/
Selasa, 14 Juni 2022 | 18:46 WIB
Ramadhani

Judul artikel ini adalah istilah yang disampaikan kolega kami PG Wisnu Wijaya yang mengerjakan Monumen Sakai Sambayan atas permintaan komunitas untuk Hari Jadi Kota Metro Ke-85. Kami tentu tidak menyangka monumen sederhana ini menjadi polemik berkepenjangan. Lewat artikel singkat ini izinkanlah kami menjelaskan.

Satu sore di bulan Ramadhan diadakan diskusi bertema city branding yang dihadiri berbagai kalangan. Usai buka puasa bersama diskusi berlanjut tentang apa yang akan dilakukan di HUT Kota Metro ke -85 jauh sebelum pemerintah menggelar rapat terkait perayaan hari jadi. Singkatnya diskusi santai tersebut menyimpulkan untuk membuat sesuatu yang diberikan oleh warga untuk kotanya dan dananya harus berasal dari warga juga dan harapannya bisa diresmikan pada 9 Juni mendatang.

Lalu soal peletakan, kami memilih ruang-ruang publik sebagai tempatnya dengan harapan kedepan akan lebih banyak lagi pihak yang ikut tergerak berpartisipasi membangun atau mempercantik ruang-ruang publik seperti di kota-kota besar lainnya. Terkait hal ini juga sudah pasti berkomunikasi dengan dinas terkait sebagai pengelola Taman Merdeka.

Usai lebaran diskusi dilanjutkan dan mulai disepakati akan membuat karya dari hasil penggalangan dana lewat kaos HUT yang berdasarkan informasi kabarnya terjual lebih dari 800 potong. Tentu kami juga tidak menyangka hal ini mendapatkan respon yang luar biasa. Sebagian kecil hasil penjualan kaos digunakan untuk pembuatan monumen dan sisanya digunakan untuk keperluan malam inaugurasi yang juga diinisiasi oleh berbagai komunitas.

Kami mempercayakan pengerjaannya kepada  PG Wisnu Wijaya yang membuat sebuah konsep serta filosofi instalansi yang kemudian diresmikan tersebut. Awal Juni beredar informasi bahwa Gubernur DKI Anies Baswedan akan berkunjung ke Metro untuk memberikan kuliah umum, menandatangani MoU hingga meresmikan sebuah pameran. Kabar tersebut sampai kepada kami dan kami memandang bagus juga kalo bisa sekalian meresmikan monumen karya perupa Metro di momentum hari jadi. Hal tersebut tentunya juga kami komunikasikan kepada Pemerintah Kota Metro untuk disampaikan kepada pihak tamu.

Disini poin krusialnya, kami tentu tidak dalam posisi bisa memilih siapa saja tokoh nasional yang akan datang karena tidak banyak informasi yang kami dapatkan. Yang terpikir adalah bagaimana peresmian yang dihadiri tokoh nasional bisa semakin mengangkat nama kota dan tentu para pelaku ekonomi kreatif. Artinya siapa saja tokoh yang hadir tentu akan kami minta kesediaanya. Jadi sejak awal monumen ini tidak terkait dengan satu tokoh tertentu saja atau sengaja dibuat untuk tokoh tertentu.

Singkatnya setelah shalat Jum’at peresmian monumen itu terjadi secara sederhana dan singkat. Selang beberapa waktu hampir semua pemberitaaan terkait kunjungan Anies Baswedan ke Metro mengangkat soal peresmian monumen. Hal tersebut tentu saja menarik bagi media baik lokal maupun nasional. Sebenarnya jika kita saksikan peresmian tersebut dilakukan secara bersama oleh Walikota Metro dan Gubernur DKI Anies Baswedan. Selain peresmian beberapa karya seperti buku dan lukisan daun jati juga diserahkan sebagai cinderamata.

Esok harinya Ketua DPRD Kota Metro yang juga kami hormati memberikan komentar. Setelah membacanya  tentu kami bisa memahami makna komentar tersebut dan tidak terburu-buru memberikan penjelasan.  Kami menunggu terlebih dahulu penjelasan Pemerintah Kota sebagai penanggung jawab seluruh rangkaian acara HUT Kota Metro.

Agar tidak menjadi polemik yang berkepanjangan kami harus menyampaikan bahwa Patung yang Patungan ini adalah wujud kecintaan warga akan kotanya sama seperti kritik DPRD yang juga merupakan wujud kecintaan terhadap kota ini. Kita semua mencintai kota ini lewat caranya masing-masing. Kami bisa mengerti dan memahami kritik tersebut dan memandangnya sebagai wujud kecintaan yang sama dengan yang dilalukan oleh warga dari berbagai kalangan.

Sebenarnya tidak hanya "Patung yang Patungan" ini, kami juga merilis sebuah buku berjudul 85 Tahun Kota Metro yang ditulis oleh berbagai kalangan. Mulai dari akademisi, birokrat, politisi hingga pegiat komunitas ikut menulis didalamnya. Buku ini tentu tidak menjadi polemik seperti layaknya monumen karena lebih banyak dari kita termasuk saya sendiri seringkali lebih suka  membaca judul berita tanpa membaca buku .

Mungkin, 15 tahun mendatang saat kota ini mencapai usianya yang ke 100 atau 1 abad kita semua akan mengenang kembali apa yang terjadi hari ini. Akhirnya, Selamat Hari Jadi Kota Metro, pesta telah usai dan mari  kita bersama-sama kembali bekerja membangun kota yang kita sayangi. 

Load More