Minat Perawatan Kecantikan Kolagen Meningkat, Mengapa Pemahaman Perempuan Masih Rendah?

Rabu, 21 Oktober 2026 | 11:49 WIB
Ilustrasi minum kolagen (freepik.com/drobotden)
BACA 10 DETIK
  • Dea Mirabelle Aesthetic Clinic menggelar Collagen Investment Summit 2026 di Swissôtel Jakarta PIK Avenue pada 17 Oktober 2026.
  • Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai prosedur, manfaat, serta risiko perawatan kolagen berdasarkan asesmen medis.
  • Klinik memperkenalkan kerangka perencanaan bertahap agar keputusan perawatan pasien tidak semata-mata didorong oleh tren media sosial.

Suara.com - Informasi mengenai perawatan estetika semakin mudah ditemukan di media sosial. Namun, tingginya minat terhadap prosedur kolagen belum tentu diikuti pemahaman yang memadai mengenai manfaat, risiko, dan kebutuhan perawatan.

Data internal Dea Mirabelle Aesthetic Clinic menunjukkan, 9 dari 10 perempuan tertarik menjalani tindakan kolagen, tetapi 8 di antaranya belum memiliki pemahaman yang jelas mengenai prosedur tersebut.

Temuan ini menjadi latar belakang penyelenggaraan Collagen Investment Summit 2026 di Swissôtel Jakarta PIK Avenue, Sabtu (17/10/2026). Kegiatan tersebut digelar bersamaan dengan peringatan 10 tahun perjalanan klinik estetika tersebut dalam meningkatkan pemahaman masyarakat dalam memilih perawatan estetika.

Medical Director Dea Mirabelle Aesthetic Clinic, dr. Venny Wijaya, M.Biomed.(AAM), mengatakan kemudahan memperoleh informasi perlu diimbangi dengan pemahaman medis sebelum seseorang memutuskan menjalani prosedur.

ilustrasi kolagen (freepik.com/FP_atkwork)

“Setiap orang memiliki kondisi kulit, struktur wajah, dan kebutuhan yang berbeda. Karena itu, pemilihan perawatan perlu diawali dengan asesmen dokter agar tindakan yang dipilih sesuai dengan indikasi dan target yang ingin dicapai,” kata Venny.

Menurut dia, kesamaan usia tidak serta-merta membuat dua orang membutuhkan tindakan yang sama. Kondisi kulit, anatomi wajah, dan prioritas setiap pasien perlu menjadi pertimbangan dalam menentukan perawatan.

Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan penjelasan mengenai dua kategori perawatan kolagen. Pertama, collagen stimulator, yang merangsang tubuh memproduksi kolagen sendiri. Kedua, collagen injection, yakni tindakan injeksi dengan bahan yang berbeda sesuai produk dan tujuan perawatan. Pemilihan prosedur perlu mempertimbangkan hasil evaluasi medis dan karakteristik masing-masing tindakan.

Venny menjelaskan, penilaian sebelum perawatan dapat mencakup tekstur kulit, pori-pori, garis halus, elastisitas, hidrasi, kekenduran, volume, hingga struktur wajah.

Pasien juga perlu memahami manfaat yang diharapkan, alternatif tindakan, risiko, masa pemulihan, jumlah sesi, dan perkiraan biaya. Informasi tersebut menjadi bagian penting dalam proses pengambilan keputusan bersama dokter.

Mereka juga turut memperkenalkan ARLETHA™ Collagen Investment Cycle, sebuah kerangka perencanaan perawatan bertahap yang meliputi penilaian kondisi kulit, penetapan sasaran, pemilihan tindakan, penyusunan jadwal, dan evaluasi berkala.

Menurut pihak klinik, pendekatan ini mencakup empat sasaran, yaitu pengencangan kulit, struktur dan volume wajah, kualitas kulit, serta pemulihan kolagen. Pelaksanaannya disesuaikan dengan kebutuhan pasien.

Venny mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan tren media sosial sebagai satu-satunya acuan dalam memilih prosedur estetika.

“Pasien perlu memperoleh penjelasan mengenai manfaat, keterbatasan, dan risiko tindakan sebelum mengambil keputusan,” ujarnya.

Klinik tersebut mengklaim telah melakukan lebih dari 2.000 tindakan kolagen sejak 2019 dan menerima lebih dari 10 penghargaan tingkat nasional maupun internasional terkait perawatan kolagen. Salah satunya adalah Juvelook Luminary Award yang diterima Venny.

Di tengah meningkatnya minat terhadap perawatan estetika, pemahaman mengenai prosedur, risiko, dan kebutuhan individual menjadi bagian penting agar keputusan pasien tidak semata-mata didorong tren.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com