News / nasional
Reza Gunadha | Yosea Arga Pramudita
Paduan Suara Dialita [Suara.com/Iqbal]

Suara.com - Mereka bernyanyi saat jarak antara hidup, kegilaan, dan kematian dalam penjara hanya sependek garis yang membentang antara pangkal hati sampai ujung kuku. Selepasnya, perjumpaan antara penyintas 1965 melahirkan Paduan Suara Dualita. Kini, mereka bernyanyi bersama, mendendangkan lagu terlarang yang tercipta dari balik terungku kekuasaan.

SEPULUH perempuan lanjut usia meriung dalam rumah di kawasan Beji, Depok, Jawa Barat, tahun 2011. Bersama, mereka menyortir pakaian bekas layak pakai untuk kembali dijual.

Tak ada satu pun dari mereka yang bertalian darah. Tapi keperihan hidup dalam terungku kekuasaan tiga dekade silam, membuat Utji, Utati, Mudjiati, Eli, Tutik, Hersis, Irina, Tuni, Yani, dan Mega merasa sekandung.

Penghidupan mereka tak kunjung berubah meski Soeharto—penguasa Orde Baru yang memenjarakan mereka tanpa proses pengadilan—sudah lama hilang nyawa, dan era reformasi telah melahirkan lima rezim berbeda.

Baca Juga: Paduan Suara Dialita Serukan Semangat Generasi Muda

Puluhan tahun kehilangan kebebasan karena difitnah melakukan kudeta, membuat ruang mereka dalam dunia kerja menjadi sempit.

Satu-satunya cara untuk bertahan hidup adalah saling membantu dan bekerja atas dasar prinsip berdiri di kaki sendiri.

Rumah tempat para perempuan itu menyortir pakaian bekas adalah milik Utati, istri Koesalah Soebagyo Toer.

Mereka menggunakan uang hasil penjualan pakaian bekas untuk membantu para penyintas tragedi 65 lain yang sudah lanjut usia dan dalam kondisi sakit.

Demi membunuh keheningan dan menggugah suasana, mereka sering bergantian bernyanyi saat menyortir pakaian bekas.

Baca Juga: G30S: Perempuan Penyintas 65 dan Pengasingan di Plantungan

Oh aku ndue kok, aku ndue akeh—aku punya kok, aku punya banyak,” kata salah satu perempuan saat menyortir pakaian bekas.

“Kalau kita cuma jualan kayak gini, sedikit ya dapatnya,” kata kawannya menimpali.

“Kenapa kita tidak buat paduan suara?” kata yang lain.

“Buat apa?”

“Ya ngamen.”

“Orang di jalan yang ngamen pakai kecrekan saja dapat uang, kenapa kita tidak?”

Mereka kembali sibuk menyortir pakaian bekas sembari melanjutkan obrolan tentang banyak hal. Tapi di benak mereka masing-masing, celetukan untuk membuat paduan suara masih terngiang.

Saat menjual barang-barang bekas di kawasan Bogor, Jawa Barat, 4 Desember pada tahun yang sama, usulan untuk membuat paduan suara kembali dibahas. Kali ini dibicarakan secara serius, dan mereka bersepakat membuatnya.

“Namanya Paduan Suara Dialita saja, artinya di atas lima puluh tahun. Usia kita kan banyak yang segitu,” kata salah satu dari mereka, dan segera diamini yang lain.

Pertengahan tahun 2012, paduan suara Dialita mulai mengamen dan mendapatkan panggung pertamanya di salah satu gerai toko buku Gramedia.

Paduan suara Dialita terpilih mengisi acara peluncuran buku Awan Tekhlek Mbengi Lemek, karya Hersri Setiawan, sastrawan yang pernah ditahan di Pulau Buru karena keterlibatannya bersama Lembaga Kebudayaan Rakyat atau Lekra.

Maka, bernyanyilah kesepuluh perempuan itu secara akapela, tanpa iringan musik. Bergantian, mengalunlah lagu-lagu kebangsaan dan daerah.

Sehabis acara, paduan suara Dialita mendapat honorarium Rp 500 ribu. Mereka bersepakat, uang itu akan dijadikan saldo awal kas grup.

