Lifestyle / male
Vania Rossa | Aflaha Rizal Bahtiar
Ilustrasi toxic masculinity [shutterstock]

Suara.com - Dalam lingkungan sosial, ada banyak macam racun di dalam setiap hubungan. Tak hanya racun dalam pertemanan, tapi juga dalam sebuah hubungan. Dan tahukah kamu, racun juga bisa tertanam pada seorang laki-laki, yang kerap disebut sebagai toxic masculinity.

Toxic masculinity ini berawal ketika keluarga mulai menanamkan paham kepada anak laki-lakinya bahwa ia harus menjadi laki-laki kuat dan tidak mudah cengeng. Padahal, hal ini bisa berdampak pada laki-laki menjadi sulit untuk mengungkapkan ekspresinya.

Seperti tak adil. Jika laki-laki tak boleh lemah dan cengeng, hal ini justru dianggap wajar pada perempuan. Hal ini lantaran perempuan dianggap berhati lemah, mudah terluka, dan mudah menangis.

Penanaman ini tentu saja tidak baik, karena dapat melahirkan ketidaksejajaran sosial, baik itu pada sisi laki-laki maupun perempuan.

Baca Juga: Sampai Pakai Traffic Cone, Usaha Bocah Selamatkan Kucing Bikin Warganet Terharu

Mengutip dari Verywell Mind, maskulinitas merupakan konsep yang tidak mudah didefinisikan. Penanaman paham tentang kejantanan ini bahkan telah menjadi sebuah praktik yang umum, melintasi waktu, budaya, dan juga individu.

Tentang toxic masculinity ini coba diungkap oleh American Psychological Association, di mana secara khusus standar yang diharapkan laki-laki adalah anti kelemahan, anti-feminitas, kekerasan, dan juga prestasi.

Dari toxic masculinity tersebut, ini bisa berdampak pada tekanan psikologis laki-laki, di mana tekanan terhadap standar itu membuat mereka sulit untuk menjadi diri sendiri, di mana mereka diharapkan menjadi lelaki yang anti-kelemahan, tidak mudah cengeng, dan selalu menjadi kuat.

Dampak toxic masculinity pada kesehatan mental
Menurut mahasiswa dari Central Michigan University, ada rasa ironi ketika standar maskulinitas terjadi pada anak laki-laki. Salah satunya bertindak seolah tidak boleh lemah dan harus berpura-pura kuat di lingkungan sosialnya.

“Hal terlemah yang dapat Anda lakukan adalah dengan berpura-pura bahwa Anda tidak punya masalah,” ungkap mahasiswa tersebut tanpa menyebutkan namanya.

Baca Juga: 5 Manfaat Sunat Bagi Laki-laki, Bisa Turunkan Risiko Rendah Tertular HIV

Bahkan untuk perawatan layanan kesehatan mental, keterbukaan emosi pasien kepada psikolog merupakan hal yang sangat penting. Sebagaimana yang diungkap oleh Psikiater Anak, Remaja, dan Dewasa Akeem Marsh.

Komentar