Suara.com - Penelitian terbaru menunjukan 1 dari dua orang atau 50 persen anak muda Indonesia alami overthinking karena situasi sosial, politik dan ekonomi di tanah air.
Kesimpulan ini berhasil direkam Health Collaborative Center (HCC) melalui penelitian yang dilakukan terhadap 1.061 orang berusia 20 hingga 49 tahun dari 29 provinsi di Indonesia, selama Januari hingga Februari 2025.
"Penelitian ini menunjukan bahwa overthinking terjadi pada 50 persen orang Indonesia yang diwakili oleh responden penelitian. Jadi kami dengan percaya diri mengatakan bahwa 1 dari 2 orang Indonesia saat ini mengalami overthinking," ujar Pendiri sekaligus Peneliti Utama Health Collaborative Center (HCC), Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH di Jakarta Selatan, Senin (24/2/2025).
Ada banyak sebab mengapa setengah penduduk Indonesia sedang mengalami overthinking. Dari banyaknya alasan yang ditanyakan dalam penelitian, Dr. Ray menyebut kenaikan bahan pokok, sulit dapat kerja, berobat semakin mahal, penyakit baru hingga konflik politik dan golongan jadi sebab terbanyak dan terbesar orang di Indonesia alami overthinking.
"Faktor pemicu palig tinggi berhubungan sama ekonomi. Kita buat pertanyana terbuka, jadi orang overthinking karena faktor ekonomi paling tinggi 71 persen, ketika ditanya kenapa overthinking bahan pokok terus naik, terus khusus yang tidak bekerja itu 70 persen, berobat makin mahal itu 60 persen, penyakit baru 68 persen sampai banyak konflik politik itu 53 persen," papar Dr. Ray.
Overthinking adalah pemikiran negatif dan kekahwatiran yang terus berulang yang mencakup masa lalu hingga mencemaskan masa depan.
Meski terdengar sepele, kondisi masyarakat yang alami overthinking ini tidak boleh diabaikan atau dibiarkan, karena jika berlarut-larut bisa merugikan negara karena menganggu produktivitas masyarakat. Apalagi overthinking bisa menular dari satu orang ke orang lain, dan dari satu kelompok ke kelompok lainnya.
"Pemerintah lakukan kebijakan yang bisa menekan overthinking. Harus ada studi skala besar level nasional, kenapa? karena ini dari 1.000 orang aja 50 persennya overthinking, kebayang kalau ada 10 juta orang overthinking itu bisa nular secara komunitas," saran Dr. Ray.
Menariknya, lelaki yang juga Inisiatus Kaukus Kesehatan Jiwa itu mengingatkan adanya fenomena tren #KaburAjaDulu yang tengah viral. Menurutnya, tren ini terbentuk dari pola pikir pessimistic fixation yang ajdi bagian dari overthinking.
Baca Juga: Anak Muda, Siap Kerja Sambil Lestarikan Lingkungan? Ini Dia Green Job!
Inilah sebabnya tren #KaburAjaDulu sebaiknya tidak dibiarkan karena bisa berbahaya dan merugikan negara. Apalagi tren ini digaungkan oleh anak muda Indonesia usia produktif, yang sama-sama jadi respoonden penelitin ini yaitu usia 20-49 tahun.
"Kabur Aja Dulu harus dimodifikasi, karena harus diredam dengan kebijakannya, jangan dijabanin karena itu bentuk refleksi overthinking masyarakat. Ini nggak bagus, bikin nggak produktif, apatis, dan menulari komunitas. Ketika komunitas tertular overthinking jadi makin apatis," pungkas Dr. Ray.
Adapun overthinking bisa berbahaya untuk kesehatan mental karena bisa memicu kecemasan, yang akhirnya orang itu cenderung memikiran hal buruk tanpa alasan jelas.
Selain itu overthinking juga bisa membuat stres. Nah, kalau sudah di tahapo stres kronis orang tersebut bisa alami depresi, gangguan tidur hingga penurunan konsentrasi.
Terakhir, overthinking juga bisa memicu rasa kurang percaya diri papda kemampuan. Hasilnya ia cenderung takut pada kegagalan dan trauma alami penolakan.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Rekomendasi Merk Rice Cooker yang Awet dan Bagus untuk Pemakaian Jangka Panjang
- Feng Shui Rumah Menghadap Utara, Lakukan 4 Tips Ini agar Energi Seimbang dan Bawa Hoki
- TNI Mau Ambil Alih Kamtibmas? TB Hasanuddin: Itu Tugas Polri
- Warga Teror Pekerja Stadion Sudiang, Pembangunan Tribun Selatan Terpaksa Ditinggalkan
- 5 Pilihan HP Samsung RAM 12 GB Agustus 2026, Performa Ngebut Anti Lag
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Bintang-bintang Legendaris Liga Inggris akan Saling Berhadapan di GBK, Catat Waktunya
-
Yenti Garnasih Bongkar Indikasi TPPU Febrie dan Luruskan Istilah Kriminalisasi
-
Polisi Temukan Bukti Permulaan, Kasus Kematian Sutrimo Naik ke Tahap Penyidikan Pidana
-
Kita Cari! Bahar bin Smith Geruduk The Sounds Project Buru Pelaku Hafalan Quran Hadiah Miras
-
Konvoi Usai Menang Futsal Berujung Petaka, 9 Pelajar Diamankan Polisi di Solo
-
Polresta Cirebon Sita 6.964 Butir Obat Keras Ilegal, Tiga Pengedar Ditangkap
-
Kolaborasi Kampus dan Industri Dinilai Penting untuk Bangun Kota Berkelanjutan
-
Mahasiswa Tersangka Tabrak Lari di Bandung Mengemudi dalam Kondisi Mabuk
-
Kasus Hafalan Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Sound Project Dilimpahkan ke Polda Metro Jaya
-
Pelaku Pemerkosaan dan Pembunuhan di Tangerang Beraksi Saat Mabuk, Pintu Rumah Korban Tak Terkunci