Paduan Suara Dialita [dokumentasi]

Sekali peristiwa di Cikini

“RUMAH kawan kita, Ibu Hartiti, di Yogyakarta, habis terbakar,” kata Utji.

Aduh, mesakke yo—aduh, kasian sekali,” jawab teman-temannya, bersimpati.

“Kita bantu.”

“Iya, kita ngamen lagi, cari uang buat Ibu Hartiti.”

Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan menawarkan paduan suara Dialita mengisi sesi hiburan dalam acara diskusi terbuka di Kedai Tjikini, Jakarta Pusat.

Acara itu menjadi panggung kedua Utji, Utati dan kawan-kawannya pada tahun 2012, sekaligus jalan untuk mencari uang guna membantu Hartiti.

Pada hari yang ditentukan, anggota Dialita lebih dulu berkumpul di rumah Tutik, Jalan Pertani Pasar Minggu, Jakarta Selatan, untuk gladi resik.

Mereka mencoba melantunkan lagu seperti Indonesia Pusaka, dan Gembira. Setelah dua lagu itu, Hersis merasakan janggal.

"Mosok arep ngamen ora ngganggo musik. Sing ngamen nang jalan wae nggango kecrekan—masak mau ngamen tapi tak ada musik. Yang ngamen di jalanan saja pakai kecrekan.”

“Lha piye? Kita kan belum punya pengiring musik,” kata Utji.

Yo wis, nanti di perjalanan, aku lihat pengamen bawa gitar, kita berhenti dulu. Tawari dia, mau ndak mengiringi kita.”

Berangkatlah mereka memakai dua taksi dari Jalan Pertani ke Kedai Tjikini. Hersis, Mudji, dan Tuni semobil. Sementara Utji dan lainnya menumpangi taksi yang satunya lagi.

Sepanjang perjalanan, Hersis dan awak lainnya di taksi pertama kembali berlatih, menyanyikan Indonesia Pusaka, Bangun Pemudi Pemuda, dan Gembira.

Tanpa disangka, sang sopir yang membawa mereka, ikut ambil bagian. Terpikir oleh Hersis untuk menawari si sopir untuk ikut acara.

“Pak bisa main gitar ndak?"

“Oh bisa.”

"Kalau gitu, mau ndak ngiringi kami nyanyi?"

“Boleh.”

"Ya sudah nanti tunggu kami ya pak.”

Begitu sampai lokasi, Hersis, Mudji, dan Tuni langsung masuk ke dalam Kedai Tjikini. Sementara sang sopir diminta sejenak menunggu di depan kedai.

“Jangan matikan argo ya pak,” pesan Hersis sebelum masuk ke kedai.

Tak lama, Hersis kembali keluar dari kedai untuk menemui sopir taksinya.

"Pak adanya piano, bisa ndak?"

"Ya sudah, saya coba ya bu."

"Ini argonya ndak usah dimatikan."

"Ndaklah bu. Dicatat saja argonya berapa. Ini saya matikan saja."

Selanjutnya, kepada Utji, Hersis melapor sudah mendapatkan pengiring musik.

“Siapa?”

“Sopir taksiku tadi.”

“Ndilalah kersaning Allah—ternyata atas kehendak Allah.”

Hari itu, sang sopir yang masih memakai seragam biru perusahaan taksi Blue Bird, sukses mendentingkan piano mengiringi ibu-ibu Dialita bernyanyi.

Selepas bernyanyi, Mudjiati membawa topi berkeliling ke bangku penonton, meminta uang saweran. Terkumpullah sekitar Rp 700 ribu.

Melalui Tunik, Wakil Ketua Paduan Suara Dialita, uang itu akhirnya diserahkan kepada Hartiti, yang rumahnya terbakar di Yogyakarta.

Sementara si sopir taksi, setelah acara dan mendapatkan uang argo, kembali melanjutkan perjalanannya. Perjumpaan mereka kembali harus menunggu tujuh tahun kemudian.

