- Kingkin Kusumawardhani bersama suaminya mengikuti program pendampingan kehamilan GlowImpact di Malang pada 30 September 2026.
- Program yang digagas MS GLOW Beauty tersebut mempertemukan lima belas pasangan suami istri dengan tenaga profesional kesehatan.
- Kegiatan edukasi dan konsultasi persiapan kehamilan ini rencananya akan dilanjutkan ke Surabaya, Bandung, serta Bekasi.
Suara.com - Menanti kehadiran buah hati tidak selalu menjadi perjalanan singkat. Bagi sebagian pasangan, upaya mendapatkan kehamilan bisa berlangsung bertahun-tahun dan membutuhkan pemeriksaan, informasi, hingga dukungan yang tepat.
Hal itu dirasakan Kingkin Kusumawardhani yang telah menantikan kehadiran anak selama 23 tahun pernikahannya. Kini, bersama sang suami, ia kembali mencoba menjalani proses tersebut melalui program pendampingan kehamilan.
“23 tahun bukan waktu yang singkat, dan terlalu jauh perjalanannya. Mungkin ini terakhir kali usaha saya,” ujar Kingkin saat mengikuti program GlowImpact di Malang, Jawa Timur, pada 30 September 2026.
Kingkin menjadi salah satu dari 15 pasangan suami istri yang mengikuti kegiatan perdana GlowImpact yang digagas MS GLOW Beauty. Program ini mempertemukan pasangan dengan tenaga profesional untuk mendapatkan edukasi dan konsultasi seputar persiapan kehamilan.
Keterlibatan suami menjadi salah satu hal yang ditekankan dalam program tersebut. Sebab, persoalan kesuburan tidak hanya berkaitan dengan perempuan. Gangguan pada sistem reproduksi dapat terjadi pada laki-laki maupun perempuan, sementara proses mendapatkan kehamilan juga kerap membawa tekanan emosional bagi pasangan.
Kementerian Kesehatan RI dalam artikel mengenai infertilitas yang diterbitkan pada 23 Mei 2022 menyebutkan, infertilitas diperkirakan dialami 10-15 persen pasangan usia subur di Indonesia atau sekitar 4-6 juta pasangan.
Di balik angka tersebut, ada pasangan dengan cerita dan perjalanan yang berbeda. Ada yang baru mulai mencari tahu penyebab sulit hamil, ada pula yang sudah bertahun-tahun menjalani berbagai upaya seperti Kingkin.
Karena itu, proses mencari informasi dan mendapatkan pendampingan sebaiknya tidak dibebankan kepada salah satu pihak saja.
“Kami percaya, perjalanan mendapatkan buah hati bukan hanya menjadi perjuangan perempuan, tetapi juga perjalanan yang dijalani bersama pasangan,” ujar Founder MS GLOW Beauty Shandy Purnamasari.
Dalam kegiatan di Malang, para peserta mendapatkan sesi edukasi serta kesempatan berkonsultasi langsung dengan Angga Prajabuana, praktisi edukasi program kehamilan, dan dokter dari MS GLOW Aesthetic Clinic.
Peserta dapat membicarakan perjalanan yang telah mereka lalui sekaligus memperoleh informasi mengenai persiapan kehamilan. Sementara kebutuhan medis tetap disesuaikan dengan kondisi masing-masing dan ditentukan melalui konsultasi serta evaluasi tenaga kesehatan.
Bagi pasangan yang telah lama menjalani program kehamilan, pendampingan semacam ini bukan sekadar soal mendapatkan informasi medis. Dukungan dari pasangan juga menjadi bagian dari proses, terutama ketika perjalanan tersebut berlangsung panjang dan tidak selalu mudah.
GlowImpact sendiri merupakan kelanjutan dari program “Pejuang Dua Merah” yang dihadirkan MS GLOW Beauty pada 2025. Jika program sebelumnya berfokus pada pendampingan mental dan psikologis serta perjalanan kehamilan hingga persalinan, GlowImpact memperluas perhatian pada fase ketika pasangan masih mengupayakan kehamilan.
“Bagi kami, memberikan dampak bukan hanya tentang apa yang bisa diberikan melalui produk, tetapi juga bagaimana kami dapat hadir dalam berbagai fase kehidupan masyarakat. Melalui GlowImpact, kami ingin memberikan dukungan yang lebih nyata bagi para pejuang garis dua,” kata Shandy.
Setelah Malang, program tersebut direncanakan berlanjut ke Surabaya pada Oktober 2026, kemudian Bandung dan Bekasi.
Bagi Kingkin, perjalanan selama 23 tahun membuat setiap kesempatan untuk kembali mencoba memiliki arti tersendiri. Kali ini, ia menjalaninya bersama pasangan, dengan harapan mendapatkan informasi dan pendampingan yang dapat membantu menentukan langkah berikutnya.