- Rekomendasi situs bersejarah di Yogyakarta menyimpan rekam jejak Mataram.
- Kunjungan ke situs bersejarah di Yogyakarta memperkaya wawasan budaya Nusantara.
- Pilihan situs bersejarah di Yogyakarta menyajikan arsitektur klasik nan megah.
Suara.com - Yogyakarta menyuguhkan aneka macam tempat wisata, mulai dari pemandangan alam, situs bersejarah, hingga kebudayaan.
Tidak dipungkiri, hal itulah yang membuat Yogyakarta sampai saat ini masih sangat kental dengan tradisi keratonnya.
Budaya masyarakat lokal dari tahun ke tahun juga membuat provinsi ini semakin hidup dan membawa daya tarik tersendiri bagi wisatawan dalam maupun luar negeri.
Bicara tentang Yogyakarta, tidak dapat dilepaskan dari sejarah panjang Kerajaan Mataram Islam baik pada era awal pendiriannya di Kotagede maupun era Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.
Jika kamu berkunjung ke Yogyakarta dan ingin mengenal lebih jauh mengenai bangunan-bangunan bersejarah yang ada di provinsi ini.
Berikut telah dirangkum Suara.com, 5 situs bersejarah di Yogyakarta yang cocok untuk kamu kunjungi dan ulas lebih dalam.
Kotagede
Kotagede adalah sebuah kota kuno yang pernah menjadi ibu kota pertama Kesultanan Mataram Islam sekitar tahun 1586–1613 di bawah kepemimpinan Panembahan Senopati.
Kawasan ini merupakan titik awal lahirnya peradaban besar Dinasti Mataram di tanah Jawa.
Tata letak Keraton Kotagede memiliki konsep perpaduan Islam dan zaman pra-Islam, yaitu konfigurasi empat elemen tradisional Jawa berupa masjid, keraton, pasar, dan alun-alun yang dikenal dengan istilah catur gatra tunggal.
Kompleks situs ini dulunya dikelilingi oleh sistem pertahanan ganda, yakni benteng cepuri dan benteng baluwarti.
Kini, peninggalan yang tersisa dari situs ini berupa reruntuhan dinding benteng tua, Masjid Gedhe Mataram Kotagede, serta kompleks Makam Raja-Raja Mataram Islam yang bernilai historis dan spiritual tinggi.
Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat
Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat mulai didirikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I beberapa bulan pasca-Perjanjian Giyanti tahun 1755. Lokasi keraton ini dulunya merupakan bekas sebuah pesanggrahan bernama Garjitawati.
Setelah selesai dibangun dan resmi ditempati pada tahun 1756, tempat ini langsung dijadikan sebagai ibu kota dan pusat pemerintahan Kesultanan Yogyakarta, sekaligus tempat tinggal keluarga kerajaan beserta abdi dalem.
Kompleks keraton dirancang dengan detail arsitektur Jawa klasik yang sarat simbolisme filosofis tentang hubungan manusia, alam, dan Sang Pencipta (Hamemayu Hayuning Bawana).
Hingga hari ini, keraton masih aktif merawat tradisi, naskah kuno, benda pusaka, hingga kesenian klasik Jawa seperti tari, gamelan, dan wayang.
Situs Taman Sari
Kompleks Situs Taman Sari merupakan peninggalan dari Sri Sultan Hamengku Buwono I yang dibangun sekitar tahun 1758.
Nama Taman Sari berarti "taman yang indah", yang pada masa lampau berfungsi sebagai tempat rekreasi atau taman bagi sultan beserta kerabat istana.
Selain tempat pemandian dan peristirahatan, Taman Sari dirancang dengan fungsi strategis sebagai benteng pertahanan kedua yang dilengkapi saluran air, danau buatan, serta lorong-lorong rahasia bawah tanah untuk penyelamatan diri.
Bagian bangunan yang paling ikonik di kompleks ini adalah Sumur Gumuling, sebuah bangunan bertingkat dua berbentuk lingkaran dengan lantai bawah tanah yang dulunya berfungsi sebagai masjid bawah tanah dengan arsitektur yang menawan.
Situs Warungboto (Pesanggrahan Rejowinangun)
Situs Warungboto atau yang memiliki nama asli Pesanggrahan Rejowinangun merupakan kompleks cagar budaya peninggalan Sultan Hamengku Buwono II yang dibangun sejak beliau masih berstatus sebagai putra mahkota pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono I.
Sama seperti Taman Sari, situs ini berfungsi sebagai pesanggrahan dan tempat pemandian keluarga kerajaan untuk mencari ketenangan serta rekreasi.
Bangunannya didominasi oleh struktur dinding batu bata tebal, pintu melengkung, serta kolam pemandian terbuka yang dipisahkan oleh aliran Sungai Gajah Wong.
Sempat terbengkalai dan menjadi reruntuhan akibat gempa serta usia, situs ini telah dipugar dan kini menjadi salah satu cagar budaya favorit yang populer berkat keindahan arsitekturnya.
Panggung Krapyak (Kandang Menjangan)
Panggung Krapyak adalah bangunan bersejarah berbentuk kubus berlantai dua yang dibangun oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I sekitar tahun 1760.
Pada masa lalu, bangunan yang terbuat dari batu bata merah ini berfungsi sebagai pos pengintaian dan tempat peristirahatan raja serta para pengiringnya saat berburu binatang liar.
Khususnya rusa atau menjangan di Hutan Krapyak yang membentang di sebelah selatan keraton.
Lebih dari sekadar tempat berburu, Panggung Krapyak memegang peranan penting dalam tata ruang spiritual Yogyakarta karena merupakan titik batas paling selatan dari Sumbu Filosofi Yogyakarta.
Sumbu filosofi ini menyimbolkan perjalanan siklus kehidupan manusia (Sangkan Paraning Dumadi), dari lahir hingga kembali kepada Sang Pencipta.
Kontributor : Muhammad Ikhwan Nur Ariyansyah