Utjikowati (kiri), Utati Koesalah (tengah), dan Mudjiati (kanan), personel Paduan Suara Dialita. [Suara.com/Hyoga]

***

KAMIS malam, 31 Januari 2019, suasana Goethe Institute, Menteng, Jakarta Pusat, hiruk pikuk. Utji dan kawan-kawannya sedang bersiap naik panggung, melatih kembali lagu-lagu seperti Ibu, Ujian, dan Tetap Tersenyum Menjelang Fajar.

Selang tujuh tahun sejak didirikan, Paduan Suara Dialita sudah merekam dua album profesional. Malam itu adalah konser peluncuran album terbaru mereka: Salam Harapan.

Tujuh tahun bukanlah waktu yang pendek bagi anggota Dialita. Ada banyak orang dan peristiwa yang membalut perjalanan usia senja mereka.

Suatu waktu, ketika mempersiapkan peluncuran album kedua, Utji sempat mengingat dan memendam harapan agar bisa kembali berjumpa dengan sopir taksi yang menjadi pengiring konser pertama mereka tahun 2012 di Cikini.

“Senang sekali ya kalau bisa bertemu dengan sopir taksi itu. Bagaimana pun, dia pasti senang melihat kami lagi.” Utati dan anggota Dialita lainnya juga turut mengingat dan memunyai harapan sama.

Seorang lelaki berjaket tiba-tiba datang dan menyelinap masuk ke gedung pertunjukan, saat ibu-ibu Dialita bersiap naik panggung.

Dalam jaket, lelaki itu memakai seragam awak taksi berwarna biru. Dialah Eko Agus Purnomo, sosok yang kali pertama memberikan sentuhan bunyi pada grup paduan suara Dialita.

Seluruh anggota Dialita kaget melihat Eko, yang sejak 2012 silam, baru malam itulah mereka kembali berjumpa.

Ternyata, ada perempuan aktivis menangkap keinginan Utji, juga awak Dialita lainnya saat latihan, untuk bertemu kembali dengan Eko. Aktivis itu adalah Evi, sosok yang kerap membantu Dialita.

Evi biasa membantu dalam urusan rias ketika Dialita hendak bernyanyi dari satu panggung ke panggung lain.

Saat mendengar keinginan dari ibu-ibu, Evi berusaha melacak keberadaan Eko. Hanya bermodal selembar foto yang pernah diunggah di Facebook Dialita, Evi meluncur ke kawasan Halim, Jakarta Timur, tempat pangkalan taksi Blue Bird.

Foto itu adalah gambar personel Dialita ketika tampil di Kedai Tjikini yang diiringi Eko sebagai pianis. Usaha Evi tak sia-sia. Dia bertemu Eko.

Evi meminta Eko untuk datang ke konser Dialita di Goethe Institute. Agar menjadi kejutan, Eko tetap diminta untuk memakai seragam taksinya.

Malam itu, Eko juga diberi kesempatan untuk memberikan sambutan di atas panggung.

“Saya terkesan dengan kerja kesenian ibu-ibu ini. Sejak pertama, saya merasakan ibu-ibu Dialita ini kuat dan keren,” kata Eko di panggung.

Semua kerinduan anggota Paduan Suara Dialita kepada Eko terbayar lunas malam itu.

Ibu-ibu Dialita tahu betul soal kerinduan, ia adalah percampuran kegetiran dan keriaan, putus asa serta harapan, kesepian dengan keriuhan, pun gelora hidup di tubir kematian.

Jauh sebelum dipertemukan oleh gerak sejarah dalam Dialita, mereka masing-masing mengakrabi kerinduan itu di sel penjara nan dingin.

Tahanan politik tragedi 65 di RTCW Bukit Duri. [Dokumentasi]

Nyanyi sunyi di Bukit Duri

DALAM kerinduan yang tidak bertepi, Utati masygul. Sudah satu tahun dia dijebloskan ke Rumah Tahanan Chusus Wanita Bukit Duri, sejak ditangkap oleh tentara tahun 1967.

Utati tak tahu apa kesalahannya sampai-sampai harus diseret ke sel. Sama seperti perempuan lain di penjara itu, tidak pula ada pengadilan bagi mereka.

