tunarungu tersebut menggunakan alat bantu visual, media bergambar, dan penerjemah bahasa isyarat untuk menyampaikan materi kebersihan diri.
  • Pemerintah menyatakan anak berkebutuhan khusus berhak mendapat edukasi kesehatan reproduksi dan manajemen kebersihan menstruasi yang layak secara setara.

Suara.com - Menstruasi merupakan bagian alami dari proses tumbuh kembang perempuan. Namun, memahami perubahan tubuh, menjaga kebersihan saat menstruasi, hingga memilih pembalut yang sesuai kebutuhan membutuhkan informasi yang benar dan mudah dipahami.

Akses terhadap informasi tersebut juga penting bagi remaja perempuan penyandang disabilitas. Mereka memiliki hak yang sama untuk mendapatkan edukasi kesehatan reproduksi, termasuk pemahaman tentang menstruasi dan cara menjaga kebersihan diri.

Sayangnya, keterbatasan akses informasi masih menjadi tantangan bagi sebagian remaja penyandang disabilitas. Materi edukasi yang tidak disesuaikan dengan kebutuhan mereka dapat membuat informasi kesehatan sulit dipahami.

Karena itu, edukasi kesehatan reproduksi perlu disampaikan dengan metode yang inklusif agar setiap remaja perempuan dapat mengenali tubuhnya, memahami kebutuhan kebersihannya, dan merawat diri secara mandiri.

Edukasi Menstruasi Perlu Disampaikan dengan Cara yang Mudah Dipahami

Salah satu upaya menghadirkan edukasi yang lebih inklusif dilakukan melalui kegiatan bertajuk Love Your Possibilities: We Can! di SLB B Tunas Harapan, Karawang, Jawa Barat, pada Rabu (12/8/2026).

Kegiatan yang diikuti puluhan siswi tunarungu dan guru pendamping tersebut diselenggarakan oleh Unicharm Indonesia bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Karawang.

Agar materi lebih mudah dipahami, edukasi dikemas secara interaktif dengan menggunakan alat bantu visual dan media bergambar, serta didukung penerjemahan bahasa isyarat oleh guru pendamping.

Materi yang diberikan mencakup cara menjaga kebersihan diri selama menstruasi, memilih pembalut sesuai kebutuhan, serta memahami mitos dan fakta seputar menstruasi.

Pemilihan pembalut yang sesuai juga menjadi salah satu topik pembelajaran. Pemahaman mengenai kebutuhan menstruasi dapat membantu remaja memilih produk yang nyaman dan sesuai dengan kondisi masing-masing.

Mewakili Dinas Kesehatan Kabupaten Karawang, Ketua Tim Kerja Promosi Kesehatan dr. Hardi Hermawan, MKM, mengapresiasi kolaborasi tersebut.

Menurutnya, anak berkebutuhan khusus memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang layak, termasuk edukasi kesehatan reproduksi, manajemen kebersihan menstruasi, dan perawatan kebersihan diri.

“Anak-anak berkebutuhan khusus memiliki hak mutlak yang sama untuk mendapatkan pendidikan yang layak, termasuk edukasi kesehatan reproduksi, manajemen kebersihan menstruasi, dan perawatan kebersihan diri,” ujar Hardi.

Ia menilai kolaborasi antara pemerintah daerah dan sektor swasta penting untuk memperluas jangkauan informasi kesehatan dasar bagi kelompok yang membutuhkan pendekatan khusus.

Hak Kesehatan Reproduksi Perempuan Penyandang Disabilitas

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com