Suara.com - Jakarta memang tidak pernah benar-benar tidur. Suara klakson, deru mesin, dan hingar-bingar kota tetap produktif meskipun di hari Minggu. Di tengah deru Minggu pagi, pikiran introvert saya terus berputar mencari jawaban: bisakah kita merasa “ditemani” tanpa harus berbicara dengan orang lain?
Rasa cemas naik transportasi umum sendirian sempat merasuki kepala saat saya menaiki bus 5M menuju Tugu Tani. Namun, di dalam bus, saya mendapati potret kehangatan yang tak terduga. Seorang nenek menyapa bapak di sampingnya, mengira ia orang Medan karena kemiripan wajah. Percakapan ringan dan tawa mereka membuat saya merasa ikut "masuk" ke dalam interaksi tersebut meski hanya sebagai pendengar. Bahkan, saat turun, sang bapak sempat menoleh dan bercanda kepada saya, “Kamu orang Medan juga?” Sontak kami tertawa. Kehangatan sederhana itu seketika meruntuhkan sekat ketegangan dalam diri saya.
Perjalanan berlanjut ke Taman Menteng untuk liputan Baca Bareng Silent Book Club Jakarta (SBC) yang diinisiasi Hestia Istiviani. Di sana, saya melihat sesuatu yang lebih menakjubkan: puluhan orang duduk bersama untuk membaca buku dalam sunyi. Mereka tidak perlu berbicara untuk merasa terhubung. Hestia berhasil merajut kolaborasi antara hiruk-pikuk kota dan kesunyian membaca menjadi harmoni yang menyatu.
Dua momen itulah yang akhirnya menjawab pertanyaan saya. Ternyata, tanpa disadari, kita memang bisa merasa “ditemani” tanpa harus kehilangan ruang untuk diri sendiri.
Esensi dari “Butuh Ditemani”
Tanpa aba-aba penanda “mulai”, orang-orang hanya perlu datang, membaca, dan selesai. Mereka dibebaskan datang lebih awal, terlambat, pulang lebih cepat, atau bahkan membaca hingga bosan. Tepat di sebelah lapangan futsal, rerumputan menjadi teman mereka untuk larut dalam khayalan kertas beraksara. Meninggalkan sejenak keributan di layar kaca.
Menurut informasi yang sebelumnya telah dibagikan melalui media sosial @bacabareng.sbc, kegiatan dimulai pukul 10.00. Namun. dari pengamatan saya sebelum ikut masuk dalam bacaan yang saya bawa, sejak pukul 09.40 Taman Menteng mulai kedatangan tamu-tamunya yang rajin membaca. Mereka tidak saling kenal, tapi duduk bersisian.
Awalnya saya mengira ini adalah acara yang kaku. Namun, yang saya temukan adalah sebuah ekosistem yang tumbuh organik. Rasanya seperti simbiosis mutualisme. Hestia mengungkapkan bahwa ia menginisiasi komunitas ini agar bisa ditemani membaca buku, dan akhirnya harapan itu tercapai. Orang-orang yang datang dapat menemukan ruang nyaman, begitu pun Hestia yang kemudian mendapat banyak teman.
“Waktu itu aku punya pacar. Kami punya suatu agenda ada momen-momen saling menemani. Terserah dia mau ngapain, tapi aku akan membaca. Singkat cerita, putuslah kami. Di situ aku berpikir, ‘aduh aku nggak punya teman lagi yang bisa nemenin aku baca.’ Beneran, aku cuma butuh ditemenin baca, bukan untuk diskusinya,” ungkap Hestia.
Baca Juga: Dari Buku ke Scroll: Neuroplastisitas dan Krisis Fokus Manusia Modern
Tidak hanya dari situ, alasan Hestia menginisiasi baca bareng ini dilandasi dari latar belakang keluarganya. Ia menceritakan bagaimana ia dibesarkan dari keluarga yang suka membaca.
“Kami itu punya momen-momen di mana kami membaca setelah Maghrib. Aku besar di Surabaya. Jadi, pukul setengah enam sore itu langitnya sudah gelap, kalau bisa nggak boleh keluar rumah. Nah, kalau misalkan kami lagi nggak ada PR atau ulangan, orang tua selalu mengingatkan kami untuk membaca,” ujarnya.