Soal penculikan sejumlah jenderal yang melibatkan beberapa kubu dalam TNI AD, sumpah mati Utari tidak tahu menahu.

Satu-satunya yang ia tahu alasan dirinya ditangkap adalah, karena tergabung dalam Pemuda Rakjat—organisasi revolusioner yang mengakui kepemimpinan Partai Komunis Indonesia dan militan mendukung kebijakan progresif Presiden Bung Karno.

Di balik jeruji besi, pikiran Utari terpaku pada sang ibu. Apakah ibunya di kampung sudah tahu, kalau anaknya berada di penjara sebagai tahanan politik? Utati juga mencoba mengingat, bagaimana kebaikan sang ibunda dalam perasaan apa pun.

Apa pun caranya, kerinduan harus dikeluarkan dari alam pikiran. Bila tidak, rasa itu akan membunuh secara perlahan. Begitulah yang dipahami Utari, yang lantas memuntahkan kerinduan terhadap ibu menjadi rangkaian kata dan kemudian menjadi lagu.

Tapi, kalimat demi kalimat kerinduan Utati kepada ibu tidak ditulisnya dalam waktu bersamaan. Tidak ada kertas, tak pula ada banyak waktu, sebab di dalam penjara hanya ada penyiksaan dan pemaksaan.

Terkadang, Utati harus mencari kertas sisa, seperti bungkus sabun karton misalnya. Dengan pensil sisa juga, barulah dia menulis teks itu secara bertahap.

Bila situasi dalam penjara sedang tidak aman, atau terdapat pemeriksaan sel oleh tentara, Utari terpaksa membuang kertas berisi syairnya tentang Ibu.

Ada kalanya juga, Utari sama sekali tidak menuliskan teks syair maupun notasi nadanya, hanya disimpan dalam memori otak.

Dalam penjara, tekad Utari untuk terus memperjuangkan pembebasan manusia dari penindasan sesama manusia terus berkobar, meski hanya bisa mengejawantahkannya dalam lirik-lirik lagu.

Misalnya lagu berjudul Buruh Wanita. Lagu itu didasari kekaguman Utati terhadap perempuan-perempuan kota, yang mampu bekerja apa saja.

Utati masih belia ketika digelandang ke RTCW Bukit Duri setahun sebelumnya, baru berusia 23 tahun.

Awalnya, Utati meninggalkan kampung halaman di Purworejo, Jawa Tengah, ke Jakarta untuk mencari pengalaman hidup dan menempuh studi.

Tapi, perjalanan Utati terhenti pada Sabtu malam, 18 Februari 1967. Serombongan tentara bersenjata mendatangi rumah indekosnya di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat.

Tentara tahu Utari berada di dalam rumah itu setelah mendapat informasi dari temannya yang lebih dulu ditangkap.

Sedari dulu, Utati hobi menari. Saat masih remaja di Purworejo, dia kerap melatih anak-anak kecil untuk menari di panggung merayakan Hari Kemerdekaan RI 17 Agustus.

Bersama saudaranya yang kebetulan guru TK, Utati membikin sejumlah koreografi sederhana, dan diiringi lagu-lagu patriotik.

Tahun terus berganti. Memasuki tahun 1972, Utati masih berada di Bukit Duri. Sedangkan tahanan perempuan lainnya ada yang sudah mendapat jatah pembebasan, maupun dipindahkan menuju Kamp Plantungan, Jawa Tengah.

RTCW Bukit Duri sudah tidak sesesak tahun-tahun sebelumnya. Tahanan perempuan lain, yang usianya di bawah Utati, tiba-tiba merasakan kesepian.

“Mbak, kok ndak ada apa-apa, sepi.”

Lah, sudah ndak ada orang lagi,” jawab Utati.

Akhirnya, sisa tahanan yang masih ada di Bukit Duri mengajak Utati untuk membuat acara agar tidak sepi, kebetulan saat itu hari sudah dekat dengan tanggal 17 Agustus.

Utati, yang memunyai ketertarikan pada seni tari, akhirnya bersepakat mengadakan acara kesenian. Setiap masalah persiapan acara, selalu dibawa dalam diskusi.

