Lifestyle / Komunitas
Selasa, 03 Februari 2026 | 15:52 WIB
Ilustrasi pekerja Indonesia. [Pexels]
Baca 10 detik
  • Jobstreet by SEEK merilis laporan yang menempatkan Indonesia pada peringkat teratas indeks kebahagiaan kerja Asia Pasifik dengan skor 82%.
  • Dinamika kebahagiaan pekerja Indonesia didorong kuat oleh rekan kerja suportif, lokasi, dan makna pekerjaan, bukan hanya gaji.
  • Terdapat ancaman "Happy Burnout" dan kekhawatiran terhadap ancaman AI yang berdampak signifikan pada kondisi mental pekerja.

Suara.com - Sebuah laporan provokatif bertajuk “Workplace Happiness Index” yang dirilis oleh Jobstreet by SEEK pada Selasa (3/2/2026), menempatkan Indonesia di posisi puncak klasemen kebahagiaan kerja di kawasan Asia Pasifik. Dengan skor 82%, pekerja Indonesia tercatat jauh lebih bahagia dibandingkan rekan-rekan mereka di Singapura (56%) maupun Australia (57%).

Namun, di balik angka yang mengesankan tersebut, tersimpan alarm bahaya bagi manajemen perusahaan: fenomena happy burnout.

Laporan yang melibatkan 1.000 responden ini mengungkap bahwa kebahagiaan di tanah air tidak melulu soal angka di slip gaji. Meskipun 54% pekerja masih menginginkan upah lebih tinggi, mesin utama penggerak kepuasan mereka adalah koneksi manusia.

Sebanyak 77% pekerja menyatakan rekan kerja yang suportif adalah alasan utama mereka bertahan. Faktor lokasi (76%) dan perasaan bahwa pekerjaan mereka memiliki tujuan atau meaningful (75%) menjadi fondasi kuat mengapa Indonesia memimpin indeks ini.

Ancaman di Balik Layar: AI dan Stres Mental

Kebahagiaan ini ibarat pedang bermata dua. Wisnu Dharmawan, Acting Managing Director Jobstreet by SEEK Indonesia, memperingatkan agar perusahaan tidak terlena. Data menunjukkan 43% pekerja merasa lelah secara mental (burnt out), dan yang lebih mengejutkan, 40% dari mereka yang mengaku bahagia ternyata juga mengalami kelelahan ekstrem secara bersamaan.

Ketakutan terhadap masa depan juga mulai nyata. Seiring masifnya adopsi teknologi, 42% pekerja merasa posisi mereka terancam oleh kecerdasan buatan (AI), terutama di sektor teknologi yang ironisnya merupakan sektor dengan tingkat kebahagiaan tertinggi (93%).

Kesenjangan Antar-Generasi: Tantangan bagi Gen Z

Hasil survei juga memotret dinamika yang kontras di tangga karier:

Baca Juga: Simalakama Gaji UMR: Jaring Pengaman Lajang yang Dipaksa Menghidupi Keluarga

  • Kelompok Senior (Gen X & Milenial): Menikmati kebahagiaan di atas 84% berkat penguasaan ritme kerja dan relasi yang matang.
  • Kelompok Junior (Gen Z): Terpuruk di angka 76%. Mereka melaporkan rasa kurang dihargai dan kesulitan menemukan benang merah antara tugas administratif dengan visi besar perusahaan.

Catatan untuk Korporasi: Transparansi atau Ditinggalkan?

Laporan ini menggarisbawahi satu titik lemah besar: Kepemimpinan Senior. Tingkat kepuasan terhadap manajemen baru menyentuh 64%. Ada celah besar dalam komunikasi dua arah dan transparansi yang perlu segera dibenahi sebelum talenta terbaik memutuskan untuk melakukan exit.

"Kebahagiaan jangka panjang hanya tercapai jika karyawan merasa pekerjaannya bermakna dan memiliki keseimbangan hidup. Pemimpin perusahaan harus menjadi garda terdepan dalam meruntuhkan sekat komunikasi," tutup Wisnu.

Load More