Tidak sekadar menyuruh, orang tua Hestia mempraktikkan apa yang mereka minta dengan mencontohkan. Hidup di generasi 90-an membuatnya melihat bagaimana orang tua saat itu masih sering membaca koran, tabloid, dan majalah, sehingga niat itu juga tumbuh dari dalam dirinya. Senang sekali punya keluarga yang kompak. Rasanya ini bisa menumbuhkan sesuatu yang positif, seperti ketika wawancara, Hestia menunjukkan raut wajah yang semangat dan ceria.
Awal dari Semua
Saat harus hidup mandiri di Jakarta dan kehilangan teman berbagi waktu tenang, Hestia tidak sengaja menemukan artikel yang memperkenalkan konsep Silent Book Club yang ia baca dari media Amerika Serikat.
“Mereka punya konsep 2 jam hanya membaca saja. Nggak ada diskusi, nggak ada perkenalan, terus juga mereka bilang untuk membawa bahan bacaan sendiri,” jelasnya antusias. Alisnya naik dan bola matanya melebar penuh semangat, menegaskan betapa ia sangat mencintai konsep yang bebas dari segala beban formalitas.
Berita Terkait
-
Bukan Sekadar Membaca: Wajah Nyata Krisis Literasi Modern
-
Gen Z Ternyata Penyelamat Literasi? Membongkar Paradoks di Balik Tren Membaca Saat Ini
-
E-Reader atau Tablet: Mana yang Lebih Baik untuk Membaca di Tahun 2026?
-
Saya Masih Suka Membaca, Algoritmanya Saja yang Tidak Mengizinkan
-
Tidak Ada Kampus yang Sempurna! Membaca Catatan Hati Seorang Mahasiswa
Terpopuler
- Guru Besar UII: Publik Tak Cukup Tuntut Maaf, Layak Layangkan Mosi Tidak Percaya pada Prabowo
- Sayembara Rp10 Juta Dedi Mulyadi Dikritik UGM, Dinilai Cermin Gagalnya Negara Jamin Keamanan
- Tak Terima Disita, Pemilik Emas dan Uang Sitaan Kejagung di Kasus Febrie Bakal Ajukan Praperadilan
- Serum Viva untuk Flek Hitam Warna Apa? Ini 2 Varian Terbaiknya
- 5 Rekomendasi Parfum Aroma Vanilla di Alfamart, Wangi Mewah Tahan Lama untuk Harian
Pilihan
-
Bayi 'Putri Duyung' Lahir di OKI, Apa Itu Sirenomelia yang Membuat Kakinya Menyatu?
-
Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
-
Penjaga Rumah Febrie Adriansyah Ditemukan Tewas, Mulut dan Hidung Berbusa
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
Terkini
-
Komplotan Buzzer Diciduk Polda Metro Jaya, Rp220 Juta Hasil Pembayaran Disita
-
Hasil Babak Pertama: Mitchell Baker Gemilang, Timnas Indonesia Unggul 3-0
-
Kronologi CR-V Terguling di Depan Kejari Palembang, Tabrak Dua Mobil Parkir Usai Hindari Motor
-
Perry Warjiyo Mundur dari Gubernur BI, Airlangga Tak Ambil Pusing: Yang Penting Institusi Berjalan
-
Kronologi Komplotan Curanmor Bersenpi di Gandus Terbongkar, Satu Ditangkap dan Dua Masih Buron
-
Kenapa John Herdman Tak Berada di Bench Timnas Indonesia? Disamakan dengan Luis Enrique
-
Napi Pekanbaru Kabur Dikejar ke Jakarta, Isu Iming-imingi Petugas Rp30 Juta Mencuat
-
Profil Mitchell Baker Bomber Keturunan Semarang-Yogya Harapan Baru Timnas Indonesia
-
BGN Siapkan Sistem Digital, Orang Tua Bisa Pantau Menu MBG
-
Bayi 'Putri Duyung' Lahir di OKI, Apa Itu Sirenomelia yang Membuat Kakinya Menyatu?