“Sopo sing wis ndue not? Waktune wis mepet soale—siapa yang sudah ada notasi? Waktunya sudah mepet soalnya,” kata Utari dalam satu diskusi jelang acara perayaan 17 Agustus di penjara.

“Aku punya Mbak, tapi durung ono lirik’e—Aku punya Mbak tapi belum ada liriknya,” kata salah seorang tahanan.

 “Biarin, nanti aku yang isi liriknya,” jawab Utati.

Begitu pula setiap menjelang Hari Raya Idul Fitri, kesepian maupun kesedihan selalu datang menghujam Utari dan perempuan tahanan politik lain di Bukit Duri.

Tahanan yang masih muda, kisaran usai 14 – 15 tahun, kerap berteriak, merajuk.

“Kapan kita pulang?”

“Kapan kita bebas?”

“Kok kita masih di sini?”

Kesedihan mereka semakin diperparah dengan jatah makanan harian yang tidak laik dikonsumsi. Tak jarang, Utari menyaksikan kawannya menangis saat mencuci beras.

Sebab, beras yang diberikan tentara kepada tahanan selalu sudah dicampur pasir dalam jumlah yang banyak.

Utati juga menyaksikan kawan-kawannya tak kuat menahan lapar. Jatah makan mereka terlampau sedikit, sehingga seringkali mereka dilanda kelaparan.

“Siapa punya nasi lebih?”

“Ada yang punya sisa nasi ndak?”

“Aku lapar sekali.”

Siti Jus Djubariah, kawan Utati di Penjara Bukit Duri merekam serangkaian kepedihan itu menjadi lirik lagu saduran.

Lagu itulah yang sering mereka nyanyikan ketika lapar, disiksa, ataupun saat dirajang kesedihan, sehingga semangat hidup bisa kembali menyala.

Kelak, lagu itu diberi judul Ujian dan selalu didendangkan Paduan Suara Dialita.

Dari Bukit Duri ke Plantungan, dari Mawar Merah ke Relakan

DERAP sepatu lars tentara bersenjata lengkap memecah sepinya malam di rumah Mudjiati, Slipi, Jakarta Barat, pada bulan-bulan terakhir 1965.

Gerombolan orang bersenjata mendobrak pintu rumah dan langsung mengumpulkan Mudjiati sekeluarga ke sebuah ruangan, termasuk sang ayah.

“Kami mencari alat pencungkil mata, kalian simpan di mana?”

“Tidak ada alat itu di sini,” jawab ayah Mudjiati.

“Kamu jangan bohong! Bawa sini alat yang dipakai mencungkil mata jenderal kami di Lubang Buaya, cepat!”

“Ayah saya jujur, tidak ada alat itu. Lubang Buaya itu di mana?” jawab Mudjiati kepada tentara.

Malam itu, ayah Mudjiati dibawa oleh tentara. Selang dua pekan, tentara datang lagi. Kali ini mereka membawa Mudjiati yang baru berusia 17 tahun.

“Kamu ternyata anggota Pemuda Rakjat ya, ayo ikut!”

Mudjiati dibawa ke kantor koramil di kawasan Jatibaru, Jakarta Pusat. Di koramil, dia hanya diinapkan satu malam. Selanjutnya Mudjiati dibawa ke Markas Kodim 0501, di sana di bertemu sang ayah.

Ayah Mudji hanya orang biasa, bukan anggota organisasi massa sehaluan, apalagi kader PKI. Karena itu, ayahnya dipulangkan tentara.

Sementara Mudji bernasib lain. Status anggota Pemuda Rakjat membawa tubuhnya merasakan siksaan serta pemenjaraan di Bukit Duri.

“Kamu ikut menyilet tubuh jenderal kami?” kata tentara pemeriksa.

“Saya tidak tahu.”

“Jangan bohong! Kamu ikut mencungkil mata?”

“Saya tidak tahu menahu.”

“Kamu yang menari telanjang di Lubang Buaya ya?”

“Lubang Buaya itu di mana?” 

