- Sejak beroperasi pada 2020, Jago Coffee mengembangkan bisnis kopi bergerak menggunakan gerobak listrik berteknologi dan aplikasi pemesanan.
- Jago Coffee berhasil menghimpun pendanaan total lebih dari US$20 juta hingga mencapai valuasi sekitar US$63,5 juta pada Februari 2026.
- Ketiga pendiri Jago Coffee terpilih sebagai Endeavor Entrepreneur di Montreal, Kanada, pada tanggal 17 September 2026.
Dari Dua Gerobak hingga Ekspansi Bisnis
Konsep tersebut membuat Jago Coffee berkembang dari bisnis dengan dua prototipe gerobak listrik menjadi perusahaan yang telah menghimpun pendanaan lebih dari US$20 juta.
Setelah pendanaan Seri B sebesar US$12,5 juta pada Februari 2026, valuasi Jago Coffee disebut mencapai sekitar US$63,5 juta.
Perkembangan tersebut juga membawa tiga pendirinya, Yoshua Tanu, Daniel Sidik, dan Christopher Oentojo, ke panggung internasional.
Ketiganya resmi tercatat sebagai Endeavor Entrepreneur Indonesia ke-117, ke-118, dan ke-119 setelah lolos International Selection Panel (ISP) Endeavor di Montreal, Kanada, pada 17 September 2026.
Seleksi tersebut menjadi bagian dari perjalanan ekspansi Jago Coffee sekaligus membuka akses terhadap jaringan mentor, entrepreneur, dan investor Endeavor di berbagai negara.
Bagi Yoshua, pengakuan tersebut memperkuat keyakinan bahwa model bisnis kopi yang mengandalkan mobilitas masih memiliki ruang untuk berkembang.
“Terpilihnya Jago dalam seleksi Endeavor memperkuat keyakinan kami bahwa model ini punya ruang untuk tumbuh jauh lebih besar,” katanya.
Di sisi lain, Managing Director Endeavor Indonesia Monika Rudijono mengatakan, terpilihnya ketiga pendiri Jago Coffee tidak semata karena pertumbuhan bisnis.
Menurutnya, panelis juga melihat tim pendiri, model bisnis, strategi, eksekusi, serta peluang pasar yang dimiliki perusahaan.
“Yang meyakinkan panelis bukan semata angka pertumbuhan Jago Coffee, melainkan kombinasi tiga hal: tim founder yang tajam, visioner, dan sangat memahami bisnisnya; model bisnis yang kuat dengan strategi dan eksekusi yang solid; serta momentum dan peluang pasar yang membuka ruang pertumbuhan yang jauh lebih besar ke depannya,” ujar Monika.
Dari sisi konsumen, perkembangan ini menunjukkan satu hal sederhana: cara menikmati kopi ikut berubah.
Kopi tak selalu membutuhkan meja di kedai atau waktu khusus untuk nongkrong. Dengan dukungan teknologi dan model penjualan yang lebih mobile, secangkir kopi bisa datang lebih dekat dengan tempat orang bekerja, tinggal, atau beraktivitas.