ICCN Sampaikan 10 Manifesto Suara Ekraf Indonesia Lewat Pertunjukan Teatrikal di WCCE 2026

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 08:30 WIB
ICCN Sampaikan 10 Manifesto Suara Ekraf Indonesia Lewat Pertunjukan Teatrikal di WCCE 2026. (Dok. Istimewa)
BACA 10 DETIK
  • Indonesia Creative Cities Network menyampaikan 10 Manifesto Suara Ekraf Indonesia dalam WCCE 2026 di Jakarta pada Jumat, 23 Oktober 2026.
  • Ketua Umum ICCN Fiki Satari menyerahkan dokumen manifesto tersebut kepada Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya di CGV Grand Indonesia.
  • Sepuluh manifesto itu bertujuan memperkuat ekosistem kreatif nasional melalui kolaborasi lintas sektor berbasis potensi sumber daya lokal masing-masing daerah.

Suara.com - Indonesia Creative Cities Network (ICCN) menyampaikan 10 Manifesto Suara Ekraf Indonesia melalui pertunjukan teatrikal dalam ajang World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 di CGV Grand Indonesia, Jakarta, Jumat (23/10/2026). Pertunjukan ini menjadi ruang untuk membawa aspirasi, potensi, dan tantangan pelaku ekonomi kreatif dari berbagai daerah ke forum internasional.

Dikemas melalui puisi, film, musik, dan orasi, pertunjukan selama satu jam tersebut melibatkan pegiat ekonomi kreatif dari berbagai wilayah Indonesia. Aspirasi yang disampaikan merupakan hasil rangkaian Road to WCCE bersama TVRI di 35 daerah.

Pertunjukan dibuka dengan video potensi Indonesia, dilanjutkan pembacaan puisi Dari Daerah Kami Bersuara oleh Irfan Maulana dari Aceh dan penayangan karya insan kreatif Kota Malang. Perwakilan Papua Barat Daya, Johanna Kristina Naomi Kamesrar, dan Miswar Ibrahim Njong dari Aceh turut menyampaikan suara daerah melalui pertunjukan teatrikal.

Puncak acara ditandai dengan pembacaan dan penyerahan dokumen manifesto oleh Ketua Umum ICCN, Fiki Satari, kepada Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya. Momen tersebut dilanjutkan dengan orasi respons bertajuk Indonesia Mendengar.

Fiki mengatakan, ekonomi kreatif Indonesia memiliki potensi besar yang tumbuh dari keberagaman karakter dan kekuatan lokal setiap daerah.

“Konferensi WCCE tingkat dunia ini merupakan momentum yang berharga dan memiliki posisi yang strategis, karena melalui konferensi yang diikuti oleh berbagai negara ini kita bisa menyuarakan potensi ekonomi kreatif yang ada di seluruh daerah Indonesia,” ujarnya.

Sepuluh manifesto untuk memperkuat ekosistem kreatif

Sepuluh manifesto tersebut mencakup inovasi berbasis sumber daya lokal, kontribusi ekonomi kreatif terhadap pembangunan berkelanjutan, perlindungan pelaku kreatif informal, penguatan peran agregator, inklusivitas, transformasi digital, serta penggunaan data sebagai dasar kebijakan daerah.

Manifesto itu juga menyoroti urgensi regulasi dan kelembagaan, kolaborasi lintas sektor melalui pendekatan hexa helix, serta pentingnya membawa suara daerah ke agenda ekonomi kreatif global.

Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menegaskan bahwa pengembangan ekonomi kreatif perlu dimulai dari daerah dengan melibatkan komunitas sebagai pelaku utama.

“Sesuai arahan Bapak Presiden Prabowo Subianto, ekonomi kreatif harus bisa menjadi mesin baru pertumbuhan ekonomi nasional yang dimulai dari daerah. Kawan-kawan komunitas dan Korda di sinilah yang menjadi subjek, bukan objek, karena mereka paling mengetahui peluang dan tantangan di daerahnya masing-masing,” katanya.

Ia juga menyatakan kesiapan kementeriannya berkolaborasi dengan ICCN dalam berbagai kegiatan di Indonesia.

Melalui manifesto bertema ekonomi kreatif berbasis sumber daya lokal untuk Indonesia yang bermartabat, inklusif, dan berkelanjutan, ICCN mendorong kolaborasi pemerintah, komunitas, dunia usaha, akademisi, dan media. Pertunjukan ini sekaligus menjadi persembahan ICCN menjelang Hari Ekonomi Kreatif Nasional pada 24 Oktober 2026.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com