Jawaban jujur Mudji maupun perempuan-perempuan lain yang ikut ditahan itu tak memuaskan para tentara, sehingga mereka akhirnya disiksa.

Di antara para tahanan, banyak perempuan yang sudah menikah dan sedang hamil. Misalnya yang akhirnya dikenal baik oleh Mudji ialah Mulyani, Muryati, dan Fatimah.

Ketika datang waktu melahirkan, proses persalinan dilakukan seadanya. Tak ada dokter yang disediakan, hanya ada tahanan lain yang sebelumnya berprofesi sebagai bidan. Sedangkan alat-alat medisnya, tidak lengkap.

Setelah dilahirkan, bayi-bayi itu tumbuh kembang di balik jeruji bersama sang ibu. Mereka juga ikut menjadi saksi banyak peristiwa keji terhadap sang bunda di dalam terungku.

Tahun terus berganti. Pembebasan tahanan di Bukit Duri dilakukan setiap pergantian tahun. Sepanjang 1967 sampai 1968, Mudji terus mengantre, namun dia tidak kunjung masuk dalam daftar tahanan yang mendapat jatah pembebasan.

Memasuki tahun 1970, lagi-lagi Mudji tidak kunjung mendapat jatah pembebasan. Hingga akhirnya, tahun 1971 Mudji bersama tahanan lain dipindahkan ke Kamp Plantugan, Jawa Tengah.

Pemindahan sejumlah tahanan dari RTCW Bukit Duri ke Kamp Plantungan dibagi dalam dua golongan. Golongan pertama berangkat bulan April. Sedangkan Mudji masuk golongan kedua yang diberangkatkan bulan Juli.

Para tahanan yang masuk dalam golongan pertama hatinya berkecamuk. Mereka belum mengetahui ke mana akan dipindahkan.

Satu di antara sekian banyak tahanan yang akan dipindah dalam gelombang pertama adalah Zubaidah Nungtjik AR.

Zubaidah adalah relawan pembebasan Irian Barat yang menjadi guru di Serui. Ketika pulang ke Jakarta setelah Gestok, dia ikut ditangkap dan diangkut ke Bukit Duri. Padahal ia tak tahu menahu apa pun soal peristiwa itu.

Tak hanya Zubaidah, sedikitnya dua perempuan lain yang sempat bertugas di Papua juga ikut ditangkap dan dipenjarakan di Bukit Duri.

Dua perempuan ini, satu pernah bertugas di Jayapura dan yang lain di Sorong, masing-masing sudah memunyai anak sehingga buah hatinya pun ikut terpenjara.

Untuk menyemangati tahanan yang akan diberangkat pertama, Zubaidah menggubah lagu agar kawan-kawannya tetap bersemangat meski belum mengetahui nasib selanjutnya.

Di kemudian hari, lagu ciptaan Zubaidah itu diberi judul “Relakan” dan kerap dinyanyikan Paduan Suara Dialita.

***

CINTA kerap datang pada waktu yang tak tepat, begitulah, Mudji baru merasakan menggebu-gebunya asmara ketika dipenjarakan rezim Soeharto di Bukit Duri.

Sebelum dipindah ke Plantungan, Mudji ditempatkan di blok dapur Penjara Bukit Duri. Artinya, sehari-hari dia harus berurusan dengan sektor domestik: memasak dan menyiapkan makanan bagi sesama tahanan.

Untuk urusan bahan baku makanan, tahanan di Bukit Duri kerap mendapatkan kiriman sayur dari Rumah Tahanan Chusus (RTC) Salemba, Jakarta Pusat—tempat khusus bagi tahanan lelaki.

Tahanan lelaki dari RTC Salemba yang mendapat jatah mengirim bahan baku juga kerap dimintakan bantuan untuk urusan kelistrikan di RTCW Bukit Duri.

Mudji mengenal satu tahanan lelaki yang kerap mengantar bahan makanan ke Bukit Duri. Mudji memanggil lelaki itu dengan sebutan ‘Mas Kakang’.

