Dari Bandung hingga Malang, Ini Cerita di Balik Gapura Pemenang Lomba Hias HUT RI

Senin, 28 September 2026 | 21:00 WIB
Lomba Hias Gapura. (Dok. Ist)
BACA 10 DETIK
  • SariWangi menggelar Lomba Hias Gapura untuk memperingati HUT ke-81 RI dengan partisipasi dari berbagai daerah.
  • Warga Bandung, Yogyakarta, dan Malang berhasil keluar sebagai tiga pemenang utama dalam perlombaan tersebut.
  • Program ini bertujuan memperlihatkan semangat gotong royong dan kebersamaan masyarakat melalui dekorasi gapura kreatif.

Suara.com - Semangat merayakan kemerdekaan tak selalu hadir dalam bentuk perayaan besar. Di sejumlah lingkungan warga, semangat itu justru terlihat dari cara masyarakat berkumpul, berbagi ide, dan mengerjakan sesuatu bersama-sama.

Hal tersebut tergambar dalam Lomba Hias Gapura yang digelar sebagai bagian dari rangkaian program Waktunya Ngeteh Indonesia dari SariWangi dalam memperingati HUT ke-81 Republik Indonesia.

Dari sekitar 500 karya yang dikirimkan masyarakat dari berbagai daerah, sebanyak 178 perumahan atau lingkungan mendapatkan dukungan untuk memeriahkan perayaan 17 Agustus. Tiga karya kemudian terpilih sebagai pemenang utama, yakni gapura karya warga Bandung sebagai juara pertama, Yogyakarta sebagai juara kedua, dan Malang sebagai juara ketiga.

Penilaian dilakukan berdasarkan kreativitas, semangat gotong royong, serta kearifan lokal yang tercermin dalam konsep masing-masing gapura.

Mural Panjang di Gang Warga Bandung

Gapura karya warga Bandung yang meraih juara pertama tampil berbeda karena tidak hanya mengandalkan dekorasi pada bagian pintu masuk. Warga juga menghias tembok gang dengan mural yang menggambarkan kehidupan sehari-hari mereka.

Mulai dari kebiasaan saling membantu hingga menjaga lingkungan bersama, berbagai cerita warga dituangkan dalam mural tersebut.

"Ide gapura ini muncul waktu kami membicarakan bagaimana caranya membuat 17-an tahun ini berbeda dari biasanya. Selain gapura, kami juga ingin membuat sesuatu yang lebih tahan lama, jadi kami sepakat bikin mural di sepanjang tembok gang yang menceritakan kehidupan sehari-hari warga di sini, bagaimana kami saling bantu dan jaga lingkungan bareng-bareng ditemani dengan teh SariWangi," ujar Samsul Huda M, pemenang pertama Lomba Gapura Waktunya Ngeteh Indonesia dari Bandung.

Menurut Samsul, pengerjaan gapura dan mural tersebut melibatkan warga dengan kemampuan masing-masing.

"Semua ini bisa diwujudkan karena gotong royong warga, semua turun tangan bantu sesuai kemampuan masing-masing. Bagi saya kemenangan ini jadi pengingat soal semangat kebersamaan warga di sini," katanya.

Bambu dan Secangkir Teh dari Yogyakarta

Berbeda dengan Bandung, warga Yogyakarta yang meraih juara kedua memilih bambu sebagai material utama gapura. Material tersebut kemudian dipadukan dengan bentuk secangkir teh sebagai simbol kehangatan dan kebersamaan.

Muh Rohmadi, pemenang kedua dari Yogyakarta, mengatakan pemilihan secangkir teh berangkat dari kebiasaan sederhana yang kerap menjadi awal dari interaksi antarwarga.

"Kami memilih secangkir teh sebagai simbol kehangatan, karena minum teh itu sederhana tapi sering jadi awal untuk berkumpul antarwarga," ujarnya.

Bambu juga memiliki makna tersendiri bagi warga. Satu batang bambu mungkin terlihat sederhana, tetapi ketika disatukan, material tersebut menjadi kuat.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com