- Gunung Kawi di Malang diyakini memiliki mitos weton tertentu seperti Wage dan Pahing yang dianggap tidak selaras.
- Kepercayaan tradisional tersebut menyatakan bahwa bentrok energi dan karakter neptu dapat menimbulkan ketidaknyamanan bagi pengunjung tertentu.
- Pengelola dan pemerintah memastikan tidak ada larangan resmi bagi siapa pun untuk berkunjung ke sana.
Pengelola kawasan, pemerintah daerah, maupun ajaran agama (Islam maupun yang lain) tidak mengenal pembatasan berdasarkan hari lahir atau pasaran.
Kawasan Pesarean Gunung Kawi terbuka untuk semua orang yang ingin berziarah, berwisata, atau sekadar menikmati suasana. Belum ada penelitian ilmiah yang membuktikan hubungan antara weton tertentu dengan kejadian buruk setelah mengunjungi tempat ini.
Kepercayaan tersebut lebih tepat dipahami sebagai bagian dari kearifan lokal dan tradisi kejawen yang bisa disikapi sesuai keyakinan masing-masing.
Bagi yang tetap ingin berhati-hati sesuai tradisi, beberapa orang memilih datang pada hari yang dianggap lebih selaras, membawa sesajen sederhana, atau hanya berdoa tanpa ritual khusus. Namun, yang paling penting adalah niat baik, menghormati tempat, dan menjaga ketertiban.
Gunung Kawi pada dasarnya adalah ruang spiritual yang terbuka. Apakah seseorang datang dengan weton Wage, Pahing, atau yang lain, pengalaman di sana lebih ditentukan oleh sikap batin, niat, dan cara menghargai lingkungan sekitar.