Cinta di antara keduanya tumbuh karena mereka sering bekerja bersama seperti menggotong bayam dari mobil ke dalam penjara. Juga karena Mas Kakang kerap diminta bantuan untuk mengurusi  listrik dan tata suara untuk acara kesenian di penjara Bukit Duri.

Suatu waktu, Mudji yang sedang berkegiatan di dalam penjara, tiba-tiba dipanggil oleh kepala blok. Dalam genggaman tangan si kepala blok, ada setangkai mawar berwarna merah.

“Kamu dapat mawar,” kata kepala blok berbisik kepada Mudji.

“Dari siapa pak?”

“Mas Kakang kamu itu. Dia tadi memetik mawar di depan sana. Dia menitipkan ke saya, katanya buat kamu.”

Tahanan yang lain dihinggapi kehebohan karena mawar itu. Salah satu tahanan bernama Sri Sulistyawati, menulis puisi berjudul Mawar Merah.

Lalu, Zubaidah Nungtjik memberikan notasi untuk kemudian menjadikan puisi itu sebagai lagu. Bersama-sama, tahanan sering menyanyikan lagu itu di dalam penjara, yang kerap membuat pipi Mudji memerah karena malu sekaligus bangga.

Namun, kisah cinta Mudji dan Mas Kakang tak seindah lagunya. Sebab, tak lama setelah menerima mawar, Mudji dipindahkan ke Kamp Plantungan.

Di rumah tahanan bekas tempat penampungan para penderita penyakit lepra pada masa kolonial Belanda itu, sepucuk surat datang dari Mas Kakang teruntuk Mudji.

Sebait kalimat dalam surat itu berbunyi: Mudji, maaf saya tidak bisa menunggu kamu, saya sudah menikah.

Kami akan terus bernyanyi

PEREMPUAN bernama lengkap Utjikowati duduk di sebuah bangku dalan rumah kawasan Beji, Depok.

Pada dinding di belakang tempat duduk perempuan berusia 69 tahun itu, terpajang poster sampul buku Anna Karenina karya Leo Tolstoi, dan Pramoedya Ananta Toer, Dari Dekat Sekali.

Buku yang disebut pertama diterjemahkan almarhum Koesalah Soebagyo Toer, suami Utati Koesalah. Sementara buku kedua adalah karangan asli Koesalah. Di rumah itu, Utati bersama anak dan cucunya tinggal.

Rumah itu juga adalah tempat perjumpaan banyak hal. Tempat bertemunya para penyintas 65, latihan paduan suara Dialita, sekaligus tempat perjumpaan saya, Hyoga, Utji, Utati, dan Mudjiati tepat pada hari Senin 20 September 2021.

Dalam persamuhan, Utati dan Mudji mengakui pasti menangis kalau Paduan Suara Dialita menyanyikan lagu berjudul Relakan, baik saat latihan atau di atas panggung.

Sebab, ingatan kedua perempuan itu selalu melayang ke sosok Zubaidah, sang pencipta lagu.

Mudji menuturkan, satu bait lirik lagu Relakan akan selalu membuatnya menangis. Potongan lagu yang dimaksud adalah: Kita pasti berjumpa di alam bebas merdeka.

Potongan lirik itu menjadi sangat sentimentil bagi Mudji, karena dia tidak lagi bisa berjumpa dengan Zubaidah seusai keduanya bebas dari Kamp Plantungan.

Dia mengungkapkan, Zubaidah tidak lagi diizinkan berjumpa dengan para penyintas 65 oleh keluarganya setelah bebas.

"Ternyata, setelah bebas, dia (Zubaidah) seperti terpenjara lagi," kata Mudji.

"Saya kalau pas latihan, nyanyi Relakan suka nangis. Sekarang dia berusia 80 tahun, sudah sepuh," tambah Utati.

Langit Depok sudah gelap. Magrib menjelang. Utati, Mudji, dan Utji masih menemani saya mengobrol tentang banyak hal.

Saya melemparkan sebuah pertanyaan, buat mereka bertiga, "Sejauh mana musik bisa menghadirkan perasaan lain dari diri ibu-ibu sekalian?"

Utati sejenak terdiam. Dia mengaku tidak bisa merumuskan secara singkat soal makna musik bagi kehidupan dan tubuhnya.

