Anak Aktif atau ADHD? Kenali Gejala yang Perlu Diperhatikan Orang Tua

Senin, 12 Oktober 2026 | 17:19 WIB
Ilustrasi anak aktif. (Dok. Ist)
BACA 10 DETIK
  • Psikolog Diah Cahyaningrum dari Atelier of Minds mengingatkan orang tua di Jakarta agar tidak terburu-buru melabeli anak dengan ADHD.
  • ADHD adalah gangguan perkembangan saraf yang mencakup tiga gejala utama, yaitu inatensi, hiperaktivitas, dan impulsivitas yang menetap.
  • Okupasi terapis Dwi Ayu menyarankan orang tua membangun rutinitas konsisten di rumah untuk melatih keteraturan dan kemandirian anak.

Suara.com - Anak yang sulit duduk diam, mudah teralihkan, atau kerap menyela pembicaraan bisa membuat orang tua bertanya-tanya apakah perilaku tersebut merupakan bagian dari tumbuh kembang yang wajar atau tanda Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD).

Namun, anak yang aktif belum tentu mengalami ADHD. Orang tua perlu memahami pola perilaku anak, termasuk seberapa sering perilaku tersebut muncul dan apakah sampai mengganggu aktivitas sehari-hari.

Psikolog Atelier of Minds, Diah Cahyaningrum, S.Psi., M.Psi., Psikolog, mengingatkan orang tua agar tidak terburu-buru memberikan label kepada anak hanya berdasarkan perilaku yang terlihat.

“Kekhawatiran orang tua ketika menerima laporan dari sekolah atau melihat anak tidak bisa diam di rumah adalah hal yang sangat wajar. Namun, melihat indikasi awal bukan berarti anak pasti mengidap ADHD. Fokus utama orang tua adalah mengamati dan memahami pola perilaku anak, bukan terburu-buru memberikan label. ADHD memiliki kriteria diagnostik yang terukur dan membutuhkan evaluasi menyeluruh dari profesional yang kompeten,” ungkap Diah.

Pesan tersebut menjadi salah satu perhatian Atelier of Minds, pusat student care dan enrichment inklusif di Jakarta Selatan, dalam memperingati ADHD Awareness Month yang berlangsung setiap Oktober.

Kenali Tiga Gejala Utama ADHD

ADHD merupakan gangguan perkembangan saraf yang ditandai dengan pola kurangnya perhatian (inatensi), hiperaktivitas, dan impulsivitas. Gejala tersebut bersifat menetap dan dapat mengganggu fungsi sehari-hari maupun perkembangan anak.

Ada tiga kelompok gejala yang perlu dipahami orang tua:

  • Inatensi: Anak mudah teralihkan, kesulitan mempertahankan fokus, tidak menyelesaikan instruksi, atau kesulitan mengatur tugas dan barang-barangnya.
  • Hiperaktivitas: Anak menunjukkan aktivitas gerak berlebihan, seperti terus bergerak, gelisah, mengetuk-ngetukkan tangan atau kaki, atau berbicara secara berlebihan.
  • Impulsivitas: Anak cenderung bertindak sebelum mempertimbangkan konsekuensinya, misalnya menyela pembicaraan atau melakukan tindakan berisiko tanpa memperhatikan situasi.

Berdasarkan pola gejalanya, ADHD terbagi menjadi tiga tipe, yakni dominan inatensi, dominan hiperaktivitas dan impulsivitas, serta kombinasi keduanya.

Gejala dan dampaknya bisa berbeda pada setiap anak. Sebagian anak mungkin mengalami kesulitan menyelesaikan tugas atau mengingat barang, sementara yang lain menghadapi tantangan dalam berinteraksi dengan teman sebaya.

Karena itu, orang tua perlu melihat perilaku anak secara menyeluruh, bukan hanya berfokus pada satu kebiasaan. Penilaian profesional diperlukan untuk menentukan apakah gejala yang muncul memenuhi kriteria ADHD.

Bantu Anak dengan Rutinitas yang Konsisten

Selain mengenali gejala, orang tua dapat membantu anak melalui lingkungan yang lebih terstruktur. Rutinitas yang konsisten dapat menjadi salah satu cara untuk melatih keteraturan dan kemandirian anak dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

Okupasi Terapis Atelier of Minds, Dwi Ayu Nur Komariyah, M.Sc.OT, menjelaskan bahwa orang tua dapat memulai dengan membangun kebiasaan sederhana di rumah.

“Untuk membantu anak yang menunjukkan kecenderungan hiperaktif atau inatensi, kuncinya terletak pada pembentukan lingkungan yang terstruktur. Orang tua dapat memulainya dengan membuat rutinitas harian yang konsisten, mulai dari waktu bangun hingga tidur. Selain itu, latih pengaturan diri anak secara bertahap, misalnya membiasakan anak meletakkan tas sekolah, pakaian, dan mainan di tempat yang sama setiap hari agar tidak mudah hilang dan melatih keteraturan,” jelas Dwi.

Orang tua bisa menerapkan kebiasaan tersebut secara bertahap, tanpa menuntut anak langsung mampu melakukan semuanya dengan sempurna. Konsistensi dalam membangun rutinitas menjadi bagian penting dari proses belajar anak.

Melalui edukasi ADHD Awareness Month, Atelier of Minds mengajak orang tua untuk lebih cermat memahami perilaku anak dan memberikan dukungan sesuai kebutuhannya.

Dengan pengamatan yang tepat dan pendampingan profesional bila diperlukan, orang tua dapat membantu anak menghadapi tantangan sehari-hari tanpa terburu-buru menyimpulkan kondisi yang dialaminya.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com