Sering Sakit Lambung, Nyeri Perut hingga BAB Berubah? Kenali Penyebab dan Penanganannya

Rabu, 21 Oktober 2026 | 18:21 WIB
ilustrasi masalah pencernaan (freepik.com/jcomp)
BACA 10 DETIK
  • Dr. Eko Priatno dari Bethsaida Hospital Gading Serpong menyatakan penanganan gangguan pencernaan tidak selalu memerlukan tindakan operasi.
  • Bethsaida Hospital Gading Serpong menyediakan Digestive Center terintegrasi dengan teknologi medis canggih untuk diagnosis dan pembedahan.
  • Pasien dengan gejala pencernaan berulang disarankan segera melakukan pemeriksaan medis agar mendapat terapi yang tepat.

Suara.com - Nyeri perut, sakit lambung, asam lambung yang sering kambuh, hingga perubahan pola buang air besar merupakan keluhan yang cukup umum dialami banyak orang. 

Tidak sedikit yang memilih mengabaikannya karena menganggap gangguan tersebut hanya disebabkan pola makan atau masalah pencernaan biasa.

Padahal, keluhan yang berulang atau tidak kunjung membaik perlu mendapat perhatian. Pemeriksaan diperlukan untuk mengetahui penyebabnya, terutama jika gejala terus muncul dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.

Dokter Spesialis Bedah Subspesialis Bedah Digestif Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr. Eko Priatno, Sp.B, Subsp.BD(K), mengatakan penanganan gangguan pencernaan tidak selalu berujung pada operasi. 

Dokter terlebih dahulu akan mencari penyebab keluhan dan menilai kondisi pasien sebelum menentukan terapi.

“Tidak semua gangguan pencernaan memerlukan operasi. Kami terlebih dahulu mencari penyebab keluhan dan mengevaluasi kondisi pasien, kemudian menentukan terapi yang paling sesuai. Tujuannya bukan hanya menangani penyakit, tetapi juga menjaga kualitas hidup pasien,” jelas dr. Eko.

Pada keluhan asam lambung atau GERD, misalnya, penanganan umumnya dimulai dengan perubahan gaya hidup dan pemberian obat-obatan. 

Namun, apabila keluhan tetap berlangsung meski terapi sudah dilakukan secara optimal, dokter dapat melakukan evaluasi lebih lanjut untuk mempertimbangkan tindakan antirefluks sesuai kondisi pasien.

Gangguan pada organ pencernaan lainnya juga memiliki pilihan penanganan yang berbeda. Pada batu empedu yang sudah menimbulkan keluhan atau komplikasi, misalnya, dokter dapat mempertimbangkan pengangkatan kantong empedu menggunakan teknik laparoskopi. 

Metode tersebut dilakukan melalui sayatan berukuran kecil sehingga pada pasien tertentu dapat membantu mempercepat proses pemulihan.

Sementara itu, keluhan pada usus juga perlu diperhatikan, terutama apabila disertai perubahan pola buang air besar yang menetap. Salah satu kondisi yang membutuhkan penanganan lebih serius adalah kanker usus besar dan kanker rektum.

dr. Eko menjelaskan, pasien dengan kanker usus atau rektum yang memenuhi kriteria dapat menjalani pembedahan minimal invasif. Pada kondisi tertentu, teknik Intersphincteric Resection (ISR) juga dapat dipertimbangkan pada kanker rektum untuk mengangkat kanker sekaligus mempertahankan fungsi anus.

“Pada kanker rektum, kami berupaya mempertahankan fungsi organ bila kondisi memungkinkan. Namun, keamanan pasien dan pengangkatan kanker sesuai prinsip medis tetap menjadi prioritas,” terangnya.

Selain masalah lambung dan usus, dokter bedah digestif juga menangani kasus kompleks yang melibatkan organ lain, seperti pankreas, saluran empedu, dan usus dua belas jari. 

Pada tumor tertentu di kepala pankreas, misalnya, operasi Whipple dapat menjadi salah satu pilihan apabila kondisi pasien memenuhi kriteria.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com