Selang beberapa detik, dia mengatakan musik tidak sekadar kebutuhan hidup. Baginya, segala bunyi, entah apa pun itu, bisa dimaknai dalam hati.

“Menurut saya, musik itu tidak sekadarnya, kemudian sebuah kebutuhan hidup."

Ujti punya jawaban lain. Bagi dia, musik bisa menentramkan hati. Musik bisa membuat jiwa Utji menjadi sejuk ketika resah melanda.

Musik bisa membikin hidup Utji menjadi lebih bersemangat, tentunya bersama Dialita. Hingga pada akhirnya, Utji bisa menjadikan musik sebagai alat perjuangan, ketika keresahan adalah milik bersama.

"Saya juga memperoleh sebuah pengalaman yang berharga karena mengajarkan saya bahwa musik itu bisa untuk menyampaikan perasaan, juga perjuangan," kata Ujti.

Bagi dia, perjumpaannya dengan sesama kawan penyinta 65 dalam Dialita adalah jalan panjang agar memahami penderitaan adalah milik bersama, bukan sepatutnya untuk ditangisi seorang diri.

Mungkin, lanjut Utji, jika saat itu dia tidak berjumpa dengan para penyintas 65 lain, dirinya akan tetap merasa paling menderita, hidup sendiri, dan tidak punya teman.

Perjumpaan itulah yang kemudian melahirkan sebuah gagasan untuk melakukan kerja-kerja sosial secara kolektif. Disebabkan perjumpaan, sebuah ide untuk mengumpulkan barang bekas dan menjualnya kembali akhirnya lahir.

Dalam kegiatan menyortir pakaian bekas, sebagian ada yang bernyanyi. Celetukan ringan akhirnya keluar dari mulut salah satu ibu, yaitu membikin grup paduan suara Dialita.

“Jadi sederhana sekali tujuan awalnya,” ucap Utji.

Mudji, yang sama-sama berada di usia senja seperti Utati dan Utji, merasa segala persoalan yang membelenggu hilang seketika jika berjumpa dengan anggota Paduan Suara Dialita.

Kesesakan dalam hatinya menjadi taman berbunga, ketika perjumpaan menjadi upaya mencari bahagia lewat sebuah cara, yaitu bernyanyi bersama.

"Jadi kalau kita punya masalah, berjumpa bernyanyi, kesesakan bisa hilang," tutur Mudji.

Kartu memori penyimpanan yang dibawa Hyoga—videografer Suara.com—hampir habis kapasitasnya. Hampir tiga jam, dua unit kamera yang dia bawa terus menyala, merekam obrolan antara saya dengan mereka bertiga: Utji, Utati, dan Mudji.

Namun, Hyoga masih menyisakan sedikit ruang dalam memori penyimpanan pada kameranya untuk merekam sebuah peristiwa.

Utji, sebelum perjumpaan di rumah Koesalah terjadi, dalam pesan singkatnya menjanjikan saya untuk bernyanyi.

Semula, saya meminta kawan-kawan Dialita untuk melantunkan lagu berjudul Ujian atau Relakan.

Tapi, Utji, bersama Utati dan Mudji memilih lagu lain. Mereka menyanyikan Lagu Untuk Anakku, sebuah tembang yang juga masuk dalam album Dunia Milik Kita.

"Jangan nyanyi yang sedih-sedih ya. Malam ini kita nyanyi lagu yang bisa membikin kita semua bahagia," kata Utji.

Saya bangkit dari bangku. Hyoga melepaskan dua buah kamera yang terpasang pada tripod. Mudji, Ujti, dan Utati bersiap.

Saya mencoba sedikit menyibukkan diri. Setidaknya saya membantu Hyoga mengarahkan lampu ke tempat Utji, Utati, dan Mudji akan bernyanyi.

Utati mengambil posisi tengah. Utji sebelah kiri, jika dilihat dalam posisi tempat saya dan Hyoga berdiri. Sedangkan Mudji di sebelah kanan. Setelah tarikan napas pertama, mereka langsung bernyanyi.

Komentar

terkini